Kebo Nyusu Gudel di Era Digital

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, saya pikir-pikir, kita ini seperti masuk dalam zaman kebo nyusu gudel, ya?” begitu curhat teman saya.

Kebo itu kerbau. Nyusu itu menyusu. Gudel itu anaknya kerbau. Loh, kan harusnya gudel yang nyusu ke kebo?” saya balik bertanya.

“Maksud saya begini; banyak orang tua yang kalah canggih dibanding anak-anak dalam penguasaan skill teknologi. Orang tua justru minta pengetahuan dari anaknya, bahkan berguru pada anaknya. Ini sudah sangat saya rasakan. Literasi digital saya jauh lebih rendah dibanding literasi digital anak-anak saya.”

“Oh, kalau soal itu, saya 90 persen sependapat. Makanya, orang tua zaman sekarang perlu meningkatkan literasi digital. Skill ini, plus kebijaksanaan orang yang pikirannya sudah matang, akan lebih bagus digunakan untuk membimbing anak-anak agar tidak salah langkah di era superhighway information technology.”

…………..

Pembaca yang budiman, terkait curhatan teman saya itu, saya jadi teringat pesan yang disampaikan Profesor Ranjana Das dari Universitas Surrey, Inggris. Setelah melakukan penelitian, Profesor Media dan Komunikasi ini menyarankan agar para orang tua zaman sekarang diajari cara lebih memahami lanskap media sosial yang semakin berkembang pesat dan menerapkan algoritma canggih.

Profesor Das dan timnya menyelidiki bagaimana orang tua menafsirkan dan menavigasi algoritma media sosial yang umum bagi pengalaman digital anak-anak. Penelitian mereka menemukan, usia anak membentuk perspektif orang tua mereka terhadap algoritma suatu platform. Misalnya, orang tua balitanya suka menonton YouTube, meski merasa khawatir, sering menganggap kekhawatiran ini sebagai masalah di masa depan.

“Ayah dan ibu terlibat dengan begitu banyak platform dalam aktivitas sehari-hari sebagai orang tua. Dalam penelitian, kami ingin melihat bagaimana mereka memahami dan berinteraksi dengan algoritma yang menentukan penyajian konten di platform tersebut pada diri mereka sendiri dan pada anak-anak mereka,” kata Prof Das.

Maka, tim peneliti mewawancarai 30 orang tua yang membesarkan anak-anak usia 0 hingga 18 tahun di berbagai penjuru Inggris. Penelitian menemukan empat pola berbeda tentang cara orang tua memahami algoritma media sosial.

  • Misunderstandings: Orang tua semacam ini sering gagal paham. Ia sering memiliki asumsi yang keliru tentang cara kerja algoritma. Misalnya, ia kesulitan memahami rekomendasi konten YouTube untuk anaknya, sehingga asal-asalan mengarahkannya ke subscribe.
  • Parked understanding: Orang tua macam ini sebenarnya memiliki kesadaran dan paham tentang algoritma, namun merasa kekhawatirannya dapat ditunda sejenak sampai ketika si anak sudah agak besar. Ia menamakan ini sebagai ‘masalah masa depan’.
  • Transactional understandings: Orang tua bisa menerima pengaruh algoritma sebagai bagian dari kehidupan modern. Beberapa orang tua sudah menggunakan filter anak, tetapi ia merasa pasrah dengan peran algoritme karena sulit dikontrol.
  • Proactive understandings: Orang tua jenis ini paham betul dan siap mengambil tindakan segera untuk mengatasi dampak algoritmik terhadap anak. Misalnya, ia secara aktif memantau rekomendasi YouTube agar anaknya menandai konten-konten yang tidak pantas.

Empat klasifikasi ini mencermnkan level literasi digital orang tua di masa sekarang. Maka, Profesor Das berpesan, “Kami ingin temuan ini membantu para pembuat kebijakan merancang strategi untuk mendorong data digital dan literasi digital yang lebih baik di kalangan populasi orang dewasa. Jangan sekadar menyalahkan orang tua tidak sangat melek media. Kita bersama perlu menemukan cara untuk mendukung orang tua, pengasuh, dan keluarga untuk menavigasi dan menegosiasikan dunia yang berbasis data.”

Saya sependapat dengan Prof Das. Para orang tua harus turut meningkatkan literasi media digital demi kesejahteraan anak di masa mendatang. Pemahaman yang tinggi ini agar kita tidak lagi seperti kebo nyusu gudel, tapi kebo yang menyusukan pencerahan pada gudel.

Facebook Comments

Comments are closed.