Yang Kompeten Tidak Cukup Pede, Yang Tidak Kompeten Terlalu Pede

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Suami saya, saat jadi voluntir pasca bencana alam, bergabung dengan sekelompok orang yang baru dikenalnya dalam upaya memperbaiki pipa saluran air warga setempat. Karena tidak paham teknik, ia meminta relawan lain memulai pekerjaan dan ia siap membantu. Lalu, muncul seseorang yang mengaku terbiasa menangani pipa di rumahnya dan siap memimpin upaya penyambungan pipa di kawasan bencana. Tapi, setelah beberapa saat, ia tetap gagal menyambungnya. Tak lama, ada relawan lain yang sejak tadi tak banyak bicara. Ia langsung mengeluarkan korek api dan membakar salah satu ujung pipa hingga agak lunak dan menyodokkan pipa lain ke dalam pipa yang ujungnya dibakar itu sehingga keduanya tersambung dengan baik. Relawan yang tadinya pendiam itu langsung dapat pujian.

Pembaca yang budiman, pernahkah Anda mengalami hal serupa?

Ya, dalam pertemuan sejumlah orang, lebih-lebih saat baru pertama kali bertemu, bisa dijumpai orang yang tampak sangat percaya diri meski ia tidak kompeten dalam bidang tertentu, dan orang yang sangat kompeten tapi berpenampilan biasa-biasa saja.

Pada tahun 1999, peneliti David Dunning dan Justin Kruger mengidentifikasi fenomena psikologis di mana individu dengan tingkat kompetensi atau kecerdasan rendah cenderung memiliki penilaian yang terlalu tinggi terhadap kemampuan mereka sendiri, dan individu yang lebih cerdas atau kompeten cenderung merasa kurang percaya diri atau meremehkan kemampuan mereka sendiri. Maka, kondisi ini dinamakan Dunning-Kruger Effect.

Penelitian mereka mengungkap, orang dengan kemampuan rendah dalam sejumlah bidang, dari keterampilan sosial hingga pengetahuan akademik, sering kali menganggap dirinya jauh lebih kompeten daripada diri ia yang sebenarnya. Ibaratnya; tong kosong, nyaring bunyinya. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang sejauh mana ia sebenarnya tahu atau mampu melakukan sesuatu.

Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi di berbagai bidang seringkali merasa biasa saja terhadap kemampuannya sendiri yang dianggap orang lain sangat hebat. Ibarat padi, makin tua makin menunduk. Orang yang lebih kompeten dalam suatu bidang cenderung memiliki pemahaman lebih baik tentang sejauh mana kemampuannya dan ia tetap merasa ada hal-hal yang perlu dipelajari atau ditingkatkan.

Ambil contoh, ketika sekelompok orang berpartisipasi dalam diskusi atau debat tentang topik tertentu. Biasanya, peserta yang kurang kompeten dalam bidang tersebut justru merasa sangat percaya diri dengan pandangan mereka bahkan saat argumen mereka tidak didasarkan pada fakta atau pengetahuan yang kuat. Mereka bisa jadi meremehkan atau mengabaikan pandangan orang lain yang lebih kompeten.

Saat saya berdiskusi dengan suami, ada beberapa hal yang bisa kami tarik dari pengalamannya saat jadi relawan bencana yang dikaitkan dengan Dunning-Kruger Effect. Kami menyimpulkan, efek ini memiliki beberapa implikasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengambilan keputusan dan interaksi sosial. Kita perlu hati-hati pada orang yang tampak terlalu percaya diri tapi tidak kompeten, karena keputusan yang diambil bisa salah dan menyebabkan risiko bagi orang lain.

Pelajaran bagi diri sendiri yang bisa diambil dari Dunning-Kruger Effect adalah pentingnya memiliki kesadaran diri tentang kemampuan dan batasan diri kita sendiri. Ini memungkinkan kita lebih objektif mengevaluasi diri sendiri dan mengidentifikasi area di mana kita perlu memperbaiki diri. Kesadaran diri juga membantu kita untuk tidak terlalu percaya diri (tidak sombong) atau terlalu meremehkan kemampuan kita.

Efek ini juga menunjukkan kita tidak boleh berhenti belajar atau merasa sudah ‘tahu segalanya’. Penting untuk selalu mencari pengetahuan baru dan mengembangkan keterampilan kita. Hanya dengan belajar secara berkelanjutan kita dapat meningkatkan kompetensi dalam berbagai bidang.

Dunning-Kruger Effect juga menekankan pentingnya memiliki rasa percaya diri yang seimbang. Terlalu banyak percaya diri dapat mengarah pada perilaku yang arogan dan meremehkan orang lain. Kurangnya percaya diri dapat menghambat kemampuan kita untuk mencapai potensi maksimal. Maka, mencari keseimbangan antara percaya diri dan kerendahan hati adalah kunci untuk sukses.

Facebook Comments

Comments are closed.