Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Karena saya dalam masa berkabung, perkenankan saya menulis sesuatu terkait mimpi tentang orang yang meninggal. Sepanjang yang saya tahu, memimpikan orang terkasih dari alam lain adalah bagian alami dan sehat dari proses berkabung. Mimpi semacam ini bisa mendorong refleksi lebih dalam tentang pertanyaan eksistensial terkait kematian, jiwa, dan akhirat.
Kebetulan ada studi terbaru dari Pew Research Center yang mengungkapkan bagaimana orang Amerika memimpikan kerabat yang telah meninggal. Temuan ini berkaitan dengan temuan lain dalam sejumlah penelitian sebelumnya tentang mimpi. Secara keseluruhan penelitian-penelitian ini menunjukkan, mimpi bertemu orang terkasih yang sudah meninggal adalah fenomena sejarah lintas budaya yang secara luas memiliki dampak kuat pada si pemimpi.
Survei melibatkan 5.079 orang dewasa yang menjawab pertanyaan dalam Panel Tren Amerika di Pew Research Center antara 27 Maret dan 2 April 2023. Peserta penelitian ditanya apakah pernah merasa ada keluarga yang telah meninggal yang mengunjungi mereka dalam mimpi atau bentuk lainnya. Analisis menunjukkan, 46% dari mereka pernah dikunjungi oleh anggota keluarga yang meninggal dalam mimpi.
Responden kaum wanita lebih banyak (56%) bermimpi dibandingkan pria (36%), orang kulit hitam (45%) dan orang Hispanik (53%) lebih mungkin bermimpi dibandingkan orang kulit putih (42%), dan orang dengan komitmen agama tinggi (38%) atau komitmen agama rendah (33%) lebih kecil kemungkinan bermimpi dibandingkan orang dengan komitmen agama sedang atau biasa-biasa saja (54%).
Dua temuan pertama konsisten dengan penelitian lain mengenai perbedaan gender dan ras/etnis dalam pengalaman mimpi. Yang saya perlu tekankan, mimpi bertemu orang yang telah meninggal dapat mempunyai dampak psikologis dan spiritual.
Secara psikologis, mimpi seperti ini merupakan bagian dari proses berduka atas kehilangan orang yang dicintai. Sampai-sampai, orang bisa terbangun dari tidur akibat mimpi ini lalu merasa sangat yakin oleh pengalaman hubungan emosional berkelanjutan dengan orang yang sudah meninggal meskipun sudah kehilangan kehadiran seara fisik. Maka, melalui mimpi, orang bisa belajar bagaimana memperbaharui rasa kehidupan yang koheren secara psikologis terhadap orang yang telah tiada namun terasa selalu hadir.
Dampak spiritual muncul setelah bangun. Biasanya, pikiran sadar orang yang bermimpi itu dipenuhi serangkaian pertanyaan eksistensial: Apa hakikat kematian? Apa sejatinya ruh kita? Apa itu akhirat? Apa realitas hidup kita? Manusia selalu bertanya-tanya tentang implikasi lebih besar dari mimpi tentang orang mati. Sampai-sampai, antropolog E.B. Tylor, dalam Primitive Cultures tahun 1873, berargumen bahwa mimpi adalah sumber utama keyakinan dan gagasan agama.
Apakah Anda pernah didatangi orang-orang terkasih dari alam sana lewat mimpi? Jika pernah, bagaimana perasaan Anda setelah bermimpi? Tampaknya, kita bisa berdiskusi lebih panjang tentang pengalaman mimpi semacam ini agar mendapatkan pemahaman lebih mendalam.


