Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seorang mamah senior ngobrol dengan saya tentang anak remajanya yang sukanya melek malam dan siangnya tidur melulu. Dia bilang, kebiasaan itu mulai tampak saat lockdown pandemi COVID-19 dan berlanjut saat kuliah hingga kini.
“Kebiasaannya nggak seperti orang normal. Saya takut itu tidak baik bagi kesehatannya, termasuk pergaulannya dengan masyarakat,” kata dia.
“Sholatnya, bagaimana?”
“Ya, dia bangun saat waktunya sholat Ashar atau Dhuhur. Biasanya setelah itu makan lalu tidur lagi. Sorenya, ia bisa melek sampai Subuh.”
“Wah….”
…………
Pembaca yang budiman, ada banyak hal yang saya obrolkan dengan mamah senior ini. Antara lain saya katakan, pilihan antara suka tidur malam lalu bangun pagi atau melek malam lalu tidur pagi hingga siang itu tergantung pada preferensi dan jadwal individu. Kedua pola tidur ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Tidur malam dan bangun pagi memiliki banyak manfaat. Bangun pagi, kita bisa mendapatkan perasaan segar dan energi untuk memulai hari menjalani rutinitas seperti umumnya manusia. Pola tidur ini lebih sinkron dengan jadwal sosial dan kerja sebagian besar manusia pada pagi dan siang hari.
Tapi, ada juga sejumlah kecil orang yang begadang dan bangun siang karena merasa lebih produktif atau aktif di malam hari. Bisa jadi ia merasa lebih terinspirasi saat kebanyakan orang lain sedang tidur. Lebih-lebih, globalisasi memungkinkan ia menggarap proyek-proyek pekerjaan ‘dari balik bumi’.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan ciri khas individual, usahakan tetap membangun rutinitas tidur yang seimbang dan konsisten. Waktu tidur usahakan sekitar tujuh jam dan berkualitas untuk menjaga kesehatan dan kinerja optimal.
Mengapa mempertimbangkan ciri khas individual? Karena memang sebagian dari kita memiliki gen melek malam. Setidaknya, ada 351 wilayah genom yang memengaruhi apakah seseorang lebih suka begadang atau lebih suka bangun pagi.
Studi di Inggris ini membandingkan data genomik atas kebiasaan tidur para peserta penelitian. Peneliti menganalisis genom 700.000 orang, menggunakan data dari perusahaan genomik swasta 23andMe dan Biobank di Inggris. Mereka menemukan, daerah genom yang relevan dengan kebiasaan melek malam termasuk gen-gen yang terlibat dalam metabolisme dan jam biologis, serta gen yang berfungsi di retina mata.


