Pembelajaran Online Itu Sama Menariknya Jika Dilakukan dengan Benar

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Kemenakan saya, yang baru diangkat jadi guru di sekolah besar, ngobrol dengan saya soal salah satu tugasnya. Ia diminta mengisi materi untuk Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) lima sekolah di lima kota berbeda. Agar efisien, materi disampaikan secara online.

“Bagus, kan? Sesuai dengan aktivitasmu kala kuliah dulu. Jadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, aktif di unit kegiatan kampus, top di organisasi luar kampus.”

“Bukan itu masalahnya. Justru soal mengajar online itu yang saya mau bicarakan. Saya terbiasa di lapangan offline.”

“Lha, masa pandemi kemarin kan semuanya serba online?”

“Iya. Tapi, waktu itu saya belum jadi guru.”

“Oh, iya. Maaf.”

“Saya ini nggak pede, apakah materi online saya bakal menarik minat para murid?”

“Tenang, tenang, pasti menarik. Saat awal presentasi, langsung paparkan siapa dirimu dan bagaimana pengalamanmu. Buat semua peserta terpesona oleh pengalamanmu di organisasi. Dari situ akan muncul semacam otoriasi bahwa kamu memang layak untuk jadi trainer kepemimpinan.”

“Tentu. Itu pasti. Tapi, bagaimana membuat anak-anak jadi tertarik dan terlibat dalam pembelajaran online jika saya tidak bisa memandangi mereka satu-per-satu?”

“Jangan khawatir. Ada penelitian di Jerman yang mengisyaratkan, pembelajaran online itu tak kalah menariknya dibanding pembelajaran offline sepanjang caranya pas. Harus pakai cara interaktif.”

“Bagaimana hasil penelitian itu?”

“Ini penelitian era pandemi kemarin di Ruhr University Bochum di Jerman. Sampling-nya para mahasiswa fakultas kedokteran. Peneliti utamanya Morris Gellisch pakar biologi yang mempelajari perilaku, stress, dan pembelajaran. Hasilnya diterbitkan di Anatomischer Anzeiger, April 2023.”

“Hasilnya bagaimana?”

“Respondennya dibagi dua; kelompok kuliah offline dan kelompok kuliah online via Zoom. Untuk mengukur tingkat keterlibatan, kadar hormon kortisol dan denyut jantung mereka dicek. Dasarnya, stress kecil itu pertanda baik karena menunjukkan para mahasiswa bersiap menghadapi tantangan pembelajaran.”

“Terus?”

“Yang kuliah offline, jelas mahasiswanya mengalami stress kecil karena harus selalu siap menjawab pertanyaan dosen di sela pembelajaran. Yang online, ada yang biasa-biasa saja dan ada yang mengalami stress kecil. Yang biasa-biasa saja terjadi saat kuliah disampaikan hanya dengan ceramah. Yang stress kecil terjadi saat kuliahnya interaktif. Jadi, pembelajaran online bakal sama menariknya dengan pembelajaran offline jika disampaikan secara interaktif.”

“Wah, ide ini bisa diterapkan dalam LDKS saya nanti. Tapi, interaktifnya yang bagaimana?”

“Kalau dalam penelitian ini, Gellisch membuat suasana Zoom di kelasnya menjadi mirip kelas offline. Misalnya, mahasiswa memeriksa sampling di aplikasi mikroskop virtual seperti mahasiswa menggunakan mikroskop beneran di laboratorium. Selain ceramah, dosen juga mengajukan pertanyaan untuk mengetahui daya serap mahasiswa. Juga ada sesi diskusi antar mahasiswa secara online.”

“Oh, baik. Kalau begitu, saya segera menyiapkan materi interaktif untuk LDKS nanti. Terima kasih, Mbak.”

“Iya. Jangan mau kalah sama trainer via internet yang menawarkan pembelajaran new age skill. Coba intip cara pembelajaran online kursus fotografi, kursus ekspor, kursus hipnosis dan lain-lain. Ambil metode mereka agar kelasmu tak kalah menarik.”

“Siap, Mbak.”

Facebook Comments

Comments are closed.