Memahami Isi Hati Anak Kecil Lewat Emoticon

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang guru, masih muda dan baru direkrut untuk mengelola TK/PAUD, curhat pada saya.

“Jujur saja, saya ini kadang masih bingung memahami kemauan anak-anak. Di kelas, jumlah mereka banyak dan masing-masing punya karakter berbeda. Saya kesulitan berkomunikasi dari hati-ke-hati dengan mereka,” di mengaku begitu.

“Oh, itu masalah pengalaman. Pada awalnya, memang begitu. Nanti, setelah sering berinteraksi, kau juga akan punya naluri untuk memahami anak-anak,” saya membesarkan hatinya.

“Tapi, saya kan belum punya banyak pengalaman. Bagaimana metodenya agar saya bisa memulai komunikasi efektif dengan anak-anak?”

“Ada banyak cara. Tapi, coba yang satu ini dulu ya,” saya memberi usulan. “Karena tidak semua anak suka berbicara, cobalah gali perasaan atau kemauan mereka lewat emoticon.”

………..

Pembaca yang budiman, saran saya di atas berdasarkan artikel yang ditulis pakar dari University of Exeter di Inggris. Penelitian mereka menunjukkan, kuesioner sederhana berdasarkan ekspresi wajah gaya emoticon dapat membantu guru atau orang lain untuk melibatkan anak-anak berusia empat tahun menuju tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan mereka di kelas.

Anak-anak kecil lebih suka dan lebih cepat memahami gambar-gambar sederhana dengan warna cerah daripada kata-kata yang terlalu abstrak. Gambar-gambar emoticon bisa melambangkan ekspresi wajah gembira, sedih, mau/setuju, menolak, marah, tenang, dan lain-lain. Diajarkan sebentar, anak akan cepat memahami dan bisa mempraktikkannya.

Para ahli di Fakultas Kedokteran, University of Exeter, merancang kuesioner The How I Feel About My School (bagaimana perasaan saya tentang sekolah saya). Kuisener itu berisi pertanyaan sederhana dengan menggunakan pilihan jawaban berupa tiga wajah emoticon senang, baik atau sedih. Tujuannya meminta anak-anak mengungkapkan perasaan mereka dalam tujuh situasi, termasuk; dalam perjalanan ke sekolah, saat di kelas dan saat di taman bermain. Kuisener ini dirancang untuk membantu guru dan orang lain untuk berkomunikasi dengan anak-anak tentang emosi yang kompleks.

Tamsin Ford, Profesor Psikiatri Anak dan Remaja di Fakultas Kedokteran Exeter, memimpin pembuatan desain kuisener itu. Ia bersama tim melibatkan anak-anak saat membuat kuesioner mana. Anak-anak diminta memberikan umpan balik tentang gaya kuisener yang paling cocok dengan mereka. Nah, yang paling cocok dan mudah dipahami ternyata yang pakai emoticon.

Profesor Ford menjelaskan, “Ketika kami melakukan penelitian di sekolah, sangat sulit menilai secara bermakna tentang bagaimana perasaan anak-anak yang masih sangat kecil. Kami tidak dapat menemukan apa pun untuk menyediakan data yang kami butuhkan. Jadi, kami memutuskan untuk membuat sesuatu. Kuisener dengan emoticon.”

Facebook Comments

Comments are closed.