Kaum Beda Orientasi Seksual Cenderung Kena Masalah Kesehatan Mental

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada kabar tentang hasil survei terkait gerakan global masif *GB*Q. Pembaca yang budiman, saya tidak merasa perlu mengomentari berita yang ditulis Cara Murez reporter Health Day News ini. Demi sikap netral, saya turunkan terjemahannya saja. Monggo dinilai sendiri isinya.

Dalam berita yang diturunkan 14 Juni 2023, HealthDay News mengabarkan hasil penelitian bahwa kaum le*bian, ga*, dan bise*sual mengalami lebih banyak masalah kesehatan mental dan penggunaan zat semacam narkoba, daripada kaum heteroseksual normal.

Menurut laporan pemerintah Amerika Serikat yang dirilis sehari sebelumnya, masalah kesehatan mental ini termasuk episode depresi berat, pikiran serius untuk bunuh diri, dan lebih banyak penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Survei Nasional tentang Penggunaan Narkoba dan Kesehatan memasukkan pertanyaan tentang orientasi seksual sejak 2015. Pada laporan edisi 2021-2022 dari Administrasi Layanan Penyalahgunaan Zat dan Kesehatan Mental Amerika Serikat (SAMSHA) pertanyaan itu hanya berfokus pada orang-orang yang lesb*an, *ay atau bi*eksual. Namun, survei tersebut sudah mencakup trans*ender dan non-b*ner pada tahun 2023.

“Ini data yang sangat penting, terutama dari organisasi seperti SAMHSA yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan nasional serta alokasi sumber daya dalam hal jenis layanan pencegahan, perawatan, dan pemulihan yang didukung pemerintah di tingkat federal,” kata Dr Jeremy Kidd, psikiater yang mengerjakan studi untuk meningkatkan kesehatan populasi lesb*an, g*y, bis*ksual, tra*sgender, dan qu*er.

Laporan tersebut mencatat bahwa, “Kaum minoritas seksual mengalami stresor (penyebab stres) unik yang dapat berkontribusi pada penggunaan zat merugikan (narkoba dll) dan hasil kesehatan mental.”

Di antara temuannya adalah, perempuan b*seksual enam kali lebih mungkin mencoba bunuh diri daripada rekan-rekan mereka yang heteroseksual. Wanita bise*sual juga tiga kali lebih mungkin mengalami gangguan penggunaan opioid. Sementara itu, laki-laki *iseksual juga dilaporkan tiga kali lebih mungkin mengalami masalah penyakit mental serius.

Masalah yang dialami individu b*seksual mungkin tidak hanya mencakup diskriminasi yang dihadapi orang lain yang merupakan LG*T*, tetapi juga masalah “ketidaktampakan dan penghapusan.”

“Misalnya, Anda bayangkan berada di lingkungan yang mungkin memvalidasi orang-orang dengan identitas ga* dan l*sbian, tetapi tidak mengenali identitas bisek*ual. Jadi, kaum bis*ksual agak tidak terlihat di ruang itu,” kata Kidd.

Laporan tersebut juga menemukan, sekitar sepertiga dari semua orang bise**ual dan laki-laki *ay melaporkan masalah gangguan penggunaan zat narkoba pada tahun sebelumnya.

Wanita dan orang kulit berwarna dalam komunitas L*B*Q memiliki lebih banyak tantangan.

Lebih dari 1 dari 4 wanita bis*ksu*l dan lebih dari 1 dari 7 wanita l**bian mengalami episode depresi berat pada tahun survei. Mereka juga dua kali lebih mungkin merokok pada bulan itu dibandingkan wanita heterose**ual, serta lebih mungkin minum minuman keras dan menjadi peminum berat.

Untuk pria, jawabannya serupa untuk ga*, b*seks*al dan hete*oseksual dalam hal merokok, pesta minuman keras dan mabuk.

Orang-orang dari semua identitas seksual mengidentifikasi ganja sebagai zat terlarang yang paling umum digunakan.

Facebook Comments

Comments are closed.