Mencegah Gangguan Komunikasi Sosial Pragmatik pada Anak Pindahan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Seorang teman, yang keluarganya harus pindah jauh dari seberang laut karena pekerjaan, curhat pada saya tentang anaknya. Dia mengaku, anak balitanya mendadak sulit bicara setelah menempati rumah baru di kawasan padat penduduk kota. Di tempat tinggal lama, si anak biasa bermain bersama teman-teman di ladang atau hutan.

“Apa di kota juga ada makhluk halus penganggu anak kecil?” tanya dia.

Wah, saya tidak terlalu paham soal Jin Ummu Sibyan, Buröng Tujöh, Ba Jiao Gui, dan sejenisnya. Kalau ada perubahan mendadak perilaku anak-anak, saya lebih banyak membahasnya dari sisi psikologis. Maka, saya pun coba jelaskan kemungkinan terjadinya gangguan komunikasi sosial pragmatik pada anak.

Tentu saja, butuh pemeriksaan lebih dulu pada anak untuk menentukan kondisi apa yang dialaminya. Curhatan satu jam lewat perantara tentu hanya menghasilkan gambaran sementara tanpa diagnosis pasti. Namun, saya mencoba membantu teman saya dengan dasar sains, bukan klenik.

………

Pembaca yang budiman, gangguan komunikasi sosial pragmatik adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa secara sosial dan pragmatis. Pada anak-anak, gangguan itu bisa menyebabkan kesulitan memahami dan menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang tepat. Mulut si anak bisa digunakan untuk berbicara, tapi ia tak tahu berbicara apa karena lingkungannya tidak mengerti.

Pindah dari daerah jauh, yang cukup berbeda budaya dan kondisi lingkungan, memang tidak serta-merta menyebabkan gangguan komunikasi sosial pragmatik pada anak. Namun, perubahan lingkungan yang signifikan, dapat memengaruhi perkembangan sosial dan komunikasi anak.

Misalnya, perubahan dalam bahasa dan dialek. Saat anak pindah ke daerah dengan dialek atau bahasa berbeda, ia tentu menghadapi tantangan dalam berkomunikasi dengan ‘bahasa baru’ dari orang-orang baru di sekitarnya. Ini memengaruhi kemampuan ia menggunakan bahasa secara pragmatis.

Begitu juga dengan perubahan norma sosial dan budaya. Ketika anak pindah ke daerah baru, ia harus beradaptasi dengan norma sosial dan budaya yang berbeda. Bisa jadi, ia kesulitan memahami dan menggunakan bahasa secara tepat dalam konteks sosial yang baru.

Pindah ke daerah baru membuat anak harus bergaul dengan teman sebaya yang baru. Ia harus membangun hubungan sosial baru. Padahal, proses ini memerlukan keterampilan sosial dan penyesuaian dengan kelompok sosial baru. Jika anaknya tidak mudah bergaul, tentu ini jadi masalah.

Yang signifikan adalah perasaan ketidaknyamanan atau kecemasan. Pindah ke daerah baru dapat menyebabkan anak merasa cemas atau tidak nyaman. Kondisi ini memengaruhi kemampuan untuk berinteraksi secara sosial dan berkomunikasi dengan percaya diri.

Maka, penting bagi orang tua dan pengasuh memberikan dukungan dan bantuan pada anak dalam proses penyesuaian diri. Dengar ungkapan perasaan dan kekhawatiran anak, lalu jelaskan pengalaman itu selogis mungkin sesuai kadar pemahaman anak. Hal ini dapat membantu anak merasa lebih nyaman dan siap berinteraksi sosial.

Lalu, bantu anak memahami dan mempelajari lingkungan baru. Beri informasi tentang norma sosial, budaya, dan bahasa yang digunakan. Ajak anak mengamati dan memahami cara berkomunikasi yang berlaku di lingkungan baru. Dorong anak berinteraksi dengan teman sebaya, bawa ke kegiatan kelompok yang sesuai.

Yang juga penting, beri contoh perilaku yang tepat. Orang dewasa harus jadi contoh dengan menggunakan bahasa sopan, memahami aturan sosial, saat berkomunikasi di lingkungan tempat tinggal baru. Anak akan belajar banyak melalui pengamatan dan peniruan.

Jika anak betul-betul mengalami kesulitan signifikan dalam komunikasi sosial setelah pindah, silakan mencari bantuan profesional dari logopedis, psikolog anak, atau konselor. Curhat teman saya di atas adalah salah satu langkah tepat untuk mencari bantuan. Evaluasi lebih lanjut dari para ahli dapat memberi intervensi yang tepat pada anak jika diperlukan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.