Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Sebenarnya ini bukan kabar baru. Tapi, saya ingin menuliskan ini karena memang penting dan karena barusan ada hasil penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Psychology of Popular Media.
Tak dapat dipungkiri, video game semakin diterima dalam kehidupan sehari-hari. Diterima dalam arti semakin banyak penggunanya di tempat umum maupun di tempat personal. Kini orang bisa menikmati video game bahkan di kamar tidur dengan menggunakan ponsel.
Tapi, ada sisi gelap dari tren tersebut. Meski dunia maya dapat menjadi sumber hiburan, dapat meningkatkan ikatan sosial sesama gamers, dapat membantu pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan bahkan ada yang meghasilkan uang, bermain game juga dapat membuat kecanduan dan perilaku kompulsif.
Keinginan untuk maju ke level berikutnya, menaklukkan kerajaan berikutnya, atau menyelesaikan pencarian berikutnya, bisa menjadi begitu kuat sehingga menyebabkan gamer melupakan masalah penting dunia nyata.
Studi Ellithorpe, Meshi, dan Tham mengungkap potensi bahaya kesehatan dari problematic video gaming. Menurut temuan mereka, ‘problematic gamer‘ yakni mereka yang mementingkan main game secara tidak sehat dengan mengorbankan aktivitas sehari-hari lainnya, bisa merugikan kesehatan jangka panjang.
Pola perilaku yang lebih mementingkan kesenangan masa kini dan mengabaikan kesehatan masa depan itu dikenal sebagai myopic decision-making itu dan diukur dari tiga perilaku kesehatan: kualitas tidur, kualitas nutrisi, dan kualitas kebersihan pribadi.
Bagi problematic gamer, tidur malam yang nyenyak bukan menjadi prioritas utama saat ia sudah tenggelam dalam tempat mereka bermain. Menurut Ellithorpe, kualitas tidur rendah bagi gamers ini hasil kombinasi berbagai faktor; paparan cahaya biru terlalu lama, peningkatan gairah akibat bermain game, atau sekadar keputusan untuk tidak tidur demi waktu bermain game.
Bagi problematic gamer, diet alias makan itu prioritas nomor sekian. Gamer bermasalah biasanya memiliki kebiasaan diet buruk karena kombinasi faktor-faktor; ngemil makanan yang mudah didapat tetapi rendah nutrisi, kecenderungan tidak makan demi sesi permainan yang lebih lama, atau tidak menyediakan waktu cukup untuk menyiapkan makanan karena terlalu banyak bermain game.
Problematic gamer juga sering mengabaikan kebersihan pribadi. Ini terjadi karena gamer menganggap hal-hal seperti menyikat gigi dan berolahraga adalah pemborosan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk bermain.
Lalu, penelitian Ellithorpe juga menyoroti jaringan koneksi yang kompleks antara problematic video game dengan perilaku yang merugikan kesehatan gamer. Koneksi ini berpotensi menjadi pertanda perilaku kecanduan. Seseorang disebut mulai mengembangkan hubungan tidak sehat dengan video game saat ia mulai memprioritaskan bermain game daripada tidur, makan atau bersih-bersih diri.
Terus, bagaimana solusinya?
Para gamer tentu diajak untuk kembali ke kehidupan normal. Disarankan untuk menemukan perimbangan rasa antara dunia digital dan dunia fisik. Meski bermain video game bisa menjadi hobi yang menyenangkan, menarik, dan bahkan menghasilkan uang, penting untuk diingat bahwa kesehatan fisik dan psikis jangan sampai dikorbankan. Kesehatan di jagad nyata jangan sampai dibahayakan demi mengejar sekadar pencapaian virtual. Jadi, kita semua perlu melatih pengendalian diri dan meningkatkan kesejahteraan diri secara total dan menyeluruh.


