Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Soal urusan cari pasangan, saya sangat sering dapat curhatan teman. Kalau saya tuliskan, bakal sangat panjang. Bisa jadi buku sendiri, dan bukannya sekadar artikel kecil.
Kepada teman-teman yang curhat, umumnya saya tekankan bahwa jodoh itu seperti yang sudah ditentukan Tuhan. Pasangan yang tampak sangat tidak cocok pun bisa hidup bersama sampai mati jika memang ditakdirkan begitu. Sebaliknya, yang tampak cocok dan serasi pun bisa ambyar jika tidak ditakdirkan berjodoh.
Nah, yang seru itu justu soal bagaimana orang merasa cocok atau tidak dengan pasangan untuk urusan romantik. Kalau untuk urusan mencari kecocokan, saya mencoba menasihatkan dengan pendekatan lebih ilmiah.
Salah satunya, saya mendapatkan hasil penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Personality and Individual Differences Volume 206, Mei 2023. Alessia Marchi dan Peter K. Jonason dari University of Padua di Italia serta Zsófia Csajbók dari Charles University di Republik Czech mengidentifikasi 24 cara agar cocok dengan pasangan.
Temuan mereka menunjukkan, orang menganggap kesamaan dalam gaya hidup, pendapat, dan moral menjadi aspek kunci kecocokan romantis. Lalu, ada pula kesamaan dalam faktor-faktor tertentu yang selaras dengan gaya cinta khusus masing-masing individu. Apa saja itu?
Marchi dan tim menggunakan daftar 153 item untuk mengeksplorasi kecocokan yang diinginkan pria dan wanita. Data dikumpulkan dari 274 partisipan di Italia dengan usia rata-rata 28 tahun yang umumnya heteroseksual, lajang, dan belum menikah. Para peneliti lalu melakukan analisis faktor untuk mengidentifikasi pola dalam data yang menentukan hubungan.
Akhirnya mereka memastikan 24 faktor, yakni gaya hidup, opini, emosi, asal-usul, sosialitas, romantisme, moral, keluarga, makanan, sensasi, kelas, agama, kesesuaian, waktu luang, penampilan, pekerjaan, konflik, empati, humor, tempat tinggal, ucapan, kecerdasan, antusiasme, dan aktivitas.
Secara keseluruhan, peserta penelitian lebih memilih pasangan yang serupa dengan mereka dalam hal-hal seperti gaya hidup, opini, dan moral. Anehnya, mereka tidak terlalu peduli tentang hal-hal seperti pendidikan atau kecerdasan.
Pesan terbesar dari penelitian ini adalah, orang cenderung merasa lebih cocok dengan calon pasangan yang serupa (bukan yang berlawanan) dengan mereka di sebagian besar fitur di atas.
Pria lebih peduli pada kesamaan emosi dan aktivitas, sedangkan wanita lebih peduli pada kesamaan dalam gaya hidup, pendapat, moral, konformitas, penampilan, dan empati. Ini masuk akal karena wanita secara tradisional berinvestasi lebih banyak dalam membesarkan anak dan lebih selektif tentang pasangan mereka, kata para peneliti.
“Sebagian besar penelitian di bidang ini cenderung berfokus pada fitur yang diinginkan pada pasangan romantis atau seksual atau fitur umum yang diinginkan dalam suatu hubungan. Terlepas dari relevansinya, ternyata topik kecocokan cenderung diabaikan peneliti lain,” kata Marchi.
“Tujuan penelitian kami adalah untuk lebih memahami peran dan definisi kecocokan dalam hubungan romantis. Jadi kami langsung bertanya kepada orang-orang ketika mereka merasakan kecocokan dengan calon pasangan,” ia menjelaskan alasan penelitiannya.


