Ketika Si Yunior Masih Minder saat Berteman dengan Si Senior

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Di suatu sekolah dasar, saya secara random ngobrol dengan sejumlah anak. Mereka dari kelas berbeda, dan tema obrolannya juga acak saja. Tapi, ada satu obrolan yang menarik perhatian saya. Kala itu, saya ngobrol dengan anak dari kelas 4.

Saya berasumsi, anak kelas 4 tentu sudah cukup cakap berkomunikasi, cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah, dan butuh pengetahuan banyak untuk berkembang di masa datang. Tapi, asumsi saya keliru karena anak ini ternyata merasa mapan dengan teman sekelasnya dan minder saat bergaul dengan anak kelas 5 atau 6.

“Saya takut, Bu. Mereka besar-besar. Saya masih kecil. Saya takut mereka nggak mau berteman dengan saya,” kata si anak itu memberi alasan.

………….

Pembaca yang budiman, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan siswa yunior minder saat diminta bergaul dengan seniornya.

Antara lain; si yunior secara usia merasa kurang matang dan belum sebanding dengan teman yang senior, si yunior mungkin memiliki minat berbeda dengan seniornya sehingga sulit menemukan topik pembicaraan yang cocok, si yunior mungkin belum cukup memiliki keterampilan sosial dalam berinteraksi dengan senior sehingga merasa tidak nyaman, si yunior mungkin merasa takut tidak diterima teman-teman senior karena perbedaan usia atau kemampuan, si yunior merasa tidak cukup percaya diri karena tidak mampu melakukan hal yang sama dengan seniornya.

Padahal, ada begitu banyak manfaat yang bisa didapat si yunior jika bisa bergaul dengan baik bersama kakak-kakak seniornya.

Ketika dapat bergaul dengan teman-teman senior, si yunior akan merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi sehingga dapat memperluas lingkaran sosialnya. Saat bergaul dengan teman-teman senior, si yunior belajar berinteraksi dengan teman yang memiliki pengalaman lebih sehingga bisa ikutan tahu lebih banyak. Si yunior belajar lebih mandiri dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Si yunior bisa memperoleh manfaat akademik karena belajar dari teman-teman yang sudah pernah mengetahui pelajaran yang sedang dia pelajari. Si yunior dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis karena memperoleh ide dan inspirasi baru dari teman-teman senior.

Untuk membantu si yunior mendapatkan manfaat penuh saat bergaul dengan teman senior, perlu campur tangan guru, orang tua, atau pengasuh. Guru atau orang tua perlu mendukung dan memandu si yunior untuk membangun persahabatan dengan teman-teman yang lebih senior.

Beri pengertian pada si yunior tentang manfaat bergaul dengan teman yang lebih senior. Beri kesempatan dan dorong si yunior untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersama si senior, misalnya lewat kegiatan ekstra kurikuler yang tidak membedakan kelas akademik. Dorong si yunior mengambil inisiatif memulai percakapan dengan teman-teman senior. Jangan lupa, ajarkan pula keterampilan sosial pada si yunior. Misalnya, cara memperkenalkan diri, cara berbicara dengan sopan, dan cara mendengarkan dengan baik, dan sejenisnya.

Saya senang ketika ada SD yang memberi kesempatan pada murid-murid senior untuk presentasi pada adik-adiknya tentang science project yang mereka lakukan sehingga si yunior tertarik bertanya. Begitu juga saat si kakak kelas presentasi memberikan gambaran pelajaran yang mereka hadapi, sehingga para yunior punya gambaran atas apa yang akan mereka hadapi tahun depan.

Saya juga tertarik dengan gaya pendidikan di sejumlah pesantren saat kakak-kakak senior diberi kesempatan membimbing dan memimpin para santri yunior. Dalam interaksi dalam pesantren ini, hubungan adik-kakak jadi begitu kuat secara komunal sejak awal. Bukan hanya di kelas, tapi juga di kamar inap.

Facebook Comments

Comments are closed.