Mendongeng untuk Meneteskan Karakter Kejujuran pada Kalbu Anak

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Karena beberapa saat lalu ada sekolah yang menampilkan drama ‘The Boy Who Cried Wolf’ karya Aesop, saya jadi ingin menulis tentang peran dongeng untuk membentuk karakter anak.

Dongeng karya Aesop itu berkisah tentang ketidakjujuran dan dampaknya.

Dikisahkan, ada seorang anak laki-laki yang ditugasi menggembalakan kawanan domba di suatu desa. Karena bosan dengan tugasnya, ia ingin mempedayai penduduk desa. Maka, ia berteriak-teriak seolah ada serigala datang untuk memangsa dombanya.

Penduduk desa, yang mendengar teriakan anak itu, segera berdatangan untuk membantu. Tapi, saat mereka datang, tak nampak ada seekor pun serigala di tempat penggembalaan. Mereka pun kembali di tempat kerja masing-masing. Si anak lelaki diam-diam merasa puas karena bisa mempedayai penduduk.

Kemudian, saat ia kembali merasa bosan menggembala, si anak laki-laki itu kembali iseng berteriak-teriak ada serigala menyerang dombanya. Lagi, para penduduk desa berdatangan membantunya. Namun, mereka kecewa karena tidak ada serigala.

Setelah hal yang sama terjadi beberapa kali lagi, eh ternyata ada serigala yang benar-benar datang dan menyerang dombanya. Maka, saat si anak laki-laki tadi berteriak minta tolong, tak seorang pun penduduk desa yang mempercayainya dan tidak mau datang membantu. Domba-dombanya pun jadi mangsa serigala.

Dari dongeng ini, kita dapat belajar tentang efek buruk dari berbohong dan runtuhnya kepercayaan yang terjalin dengan orang lain. Jika kita terus-terusan berbohong, maka orang-orang di sekitar tidak akan lagi mempercayai kita ketika kita benar-benar membutuhkan bantuan atau menghadapi masalah.

………..

Pembaca yang budiman, dongeng semacam ini dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi anak tentang pentingnya kejujuran. Setelah mendengarkan atau membaca cerita semacam ini, anak dapat diajak memahami dan merenungkan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Dongeng memiliki peran penting dalam pembentukan karakter jujur pada anak. Dongeng bisa membawa pesan moral tentang pentingnya kejujuran dan akibat dari perilaku tidak jujur. Dongeng juga bisa menunjukkan contoh perilaku yang baik dan yang buruk. Dalam dongeng Aesop di atas, si anak laki-laki penggembala adalah contoh tidak baik yang harus dihindari.

Kapan waktu yang tepat untuk mendongengi anak? Ada beberapa waktu tertentu yang secara hipnotik membuat pesan-pesan baik bisa lebih cepat masuk ke dalam alam bawah sadar anak.

Pertama, menjelang tidur. Banyak orang tua mendongeng atau membacakan dongeng pada anak sebelum tidur. Pada waktu ini, anak sudah merasa rileks dan siap menerima pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut.

Waktu lain yang pas adalah saat senggang. Misalnya, saat anak dalam kondisi tenang waktu menunggu jam berbuka puasa atau saat jeda antara dua aktivitas. Pada waktu tenang ini, anak lebih siap menerima pesan-pesan moral dari dongeng atau kisah-kisah lainnya.

Juga, saat anak sedang membutuhkan bimbingan. Ketika anak sedang mengalami masalah dengan kejujuran atau perilaku tidak jujur, maka berkisahlah tentang tokoh yang jujur atau tidak jujur. Anak akan lebih cepat menangkap inspirasi dari tokoh itu saat ia sedang butuh bimbingan.

Setiap anak memiliki waktu yang berbeda-beda untuk lebih gampang menerima pesan moral dari cerita yang didongengkan. Oleh karena itu, orang tua, guru, atau pengasuh, harus peka dan perlu memperhatikan reaksi anak. Pilih waktu yang paling tepat untuk mendongeng tentang karakter jujur pada anak.

Facebook Comments

Comments are closed.