Anak Boleh Saja Belajar dari YouTube atau ChatGPT, Asal….

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Di mana anakmu? Koq sejak tadi sepi-sepi saja,” begitu pertanyaan saya pada Imel saat bertamu di rumahnya pada hari libur.

“Tuh, di kamarnya. Dia bisa sampai berjam-jam kalau sudah di depan laptop,” kata Imel.

“Nggak kau awasi? Tak baik lho anak terlalu lama berinteraksi dengan jagad maya?”

“Kalau belajarnya sudah asyik seperti itu, dia nggak mau diganggu. Bahkan oleh ibunya sendiri. Lagi pula, saya juga sibuk masak. Tak sempat menemani dia.”

“Oh, anakmu belajar apa?” tanyaku menyelidik.

“Belajar jadi seperti Evan youtuber yang saat umur sembilan tahun sudah bisa menghasilkan uang milyaran,” jawab Imel.

“Hahaha….Tapi kan Evan juga didampingi Jared bapaknya. Nggak dilepas sendirian bikin konten EvanTubeHD.”

…………

Pembaca yang budiman, memang ada begitu banyak sumber pembelajaran dan bahkan pendidikan di jagad maya. Dengan memanfaatkan internet, anak-anak bisa menggunakan media sosial untuk belajar. Ada banyak platform yang menyediakan konten pembelajaran. Ada video tutorial atau grup diskusi untuk topik tertentu.

Dari YouTube, misalnya, anak-anak bisa mengakses berbagai jenis video yang relevan dengan minat dan kebutuhan pembelajaran. Ada banyak kanal dengan berbagai topik, seperti matematika, sains, bahasa, seni, olahraga, dan sebagainya. Jika suka belajar sains, misalnya, cari saja kanal yang menyediakan video eksperimen dan tutorial sains.

Anak bisa menonton video-video pendidikan terkait topik yang dipelajari di sekolah atau di rumah. Tinggal gunakan fitur pencarian, anak bisa mendapatkan video tentang topik yang ingin dipelajari. Gunakan fitur bookmark untuk menyimpan video bermanfaat agar dapat dilihat kembali nanti.

Sekarang, juga ada ChatGPT. Sebagai model bahasa berbasis Artificial Intelligence, ChatGPT dapat membantu anak-anak dalam pembelajaran dan penguasaan bahasa. Anak dapat mengajukan pertanyaan tentang topik apa pun dari tugas sekolah hingga informasi umum, dan ChatGPT memberikan jawaban relevan yang mudah dipahami.

Karena ada layanan berbahasa Indonesia, anak-anak juga bisa praktik menulis dan berbicara di ChatGPT. Mereka dapat meminta ChatGPT memberikan umpan balik pada tata bahasa dan kosakata. Anak-anak juga dapat meminta ChatGPT membaca teks yang sulit dipahami atau dalam bahasa asing.

Meski ada begitu banyak kemudahan, anak tetap perlu pendampingan dari orang tua, guru, atau siapa pun yang cukup matang dengan media sosial. Piranti digital itu bukan guru sejati yang bisa memahami kondisi mental anak secara individual. YouTube, ChatGPT, dan sejenisnya, diciptakan untuk siapa saja secara umum.

Anak harus diawasi agar penggunaan media sosial untuk pembelajaran tetap aman dan efektif. Batasi waktu anak bermedia sosal agar mata, otak, dan tubuh lainnya tidak kelelahan. Bimbing anak memahami etika dan perilaku baik dalam bermedia sosial. Jangan sampai melakukan intimidasi atau pelecehan, jangan sampai kena intimidasi pelecehan.

Bantu anak memilih platform yang aman dan dapat dipercaya. Periksa reputasi situs web untuk memastikan anak tidak terpapar konten yang tidak sesuai untuk usia mereka. Berikan batasan-batasan yang jelas tentang apa yang diizinkan dan tidak diizinkan dalam penggunaan media sosial.

Dengan pengawasan yang tepat dan aturan yang baik, media sosial dapat menjadi alat efektif untuk membantu anak-anak belajar. Maka, kita juga harus lebih dulu memperluas wawasan tentang media sosial sehingga lebih mudah membantu dan membimbing anak saat belajar di jagad maya.

Facebook Comments

Comments are closed.