Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Eh, kenapa ya Bund anak-anak sekarang ogah jalan kaki?” tanya seorang mamah muda di kompleks perumahan.
“Lha itu, saat jalan sehat, banyak peserta anak-anak,” saya memberi sanggahan.
“Maksud saya, bukan seperti itu. Kalau olahraga, kalau jalan sehat bareng keluarga, ya memang banyak anak yang mau. Tapi, jalan kaki agak jauh ke toko, ke rumah teman, atau ke sekolah. Anak saya, main ke temannya di kompleks perumahaan, itu saja bawa sepeda motor.
“Hahaha…, betul. Anak saya juga gitu kalau ngumpul sama teman-temannya di Balai RW.”
……….
Pembaca yang budiman, anak-anak terutama yang tinggal di perkotaan memang jarang sekali jalan kaki agak jauh. Bahkan, kita di kota jarang melihat anak berjalan kaki di jalan umum. Kalau di pusat perbelanjaan, olahraga atau taman, banyak.
Dari sisi psikologi, saya ingin memaparkan hambatan mental yang membuat anak merasa jalan kaki 1 kilometer saja jadi terasa berat.
Pertama, ada anak yang merasa terlalu malas untuk berjalan kaki. Itu jika dia terbiasa dengan gaya hidup sedentari yang cenderung malas melakukan aktivitas fisik atau menggerakkan tubuh. Sukanya duduk atau rebahan. Beberapa contoh sedentary lifestyle adalah duduk lama di depan laptop atau main ponsel seharian. Anak semacam ini merasa berjalan kaki terlalu melelahkan.
Kedua, terlalu tergantung pada kendaraan. Ini seiring dengan semakin banyaknya kendaraan ‘cocok anak’ yang dijual di pasar. Tahun 1970-an, kendaraan hanya dirancang untuk tubuh orang dewasa. Bahkan, sepeda ukuran anak belum ada. Ini membuat anak harus jalan kaki saat ingin bermain atau ke sekolah. Sekarang, sepeda listrik ukuran mini juga ada. Anak-anak jadi makin terbiasa menggunakan kendaraan untuk bergerak, terbiasa dengan kenyamanan dan kecepatan kendaraan, sehingga merasa berjalan kaki lebih lambat dan membosankan.
Ketiga, kurang motivasi. Anak-anak merasa berjalan kaki tidak memiliki manfaat signifikan hingga tidak termotivasi untuk melakukannya. Padahal, jalan kaki itu kebiasaan yang sangat menyehatkan dan manfaatnya bisa didapatkan hingga akhir hayat. Namun, karena kurangnya pemahaman tentang manfaat jalan kaki, anak-anak jadi kurang termotivasi melakukannya.
Keempat, anak mungkin merasa tidak nyaman atau tidak suka berjalan kaki saat ia merasa kelelahan, berkeringat, atau merasa kondisinya tidak menyenangkan. Sudah pakai baju bagus, semprot minyak wangi, eh sinar mataharinya terik sekali sehingga tubuh bercucuran keringat. Perasaan ini semacam dapat membuat ia merasa berjalan kaki itu tidak menyenangkan.
Kelima, anak-anak merasa cemas tentang berjalan kaki ke tempat tertentu. Kecemasan ini bisa disebabkan si anak membayangkan hal yang enggak-enggak tentang jalan itu. Bisa jadi cara membayangkan itu dipengaruhi oleh video ngeri yang ia tonton di media. Bisa jadi, itu disebabkan oleh pengalaman nyata. Misalnya, ia pernah digonggongi anjing di jalan tertentu.
Untuk mengatasi hambatan mental ini, maka orang tua, guru, atau tokoh berpengaruh di lingkungan sekitar, perlu memberikan pemahaman yang baik pada anak tentang manfaat jalan kaki dan meningkatkan motivasi anak untuk bergerak lebih aktif. Selain itu, keamanan jalan juga perlu dipastikan.
Orang tua juga dapat membantu anak mempersiapkan diri sebelum berjalan kaki. Misalnya, memilih pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca, menyiapkan air minum jika perlu, memilihkan rute yang aman.
Jika anak makin mengenal kondisi jalan, maka ia akan bisa menikmatinya, bisa mengantisipasi jika ada kondisi darurat, dan bisa memanfaatkan jalan kaki untuk kesehatannya.


