mepnews.id – Berita duka datang dari Banyuwangi, Jawa Timur. Seorang anak kelas IV SD ditemukan tewas dalam kondisi gantung di rumahnya, 2 Maret 2023. Kepolisian setempat menduga, korban bunuh diri karena depresi akibat sering di-bully teman-temannya sebagai anak yang tidak punya ayah.
Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi, dosen psikologi Universitas Airlangga, mengatakan peristiwa tersebut tidak jamak terjadi di masyarakat namun harus jadi perhatian. Kasus ini merepresentasikan bagaimana tekanan kondisi psikologis anak bisa mengarah pada keputusan perilaku berisiko tinggi dan fatal.
“Ini menjadi refleksi bagi orangtua, guru, dan para pendamping tumbuh kembang anak, untuk melakukan langkah-langkah preventif agar kasus serupa tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Wiwin menyebut kasus tersebut bukan hanya menyoal perundungan tetapi juga bagaimana orangtua dan guru mampu memberikan pengasuhan dan pendidikan. Kedua hal itu harusnya dapat menguatkan berbagai keterampilan psikologis anak ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan.
Dosen psikologi perkembangan itu menjelaskan, perundungan dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis anak. Semakin sering perundungan yang anak alami, maka makin tinggi pula intensitas dan variasi tipe perundungannya. Sebab itu, dampak yang ditimbulkan makin besar.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi, pertama berupa stres dan cemas. Anak yang mengalami perundungan akan merasa tertekan dan cemas setiap hari. Ia merasa tidak aman dan tidak tahu kapan atau di mana serangan berikutnya terjadi.
Kedua, stres terus-menerus dan tidak tertangani bisa mengarah pada depresi. Anak yang mengalami perundungan akan merasakan kesedihan yang sangat dalam, kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya mereka sukai, merasa putus asa, hingga kehilangan harapan akan masa depan.
Ketiga, anak yang mengalami perundungan cenderung merasa rendah diri dan tidak berharga. Terlebih jika mereka merasa tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah situasi.
“Tidak sedikit dari korban perundungan yang kemudian mengalami isolasi sosial. Mereka merasa terisolasi dari teman-teman, sulit untuk bergaul, dan merasa tidak ada yang bisa mereka percayai atau ajak berbicara. Ini dapat terjadi jika teman-teman lain di luar pelaku perundungan juga tidak ada yang berusaha membantu atau memberikan dukungan yang menguatkan secara mental,” jelas ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) itu.
Keempat, riset juga menunjukkan sebagian korban perundungan memunculkan perilaku kekerasan dan agresi karena emosi yang begitu kuat, kesal, marah, dan frustasi yang sangat. Desakan emosi negatif tersebut dapat mendorong mereka merespons tekanan dengan kekerasan dan agresi pada diri sendiri maupun pada orang lain.
Terakhir, muncul berbagai gangguan perilaku, antara lain gangguan pola makan dan tidur yang diakibatkan kondisi pikiran dan emosi yang dipenuhi kecemasan dan ketidaknyamanan.


