Bagaimana Cara Membantu Anak yang Tak Termotivasi?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Anakku sudah besar, tapi koq malas banget, ya? Tiap hari rebahan saja. Disuruh belajar, katanya bosan. Disuruh bergaul, eh ogah-ogahan. Ditanya mau jadi apa, jawabnya ‘mengalir seperti air saja.’ Enak kalau airnya mengalir ke laut. Lha kalau masuk ke jamban, bagaimana?” begitu keluh seorang teman.

Aku bilang, “Sabar… Kita tidak pernah tahu takdir anak ke depan. Kalau hari ini ogah-ogahan, siapa tahu kelak jadi orang yang kreatif. Mungkin permasalahnya sekarang dia kurang termotivasi oleh lingkungan atau bahkan oleh dirinya sendiri. Kau perlu membantunya agar termotivasi.”

Pembaca yang budiman, motivasi adalah keinginan untuk bertindak demi tujuan tertentu di masa kini atau masa datang. Ini mencakup keinginan untuk terus berjuang ke arah tujuan yang bermakna. Ini elemen penting dalam mendorong perilaku manusia yang memicu persaingan dan hubungan sosial untuk mencapai tujuan. Tanpa motivasi, orang bisa kehilangan daya juang, bahkan menyebabkan penyakit mental seperti depresi.

Terus, bagaimana cara membantu teman saya memotivasi anaknya?

Tentu saja tidak sekadar dengan menggelontorkan kata-kata motivasional yang banyak tersebar di media sosial. Memotivasi anak yang sudah besar memang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak yang besar itu layaknya individu mandiri dengan keinginan dan kebutuhan khas masing-masing. Jadi, mendengar kata hatinya jadi lebih penting.

Maka, saya sarankan ia untuk memvalidasi kondisi anaknya. Dengarlah kata hatinya, terbukalah untuk ide-idenya, tunjukkan bahwa pendapatnya dihargai. Dengan berkomunikasi dari hati-ke-hati, kondisi si anak bisa diketahui dengan baik. Tujuan dan kemauan anak juga bisa diketahui.

Tentang tujuan itu, saya sarankan ia menyampaikan dengan hati-hati pada anak. Jangan dengan nada memerintah. Kalau tujuannya tidak sesuai dengan tujuan si anak, jangan lontarkan dengan nada kritis. Akan lebih bagus jika memberikan pemaparan yang lebih logis sehingga mudah dipahami anak.

Jangan lupa, ungkapkan dukungan bagi setiap usaha untuk tekun mencapai tujuan. Ingatkan, setiap tujuan jangka panjang maupun jangka pendek butuh tindakan untuk mencapainya. Karena perlu proses, tindakan itu bisa ringan atau berat. Bagaimanapun kondisinya, puji anak jika mau terus-menerus berusaha tanpa patah semangat untuk mencapai tujuan. Bila perlu, bantu carikan mentor yang bisa membimbing anak sampai mencapai tujuan.

Meski demikian, jangan lupa untuk mendorong anak untuk mandiri. Sambil tetap menyiapkan koridor dan rambu-rambu, beri anak ruang dan kebebasan untuk membuat keputusan sendiri lalu belajar dari kesalahan dan kebenarannya.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah menjaga hubungan positif dan suportif dengan anak. Saya sarankan ia untuk selalu ada buat anak saat membutuhkan bantuan. Biarkan anak memecahkan masalah, lalu beri bimbingan jika membutuhkan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.