Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Bagi orang tua, anak itu anugrah sekaligus tanggung jawab. Anak, pada satu sisi, tentu membahagiakan dan membanggakan orang tua. Tapi, di sisi lain, anak juga mengalami krisis dari masa kecil hingga menjelang dewasa.
Para pembaca yang budiman, para orang tua tentu perlu memahami krisis perkembangan anak itu sebagai hal yang alami. Khawatir? Boleh saja, asal yang berlebihan. Yang perlu dipahami, krisis-krisis itu sebenarnya diperlukan anak untuk perkembangan kepribadiannya.
Umumnya, ada empat masa perkembangan anak yang diwarnai oleh semacam ‘guncangan’ perilaku. Saya akan paparkan secara singkat agar Anda tidak perlu panik dan akhirnya bisa turut membantu mengatasinya. Krisis apa saja itu?
- Krisis 2 tahun
Bayi yang awalnya mungil dan menggemaskan ini mulai berulah dan belajar mengungkapkan pendapat. Ada amukan, teriakan, hingga ketidaktaatan. Si kecil mulai tidak ingin orang tua mereka mengikutinya. Sesekali muncul tantrum sebagai sarana mengomunikasikan apa yang diinginkan dan apa yang tidak diinginkan. Suka mengeluh dan protes. Mulai keras kepala dan selalu bersikeras untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Kata ‘Tidak’ muncul sebagai jawaban favorit atas semua saran.
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Tentu, harus bersikaplah sabar dan berempati. Jangan lupa, tetapkan batasan dan aturan pada anak. Ungkapkan dengan Bahasa yang baik tetapi harus tegas. Tetapkan kebiasaan dan rutinitas anak untuk memberi keamanan. Pada masa-masa emas anak, jangan lupa untuk membantu mengembangkan kecerdasan emosionalnya.
- Krisis 7 tahun
Krisis berikutnya mungkin muncul pada usia 6, 7, atau 8 tahun, tergantung masing-masing individu. Pada masa ini, anak sedang membangun identitas dan kepribadian. Meski kadang tampak mengesalkan, krisis ini diperlukan untuk pertumbuhan kepribadian anak.
Dalam krisis ini, anak kadang murung tanpa alasan jelas. Kadang ada yang mengeluh tidak ada yang menyayanginya atau merasa segala sesuatunya tidak adil. Anak jadi mudah marah atau menangis, tapi sering keras kepala dan bahkan memberontak. Kalau ada apa-apa, anak sering membuat alasan.
Terus, bagaimana sikap orang tua?
Tetap saja bersikap sabar, bijaksana dan tenang. Orang tua perlu mendengarkan anak dengan penuh perhatian, empati, lalu mendidik. Jangan lupa untuk tetap konsisten dengan aturan. Sesuaikan aturan dan batasan dengan usia anak untuk menjaga rutinitas dan kebiasaan baik anak.
- Krisis pubertas
Ini terkait hormonal saat organ seksual mulai berkembang. Krisis ini biasanya muncul antara usia 9 dan 12 tahun bergantung jenis kelamin dan perkembangan hormon. Anak tidak lagi seperti bocil, tetapi masih belum seperti orang dewasa. Krisisnya terkati masa transformasi emosional dan fisik.
Pada masa pubertas ini, citra tubuh jadi penting bagi anak. Yang lelaki ingin tampak seperti lelaki maskulin. Yang perempuan ingin lebih feminin. Perubahan hormon memengaruhi perubahan suasana hati. Emosinya mudah berubah yang kadang sampai dramatis. Lebih sedikit kemarahan, tetapi intensitasnya jauh lebih kuat hingga meledak-ledak. Ank juga makin ingin merdeka dari orang tua meski belum sepenuhnya bisa.
Maka, orang tua perlu menetapkan aturan dan batasan sesuai dengan usia anak dan bisa lebih bernegosiasi dengan anak. Kenalkan pentingnya perkembangan organ seksual dan bagaimana menjaganya. Jangan terlalu menguliahi, tapi lebih banyak lakukan dialog untuk memberi pemahaman pada anak. Secara mental, orang tua harus makin banyak pengertian, kesabaran, dan cinta tanpa syarat pada anak.
- Krisis remaja
Ini biasanya muncul pada usia 14 dan 16 tahun saat fisik anak sudah mulai seperti orang dewasa. Masa ini juga fase penting dalam perkembangan anak, saat fondasi kedewasaan diletakkan. Krisis terjadi saat anak mencari jati diri dan mencari posisi yang paling cocok.
Biasanya, anak membutuhkan privasi atau saat-saat sendirian untuk mengenal diri lebih baik. Anak berusaha tampil baik sehingga kadang takut membodohi diri sendiri atau ditertawakan anak/orang lain. Ia merasa citra diri sebagai hal yang penting, namun ia juga sangat mempertimbangkan pendapat anak/orang lain tentang dirinya. Pada masa krisis ini perilaku negatif mungkin muncul, antara lain coba-coba merokok atau lainnya.
Menghadapi masa krisis ini, orang tua perlu komunikasi sebagai senjata terbaik. Lebih sering mendengar anak saat berbicara dengannya. Jangan terlalu banyak menguliahi karena anak bisa merasa diremehkan. Mulai hargai dan hormati privasi anak, namun tetap tegakkan aturan dan batasan.
Tentu saja yang saya gambarkan di sini hanya secara umum. Ungukapan krisis dari masing-masing anak bisa berbeda. Bahkan ada anak yang tidak mengekspresikan krisisnya sama sekali. Tindakan orng tua juga tentu harus disesuaikan dengan kondisi anak. Yang saya ungkapkan di atas hanya standar umum.
Yang penting, krisis-krisis perkembangan semacam ini bakal dialami anak sejak bayi hingga remaja. Krisis tidak berarti hal yang buruk, karena justru diperlukan untuk perkembangan kepribadian anak. Maka, orang tua harus paham, bersabar, lalu menghargai ritme perkembangan anak sambil tetap menggariskan norma dan aturan untuk pendidikan anak.


