Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – “Sis, di perusahaanku ada sepuluh anak magang. Aku mau membagi mereka ke dua kelompok bidang agar lebih efisien. Nah, aku mau pilih dua leader biar mereka bisa bekerja lebih mandiri,” ada teman pengusaha yang curhat.
“Beri MSDT (Management Style Diagnostic Test) saja. Beres,” saran saya.
“Hehehe…aku maunya yang gratisan dulu.”
“Oalah…”
Para pembaca yang budiman, bakat kepemimpinan seseorang dalam kelompok bisa ditakar lewat berbagai cara. Ada sejumlah tes psikologis yang cukup akurat. Ada juga dengan menggunakan observasi.
Calon pemimpin yang baik itu sejak awak sudah menunjukkan sejumlah perilaku dan sifat yang khas. Calon pemimpin hebat itu bisa dilihat dari karakter dan integritasnya. Calon pemimpin itu sadar ia tidak dapat berhasil tanpa belajar dari orang lain.
Nah, berikut ini beberapa hal yang bisa diobservasi tentang calon leader yang potensial;
- Lebih banyak mendengarkan dan lebih sedikit berbicara
Jangan pilih kandidat yang selalu bilang ‘tahu segalanya.’ Ucapan semacam itu justru adalah topeng ketidakamanan mereka. Pemimpin sejati bukan orang yang menyombongkan diri tapi yang percaya diri. Penampilannya tenang, sederhana dan tahu apa yang harus dikerjakan.
Maka, amati kandidat yang selalu ingin paham apa yang dipikirkan orang lain sehingga ia mau mendengarkan dengan seksama. Ingat, keterampilan mendengarkan itu kunci untuk menambah pengetahuan.
Kandidat pemimpin yang baik sesekali mengajukan pertanyaan aneh namun tajam. Misalnya; bagaimana sesuatu dilakukan? Apa yang dibutuhkan agar hasilnya lebih baik?
Pemimpin yang baik menyadari mereka tahu banyak tapi tetap berusaha mengetahui lebih banyak lagi dengan sungguh-sungguh mendengarkan.
- Lebih meningkatkan perilaku yang bisa membangun kepercayaan
Kepercayaan (trust) adalah pilar kepemimpinan yang baik. Perilaku trust ini dapat didefinisikan, diukur, dan kemudian ditingkatkan. Di antara sejumlah kandidat, amati yang sehari-harinya menampilkan dan meningkatkan perilaku tepercaya.
Misalnya, perilaku kejujuran, transparansi, keterbukaan, klarifikasi, dan sejenisnya.
- Tahu kapan harus mengakui kesalahan
Kalau ada pemimpin yang suka mengabaikan sudut pandang berbeda maka ia biasanya cenderung mau menang sendiri. Kalau timnya keliru, ia salahkan anak buahnya. Ia juga cenderung mencari perlindungan pada boss di atas posisinya.
Di sisi lain, pemimpin yang baik tahu betul bagaimana mengarahkan tim. Jika ada kekeliruan, dia segera mencari tahu bagaimana membereskannya menjadi benar. Jika perintahnya salah, ia siap mengakui. Dengan kerendahan hati, ia sadar tidak ada orang yang sempurna dan memiliki semua jawaban.
Pilih kandidat yang baik saja.
- Siap berbagi kekuasaan
Jika ada kandidat selalu memupuk trust pada atasan dan bisa menerima trust dari bawahan, pilih saja dia. Pemimpin yang baik itu bisa membagi-bagi tugas, tanggung jawab, dan otorita untuk didelegasikan pada sejumlah anak buahnya.
Kalau tidak bisa mempercayai anak buah, dan tetap mengerjakan sendiri semuanya, maka ia bakal cepat kelelahan. Kalau masih terlalu mengurusi manajemen mikro, ia akan dirasani oleh anak buah. Kalau masih otoriter, ia bakal tidak disegani anak buah.
- Menampilkan integritas sepenuhnya
Lakukan yang benar meski tidak ada yang melihat. Lakukan hal yang benar meski saat pilihannya tidak mudah. Meski anak buah tidak melihat, meski boss besar tidak mendengar, ada Tuhan yang Mahatahu. Integritas pemimpin itu urusan ikhsan.
Berintegritas itu berarti tetap setia pada nilai-nilai yang telah disepakati, bahkan saat seseorang dihadapkan pada konsekuensi-konsekuensi atas pilihan tepat yang dia buat. Kandidat pemimpin yang baik bisa membuat pilihan yang selaras dengan karakternya. Ia berorientasi pada kebenaran; beroperasi dengan kejujuran, siap merangkul perubahan, segera menyadari kesalahan dan segera mengatasinya.
Teknik observasi ini memang terkesan ideal untuk bisa mendapatkan kandidat leader yang potensial. Butuh waktu cukup lama dan pengamatan cukup teliti untuk menjalankannya. Tapi bukannya tidak mungkin.


