Oleh: Tazkia Ramadhani Zahira Rahman
mepnews.id – Hiiii…… Ada mata melotot. Ada gigi taring besar-besar. Ada lidah terjulur lebar. Ada wajah mengerikan. Seperti siap memakan siapa saja yang lewat di hadapan.
Tapi, jangan takut. Itu hanya relief ‘kala’ (raksasa) mirip yang biasa kita jumpai di candi-candi. Meski di kawasan perbukitan dan berhutan, relief itu tidak perlu ditakuti. Ya, karena hanya patung yang menjaga mulut gua.
Gua Bhuto namanya. Juga disebut Gua Bhutah. ‘Bhuto’ dalam Bahasa Jawa berarti ‘raksasa’. Sementara, ‘Bhutah’ dalam Bahasa Madura juga berarti ‘raksasa.’ Jadi, ini namanya ‘Gua Raksasa.’
Gua Bhuto terletak di tebing batu cadas dengan kemiringan 60-70 derajat di ketinggian 200 meter dari dasar lembah. Kondisi alam sekitarnya berupa pegunungan, bukit-bukit kecil, lembah dan jurang, serta hutan lebat.
Di masa sekarang, lokasi itu terletak di Desa Jirek Mas di Kecamatan Cerme, di bagian timur Kabupaten Bondowoso. Dari Alun-alun Bondowoso, perjalanan ke Gua Bhuto memakan waktu sekitar tiga jam melewati jalur utama Jalan Raya Situbondo. Bisa juga lewat jalan alternatif untuk menghindari kemacetan.
Belum ada penelitian sangat mendalam tentang gua ini. Diduga, gua ini sudah ada sejak lama. Keberadaanya pernah terungkap lewat peta yang tertulis di kulit kambing yang ditemukan Thomas S. Raffles saat memerintah wilayah ‘Indonesia’ pada 1811 – 1816. Di era Indonesia modern, situs ini ditemukan masyarakat pada 1980-an saat mulainya pembangunan rumah-rumah penduduk di daerah perbukitan.
Diduga, Gua Bhuto dibuat antara abad ke-13 atau abad-14 atau pada masa akhir zaman Kerajaan Majapahit. Pada zaman dulu, Gua Bhuto kemungkinan menjadi tempat pertapaan para bhikku. Lokasinya jauh dari keramaian karena berada di pegunungan dan dataran tinggi.
Di dinding–dinding gua terdapat relief raksasa. Pada sisi kanan dan sisi kiri banyak bentuk relief dengan struktur dan bentuk berbeda. Masing-masing relief melambangkan tingkatan dalam samadhi atau meditasi. Ada empat tingkatan meditasi yaitu; sotapanna, sakadagami, anagami, dan arahat.
Di dalam gua, khususnya di bagian bawah, terdapat sumber mata air. Konon, airnya terus mengalir bahkan pada musim kering dan kemarau panjang meski hanya berupa tetesan kecil. Sumber air ini digunakan para bhikku untuk bersuci saat akan melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Pikulun pada saat itu.
Ada empat relief utama di Gua Bhuto. Relief kala yang menggambarkan raksasa, relief kuncup bunga teratai, relief Sang Buddha bermeditasi, dan kepala manusia bertanduk yang dikelilingi api. Sayangnya, beberapa relief sudah tidak utuh atau rusak. Bahkan ada yang hilang akibat ulah tangan-tangan jahil.
Perlu upaya pemerintah daerah bekerjasama dengan masyarakat untuk menjaga dan memelihara keberadan dan kelestarian Gua Bhuto sehingga dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Selain misteri sejarahnya yang cukup Panjang untuk digali secara ilmiah, Gua Bhuto juga cocok dijadikan objek wisata. Selain objek berupa gua, kawasan sekitarnya memiliki daya tarik tersendiri. Pemandangan di daerah sekitar Gua Bhuto tidak kalah menarik perhatian.
Fasilitas wisata di sekitar kawasan Gua Butho sudah lumayan. Ada area parkir yang cukup luas, ada WC umum, serta rumah makan. Spot foto di daerah ini juga cukup banyak.
Wisata Gua Bhuto buka 24 jam penuh alias tidak pernah tutup. Tiket masuknya tidak perlu bayar alias gratis. Sungguh pengalaman sangat mengesankan bisa berwisata dan melihat lebih nyata pesona Indonesia yang terdapat pada gua ini.
__________
- Penulis adalah siswi SMP Negeri 1 Bondowoso.


