Menikmati Kuliner Surabi Bu’ Kampong di Kalisat

Oleh: Bunda Utari

mepnews.id – Ada jajanan tradisonal tapi populer di kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Namanya, Serabi Bu’ Kampong. Saya dan keluarga menyempatkan diri mampir ke tempat jajanan tepi jalan ini untuk menikmatinya.

Pagi, saya start dari rumah bersama dua pengawal gantengku. Kami menyusuri jalan utama Kalisat. Setelah mendapat tempat parkir aman, aku turun dari mobil menuju kedai di Dusun Glagahwero tepatnya di antara pasar dan POM bensin Kalisat.

Aroma serabi itu betul-betul menggoda selera. Tapi, mata tertuju pada ibu yang duduk mencetak serabi pada tujuh kuali tanah dan kompor yang mengelilinginya. Nah, dia Bu’ Kampong sang maskot jajanan tradisional yang sudah dimodif hingga jadi hit saat ini.

Kecamatan Kalisat di Kabupaten Jember banyak dihuni orang Madura. Bu’ Kampong itu juga bahasa madura, yang kira-kira artinya ‘istri kepala dusun’. Meski istri kepala dusun, Bu’ Kampong tak segan berbisnis merakyat.

Keahlian membuat kue didapat secara turun temurun. Selain membuat serabi, Bu’ Kampong juga melayani kue-kue lain sesuai permintaan pelanggan. Bisa kue kering, bisa juga kue basah, sesuai yang tertulis di banner kedai itu. Bu’ Kampong juga menerima pesanan untuk acara arisan, pengajian atau hajatan. Serabi buatannya digunakan sebagai suguhan.

Dibantu putrinya saat buka kedai, Bu’ Kampong menawarkan dua varian serabi. Yang original adalah serabi asli tanpa hiasan atau topping di atasnya. Ini bisa dinikmati dengan kuah yang terbuat dari campuran santan dan gula aren.

Lainnya, serabi dengan aneka topping. Antara lain: pisang, jagung manis, kacang hijau, nangka dan mises. Tampilannya cantik dengan variasi warna-warni. Warna kuning untuk topping pisang, jagung manis dan nangka. Warna hijau gelap adalah topping kacang hijau. Warna coklat topping dari mises coklat.  Yang penting, rasanya tetaf mantaf.

Jajanan serabi berbahan utama adonan utama kelapa dan tepung beras namun dengan tampilan kekinian ini bisa dikunjungi pukul 07.00–10.00. Dalam sehari, Bu’ Kampong bisa menghabiskan sampai 15 butir kelapa. Sungguh luar biasa.

Pembeli di kedainya harus sabar antre sesuai urutan kedatangan, dan disediakan bangku kayu untuk menunggu. Usai dipesan, serabi dibungkus daun dalam keadaan masih panas. Saat dibuka, aroma daun menambah selera pembeli untuk segera menyantapnya.

Bagi saya, bisa menikmati serabi Bu’ Kampong itu luar biasa. Saya salut akan inovasinya. Di era makanan cepat saji merambah sampai ke desa-desa, kedai Bu’ Kampong tetap mempertahankan kue tradisional yang inovatif dalam penyajian. Sementara, sentuhan modernitas berupa medsos Facebook, WA, hingga instagram turut menambah viral kabar soal serabi Bu’ Kampong. Tentu saja, omset penjualan jajanan kampung ini juga melambung.

__________

  • Penulis adalah ASN di SDN Tamansari 02, Mumbulsari, Jember, dan sorenya bunda PAUD. 

Facebook Comments

Comments are closed.