Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – Suatu sore di taman kota yang indah, saya melihat seorang ibu yang kewalahan menangani anaknya. Si anak yang berusia sekitar tiga tahun menangis, berguling-guling di tanah, dan berusaha mencabik-cabik apa yang bisa diraih tangannya.
“Anak saya tak mau pulang. Tadi ia tertawa-tawa saat naik ayunan. Karena menjelang Maghrib, saya ajak pulang. Ia tak mau. Malah menjerit-jerit. Saya khawatir ia kesurupan,” kata ibu itu ketika saya dekati.
Para pembaca yang budiman, sepertinya anak si ibu itu sedang mengalami tantrum. Tentu perlu beberapa observasi lebih dalam untuk memastikan kondisinya. Tapi, saya yakin ia tidak kesurupan atau kerasukan jin menjelang Maghrib.
Apakah tantrum itu?
Tantrum, atau kadang disebut temper tantrum, adalah kondisi ketika seorang anak (atau bahkan yang lebih besar) mengekspresikan ledakan kemarahan yang tidak terkendali. Wujud fisiknya antara lain berteriak-teriak, membanting diri sendiri ke tanah, memukul orang lain, melempar benda, memukul diri sendiri, membenturkan kepala sendiri, menggigit diri sendiri, menggigit orang lain, memukul dinding, meludahi orang lain dan sejenisnya.
Kalau ekspresi tantrumnya terkendali, mungkin tidak masalah. Ini bagian dari upaya anak untuk mengekspresikan keinginan pada orang tua atau orang lain di sekitarnya. Masalah akan muncul jika ekspresinya membahayakan diri sendiri atau yang lain.
Bagaimana menanggapi anak yang tantrum?
Biasa saja. Jika anak membuat ulah di rumah, Anda bisa pergi begitu saja dan tidak mengatakan apa-apa. Saat anak tahu amukan bukan cara efektif untuk mendapatkan perhatian, ia mungkin akan mempelajari cara lain untuk mengekspresikan diri.
Berikan perhatian. Saat tantrum selesai, berikan perhatian pada anak. Katakan misalnya, “Oh, Ical masih mau main ayunan? Nanti lagi, ya. Sekarang kan waktunya makan.” Perhatian semacam ini akan membuat anak merasa lebih tenang.
Jangan tunduk. Jangan turuti kemauan anak jika ia mengekspresikannya dengan cara mengamuk. Jika Anda tunduk, anak akan belajar bahwa berteriak atau menendang adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Amankan dulu. Jika anak mengamuk di tempat umum atau di antara banyak orang, ada baiknya untuk membawanya keluar, atau ke tempat lain, atau memasukannya ke dalam mobil, selama beberapa waktu tertentu. Setelah si anak kembali tenang, silakan lanjutkan beraktivitas.
Beri penjelasan. Jika anak menjadi agresif, segera atasi. Anda dapat mengintervensi dan berkata, “Memukul itu tidak baik.” Jika sudah tenang, jelaskan bahwa marah itu boleh tetapi tidak boleh menyakiti siapa pun.
Secara umum, cara-cara di atas bisa diterapkan saat anak sedang tantrum. Namun, cara yang paling tepat tentu dengan mempertimbangkan kondisi si anak secara individual. Ada anak yang didiamkan saja bisa segera reda tantrumnya. Tapi, ada juga anak yang jika didiamkan justru akan merusak.


