Saat Anak Mulai Berbohong

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – “Waduh, Bund. Gawat!” tiba-tiba seorang mama muda curhat pada saya.

“Loh, ada apa koq sampai gawat?”

“Anakku mulai belajar berbohong. Tadi pagi, ia pamit gowes ke rumah temannya di dalam kompleks perumahan. Eh, lalu Bu Sofi tetangga lihat anak saya main PS di kompleks perumahan sebelah. Waktu anak saya pulang, langsung saya tanya. Dia ngaku belajar bersama di rumah Steven. Padahal ada saksinya ia main PS. Bagaimana ini, Bund?”

Kasus semacam ini bisa terjadi di mana saja dan pada keluarga siapa saja. Kasus dirasa menjadi masalah berat saat terjadi di dalam keluarga yang menekankan pentingnya pendidikan kejujuran. Bahkan, orang tua yang sering tidak jujur pun tidak merasa nyaman saat anaknya sendiri melakukan kebohongan.

Anak mencoba atau mulai berani berbohong karena berbagai alasan. Mungkin ia ingin menghindari konsekuensi tertentu jika mengucapkan hal yang benar tapi tidak disukai orang tua. Mungkin, ia sadar bohong itu perbuatan keliru tapi ia sedang punya keinginan lebih besar untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Mungkin ia sedang cari perhatian dengan membual. Bisa jadi, ia sedang dalam tekanan sehingga terpaksa berbohong. Bisa juga, ia sekadar mengucapkan apa yang terlintas di benaknya saat ditanya. Bahkan, ada kemungkinan ia tidak tahu saat ditanya sehingga jawabannya asal-asalan. Jadi, banyak kemungkinannya.

Level kebohongannya juga meningkat seiring usia dan pengalaman. Anak balita mungkin bilang sudah makan sendiri bayamnya, padahal bayam itu dibuangnya. Anak remaja mungkin berbohong saat menghadapi persaingan dengan sesama dan tekanan nama baik orang tua untuk mengejar target pencapaian akdemis di sekolah.

Maka, mengetahui alasan dasar anak berbohong dan bagaimana cara kita berbicara dengan anak akan dapat membantu menghentikan perilaku yang tidak baik ini. Jika kita bisa berbicara dengan baik dan solutif, maka anak akan dengan senang hati membeberkan masalahnya. Jika kita berhasil menganalisis permasalahan dan menemukan dasar penyebab kebohongan, kita bisa membantu anak untuk bersama-sama mengatasinya.

Nah, untuk mama muda yang curhat dengan saya tadi, saya mencoba menganalisis lewat sudut pandang saya sendiri dengan bertanya balik, “Bund, apa Bunda pernah pamit ke anak mau belanja tapi ternyata malah ke mall untuk ‘me time’?”

Facebook Comments

Comments are closed.