Oleh: Drs Edy Riyanto MM
mepnews.id – Masalah yang pernah, sedang dan akan terus kita hadapi bukan buta huruf, bukan putus sekolah, bukan pengangguran terpelajar dan pengangguran sarjana. Hal-hal pahit yang terpaksa kita telan itu sebenarnya hanya gejala lahiriah alias ‘permukaan dari gunung es’ dari masalah yang jauh di bawah dan bersifat fundamental.
Menurut sejumlah pakar, kesalahan dunia pendidikan kita terjadi di berbagai tingkatan. Tingkatan filosofis, kita belum mendidik melainkan baru mengajar. Itu pun belum mengajar berpikir melainkan baru mengajar menghapalkan. Tingkat berikutnya, tenaga pendidik atau guru masih memposisikan diri sebagai atasan dan bukan sebagai teman bagi anak didiknya. Guru serba tahu, anak didik serba tidak tahu. Guru memberi informasi, anak menelan informasi dari guru. Guru sebagai pusat informasi, anak didik sebagai penerima informasi. Tanpa ada peluang bagi anak didik untuk memposisikan diri sebagai manusia yang sekecil apapun memiliki ‘jati diri’.
Kembali ke pokok persoalan. Ada persepsi yang salah di sebagian masyarakat kita tentang pengertian ‘sekolah’ dengan pengertian ‘belajar’. Pengertian sekolah bagi mereka masih dalam batasan sempit yaitu SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Sementara, yang belajar di luar sekolah masih belum dianggap bersekolah. Yang lebih memprihatinkan, persepsi bahwa sekolah identik dengan belajar. Padahal, secara subtansial ada perbedaan tajam antara bersekolah dengan belajar.
Makna belajar bukan semata-mata bersekolah. Belajar adalah menuntut ilmu, mencari, sampai menemukan sumber kehidupan, berguru sepanjang jaga, berguru sepanjang jalan, berguru sepanjang nafas (mungkin sebagian orang belum menyadari bahwa orang pun masih perlu belajar bernafas demi kesehatan).
Menurut saya, sekalipun seseorang buta huruf, tak pernah sekolah, putus sekolah dan sebagainya, tak perlu dipersoalkan, sepanjang ia tak putus belajar, selama ia tidak bersikap masa bodoh terhadap keharusan belajar.
Apa guna mengantongi berbagai ijazah, sertifikat, diploma dan sudah menata diri dengan aneka gelar gemerlapan seperti MBA, MM, MPd (yang disinyalir ada beberapa gelar yang bisa dibeli dengan harga tertentu), bila justru putus belajar atau masa bodoh terhadap pembelajaran?
Kenyataan membuktikan bahwa jabatan, kedudukan dan sehelai kertas yang dijuluki ijazah, sertifikat, diploma dan sebagainya itu justru sering menjadi pembeku proses belajar dan bukannya sebagai ragi bagi belajar.
Bagi seorang Isaac Newton, peristiwa sederhana berupa sebuah apel jatuh ke bumi merupakan bahan pelajaran yang membawa dia hingga jauh ke dalam terra incognito hingga akhirnya ditemukan hukum alam yang dinamai ‘gaya tarik bumi’. Sementara, bagi orang awam, peristiwa apel jatuh dianggap hal biasa. Bagi Newton, peristiwa tersebut justru bagaikan sabda alam yang perlu dikaji dan dipelajari lebih jauh dan mendalam.
Kalau bersedia mawas diri, kita mungkin akan menyadari betapapun sempurnanya diri kita sekarang, sebenarnya juga tidak luput dari cacat didik, cacat ajar dan cacat budaya yang merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Bahkan, kita menjadi korban atau penderita dari cacat didik, cacat ajar dan cacat budaya, tanpa merasa sakit. Kalau sampai terjadi seperti itu, berarti kita menghadapi bahaya paling besar. Itu karena kita merasa sehat walaupun sebenarnya sedang sakit parah dilihat dari sudut perkembangan manusia seutuhnya.
Belajar dalam pengertian menuntut ilmu bukan semata-mata berarti bersekolah, bukan melulu berguru, tetapi juga belajar sendiri, saling belajar dan belajar bersama. Guru, tutor, pendidik, pengajar, widyaiswara, bukan satu-satunya mandataris penyalur ilmu, bukan agen tunggal ilmu. Sebab, dari setiap orang yang paling bodoh pun bisa saja dipetik pelajaran dan kearifan yang amat berguna.
Belajar, dalam pengertian menuntut ilmu, juga bukan hanya menerima pelajaran, bukan sekadar menelan kapsul ilmu instan yang sudah jadi. Belajar juga seharusnya perlu mempelajari kembali (relearn), menguji kembali dan bilamana perlu ‘memuntahkan’ kembali.
Prasyarat belajar yang paling hakiki adalah setiap orang harus belajar menjadi ‘insan tahu diri’ (mengenal diri sendiri).
Orang atau insan yang tahu diri pasti dapat mengendalikan diri, membawa diri, dan menempatkan diri; insan yang tahu diri juga pasti akan lapang dada karena menyadari bahwa aktualisasi dirinya hanya mungkin terjadi bila ada interaksi dengan insan lain di tengah lingkungan hidup yang nyata, betapapun pahit dan getirnya. Insan yang tahu diri senantiasa rendah hati (bukan rendah diri) karena menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan mengenal kelemahan dirinya, insan yang tahu diri pasti akan belajar dari orang lain, akan menimba ilmu kepada orang lain.
Bersikap rendah hati bukan pekerjaan mudah. Terkadang memerlukan keberanian untuk mengakui bahwa dalam beberapa hal orang lain lebih baik daripada dirinya dan mengakui orang lain sebagai maha gurunya.
Bagi orang yang rendah hati, setiap orang adalah sumber belajar yang tak habis-habisnya digali dan dipelajari untuk menemukan jati dirinya sendiri. Ini seperti lakon Brotoseno dalam kisah Dewaruci.
Proses penemuan diri atau menemukan jati diri bukanlah pekerjaan mudah. Memerlukan waktu panjang dan melelahkan. Bahkan sampai mati pun yang bersangkutan belum tentu bisa menemukan jati dirinya.
- Penulis adalah pensiunan ASN di Wonosobo, ketua Forum Penggemar Tanaman Hias Kabupaten Wonosobo dan ketua Yayasan Mata Air yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.
- Tulisan ini pernah dimuat dalam buku antologi Change!


