mepnews.id – “Banyak banget beasiswa bertebaran. Jangan berpatok pada beasiswa yang terkenal aja. Saingannya pasti gede juga. Jadi, perbanyak cari beasiswa di negara atau kampus tujuan,” itu pesan dari Lorichika Gustinda Larasati, lulusan S1 Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2017.
“Alhamdulillah, saya sekarang free uang kuliah, penelitian bahkan stipend dari professor,” kata mahasiswi yang kini menjalani program fast track double degree di Indonesia dan Taiwan, menempuh studi lanjutan di National Pingtung University of Science and Technology (NPUST) Taiwan.
Lori menjelaskan, dengan program fast track itu S1 dan S2 yang dapat ditempuh hanya lima tahun. Untuk double degree saat S2, tahun pertama ditempuh di Indonesia dan tahun kedua di Taiwan.
Ia memilih S2 jurusan Bioteknologi Perikanan dan Kelautan di Unair dan Biological Science and Technology di Biological Science and Technology NUPST.
Ini bukan pengalaman Lori ke luar negeri. Arek Surabaya ini sudah kerap terlibat dalam kegiatan skala internasional. Antara lain intern di Kasetsart University Thailand. Ia juga melakukan mini research dan berhasil publikasi di Institute of Physics (IOP).
Ia menjelaskan, kualifikasi program double degree yang disediakan FPK Unair meliputi IPK S1, sertifikat kemampuan bahasa (IELTS/TOEFL/CEFR), research plan, CV, paspor dan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Selanjutnya, tahap wawancara bersama kepala program studi S2 FPK Unair.
Sebelum berangkat ke Taiwan, ia menceritakan strateginya.
“Saya habisin dulu semua mata kuliah di Unair, biar waktu di Taiwan saya tinggal fokus research. Tapi di Taiwan, saya masih harus ikut dua mata kuliah lagi, yaitu seminar dan advance molecular biology, sekaligus running tesis,’’ ucapnya.
Sebelum berangkat, Lori sudah mencari dosen di Taiwan yang memiliki keahlian sesuai topik tesisnya di bidang imunologi udang vaname. “Alhamdulillah saya keterima di lab Prof. Shao-Yang Hu dari Department of Biological Science and Technology dan co-Prof. Liu dari Department of Aquaculture,’’ ungkapnya.
Di luar negeri, Lori mengaku banyak mendapat pelajaran hidup. Hidup jauh dari keluarga menuntutnya bertanggung jawab lebih dengan dirinya sendiri. Belum lagi adaptasi dengan budaya setempat, seperti tertib memilah sampah hingga menyerahkannya ke truk pengangkut sampah keliling.
Meski demikian, ia bersyukur bisa mendapatkan kesempatan itu. Menurutnya, ilmu dari suatu bidang bisa dipelajari lewat jurnal atau buku tapi pengalaman beradaptasi dan kolaborasi di luar negeri itu tidak dapat dibeli.
Lori menegaskan, belajar di luar negeri tidak harus dari keluarga berada dan uang banyak. “Yang penting, kita harus mencari tahu kerja sama antar kampus dalam dengan luar negeri agar bisa mendapatkan rekomendasi. (*)


