Mbok Ya Jangan Terlalu Fanatis

Oleh: Arip Wicaksana*

mepnews.id–Dunia sepak bola kembali berduka. Ini terjadi di stadion Kanjuruhan Malang dalam pertandingan antara tuan rumah Singo Edan Arema FC dengan Bajul Ijo Persebaya pada 1 Oktober 2022.

Dalam derby Jawa Timur yang sarat gengsi tersebut, Arema kalah dari Persebaya 3-2. Pasca pertandingan, beberapa suporter Arema tidak terima atas kekalahan menyakitkan ini. Pasalnya, dalam kurun waktu 23 tahun sebelumnya, belum pernah Arema kalah di kandang sendiri dari musuh bebuyutan mereka.

Sejumlah suporter merangsek masuk ke lapangan dan mengejar petugas keamanan. Dalam kondisi hujan dan angin kencang, petugas keamanan berusaha menghalau massa. Salah satunya dengan menembakkan gas air mata. Nah, terjadilah insiden.

Semua orang di tengah lapang maupun di tribun berlarian menuju pintu keluar. Sebagian besar mereka merasakan mata perih dan paru panas karena sulit menghirup oksigen. Banyak orang mencoba menyelamatkan diri berlarian ke pintu keluar hingga berdesak-desakan.

Akibatnya, menurut pemberitaan media pada 2 Oktober sore, 174 meninggal dunia, 11 luka berat dan 298 luka ringan. Angka ini bisa berubah seiring perkembangan di rumah sakit.

Tampaknya, para suporter dan kita semua perlu belajar dari pengalaman sepakbola di luar negeri seperti di Premier League dan liga-liga besar lainnya di Eropa.

Manchester United di era David Moyes  pernah kalah dari Newcastle United 0-1 di kandangnya Old Trafford. Ini kali pertama sejak Februari 1972 atau nyaris 41 tahun. Sebaliknya, The Magpies Nerwcastle hanya mengecap 21 kekalahan dan imbang 8 kali dalam 29 lawatan sebelumnya di Premier League.

Brighton Albion tahun 2021 untuk pertama kalinya meraih kemenangan 1-0 atas Liverpool 1-0 di kandang lawan yakni di Anfield. Kemenangan ini mengulang sejarah tahun 1984 atau 34 tahun tidak pernah menang melawan Liverpool.

Manchester United dan Liverpool itu tim-tim besar. Meski besar, sesekali mereka bisa kalah di kandang sendiri oleh musuh bebuyutan atau musuh yang tak terduga kekuatannya. Hebatnya, semua kekalahan itu dianggap sesuatu yang lumrah oleh suporter yang lebih mengedepankan fair play.

Menyikapi buruknya tim, para suporter di sana juga mendesak manajemen klub untuk melakukan perbaikan. Mereka biasanya unjuk rasa menuntut pelatih mundur atau bahkan sang pemilik harus angkat kaki dari klub.

Artinya, para suporter tetap menyalurkan rasa kecintaan terhadap klub kesayangan mereka dengan bentuk yang elegan tanpa harus kisruh atau anarkis. Apalagi sampai ngisruh sehingga berdampak hilangnya ratusan nyawa.

Sebagai pecinta sepakbola, saya berharap PSSI menghentikan kompetisi liga 1 sampai turunnya rekomendasi FIFA sembari berbenah untuk meminimalisir potensi kejadian serupa di masa datang.

Banyuwangi, 2 Oktober 2022

* Penulis adalah penggila bola yang tinggal di Banyuwangi.

Facebook Comments

Comments are closed.