Stunting dan Melimpahnya Kekayaan

Oleh: M. Yazid Mar’i

mepnews.id – Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 tanggal 19 Juli 1984. Pada tahun 2022 ini, seluruh bangsa Indonesia memperingati HAN ke-38.

Saat HAN 2022, kita masih perlu menyandingkannya dengan stunting.

Secara definisi, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu dari janin hingga berusia 23 bulan. Kondisi stunting bisa dilihat dari data panjang badan berdasarkan umur (PB/U) untuk anak usia di bawah 2 tahun dan menggunakan data tinggi badan berdasarkan umur (TB/U) untuk anak usia 2 tahun ke atas.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4% atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018. Pemerintah mempunyai target menurunkan prevalensi hingga 14% pada tahun 2024.

Tentu capaian ini membanggakan. Artinya, negara telah melakukan amanat UUD 1945 pasal 28A tentang hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan.

Bagaimana dengan catatan Bojonegoro? Kabupaten yang konon terkaya ke-2 di Jawa Timur dan ke-6 se-Indonesia ini mencatat prevalensi stunting sebesar 23,9 persen berdasarkan SSGI. Meski sedikit lebih bagus dibanding angka nasional, Bojonegoro masih berada di urutan tertinggi ke-13 dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Selain stunting, tingkat prevalensi balita ‘wasting’ (kondisi berat badan anak menurun, sangat kurus di bawah batas normal, dengan proporsi berat badan tidak ideal dibanding tinggi badan), di Kabupaten Bojonegoro juga masih tinggi. Hasil SSGI 2021 menyebut, angka prevalensi balita wasting di Kabupaten Bojonegoro mencapai 9,5 persen, atau menempati urutan tertinggi ke-5 di Jawa Timur, setelah Kabupaten Pamekasan (14,9 persen), Kabupaten Jember (12,8 persen), Kabupaten Sumenep (9,9 persen) dan Kabupaten Pasuruan (9,7 persen).

Padahal, Bojonegoro telah mendeklarasukan diri sebagai Kabupaten Ramah Anak. Lalu, bagaimana mungkin kabupaten kaya memiliki generasi emas yang mengalami gizi buruk?

Semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah kabupaten, harus memiliki perhatian serius, termasuk dalam perencanaan dan evaluasi terhadap kinerja lembaga terkait. Ini serius dan penting, agar generasi emas ke depan mampu melanjutkan estafet kebaikan sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Jika diabaikan, kita akan menciderai para pendiri negeri.

 

* Penulis adalah Sekretaris lembaga Kajian Sor Keres (KSK)

Facebook Comments

POST A COMMENT.