Pengaruh Pil KB terhadap Respons Stress

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Anda pengguna pil KB? Jika ya, berarti Anda membersamai jutaan orang lainnya sejak 1960-an yang menggunakan pil pengontrol kehamilan itu.

Meski sudah lama dan sudah banyak digunakan, masih banyak pertanyaan tentang reaksi kompleks tubuh terhadap pil kecil ini.

Pil KB mengandung sejumlah hormon sintetis yang mengatur siklus menstruasi dan mencegah kehamilan. Hormon termasuk estrogen dan progestin dapat mempengaruhi neurotransmiter di otak yang terkait suasana hati dan stres.

Beberapa penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan antara pil KB dan respons terhadap stres. Beberapa studi menunjukkan pil KB dapat memiliki efek menenangkan pada respons terhadap stres. Dalam beberapa kasus, pil KB dapat mengurangi gejala stres, termasuk kecemasan, iritabilitas, dan depresi pada beberapa individu.

Namun, respons terhadap stres adalah proses kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk faktor genetik, lingkungan, dan kondisi kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan. Pengaruh pil KB terhadap respons terhadap stres dapat berbeda-beda pada setiap individu.

Hasil studi terbaru malah menunjukkan pil KB tak banyak berdampak terhadap respons stres wanita. Para peneliti dari Aarhus University di Denmark mempelajari respons stres dari 131 wanita muda saat diambil sampel darahnya. Beberapa wanita menggunakan pil KB, sementara yang lain tidak. Setelah stress diambil darah, para wanita itu beraktivitas sosial untuk menurunkan level stress.

Para peneliti mengukur kadar hormon stres ACTH dalam darah para wanita tersebut. Hasilnya menunjukkan, 15 menit beraktivitas sosial setelah pengambilan sampel darah ternyata menurunkan kadar hormon stres pada wanita yang tidak menggunakan pil KB. Wanita yang menggunakan pil KB tidak mengalami penurunan kadar ACTH.

“Hasil penelitian kami penting karena menunjukkan orang yang menggunakan pil KB tidak mengalami penurunan kadar hormon stres dibandingkan orang yang tidak menggunakan pil,” kata Michael Winterdahl, dosen tamu di Unit Translasi Neuropsikiatri di Fakultas Kedokteran Klinis dan penulis utama penelitian.

Mengapa demikian?

Studi yang terbit di jurnal Behavioural Brain Research, Volume 452 edisi August 2023 ini berbeda dari studi sebelumnya. Studi sebelumnya lebih berfokus pada hormon stres kortisol dalam keadaan ekstrim. Dalam penelitian terakhir ini, para peneliti mengukur hormon stres ACTH yang bisa berubah signifikan lebih cepat daripada kortisol.

Sudah lama diketahui pil KB memengaruhi respons stres pada wanita. Namun, melihat ACTH hormon stres sehubungan dengan aktivitas sosial adalah pendekatan baru.

“Dengan mempelajari tingkat ACTH, kami mengambil langkah lain untuk memahami bagaimana otak mengatur stres. ACTH itu bertindak sebagai neurotransmitter dari otak ke korteks adrenal yang menghasilkan kortisol. Ketika menganalisis tingkat ACTH, kami memperoleh wawasan baru tentang respon cepat dan mekanisme yang mengontrol reaksi tubuh terhadap stres,” kata Winterdahl.

 

Facebook Comments

Comments are closed.