Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Diam-diam, kita sudah masuk era Artificial Intelligent (AI) alias kecerdasan buatan. Tanpa kita sadari, sejumlah produk teknologi yang kita pakai sudah menggunakan jasa AI. Apalagi saat kita sudah berada di depan laptop dan terkoneksi di internat.
AI adalah kemampuan mesin atau komputer untuk meniru dan mengeksekusi tugas-tugas yang umumnya membutuhkan kecerdasan manusia. Dalam AI ada algoritma dan sistem komputer yang mempelajari, merencanakan, beradaptasi, dan melakukan tugas tertentu dengan kemampuan seperti persepsi, penalaran, pemahaman bahasa, pengambilan keputusan, dan interaksi manusia-mesin.
GPT (Generative Pre-trained Transformer) adalah jenis model AI yang dikembangkan OpenAI. Model GPT didasarkan pada pendekatan pembelajaran mesin yang dikenal sebagai ‘pembelajaran berbasis data’. Dalam tahap pra-pelatihan (pre-training), model GPT dilatih menggunakan data besar dari berbagai sumber, termasuk teks dari internet. Proses ini bertujuan memperoleh pemahaman umum tentang bahasa dan struktur teks yang luas. Setelah itu, model GPT menjalani tahap pemberian tugas khusus (fine-tuning) dengan dataset lebih sempit dan spesifik untuk tugas tertentu. Misalny; penerjemahan bahasa, pemahaman bahasa alami, atau menghasilkan teks baru berdasarkan input pengguna, semuanya dengan akurasi tinggi berdasarkan data besar yang sudah diolah.
Model GPT telah mencapai keberhasilan signifikan dalam berbagai tugas bahasa. Antara lain menghasilkan teks yang koheren, penerjemahan, pemahaman konteks, dan merespon pertanyaan. Versi terbaru, yakni GPT-3, sudah memiliki skala sangat besar dengan 175 miliar parameter. Ini memungkinkannya menghasilkan teks sangat canggih dan serbaguna.
Para pembaca yang budiman, karena penasaran maka saya bertanya langsung pada OpenAI tentang pengaruh kecerdasan buatan GPT pada kcerdasan alami manusia. Pertanyaan saya langsung lewat chat; “Apa pengaruh GPT model bagi kecerdasan alami manusia?”
Jawabnya, “Bervariasi. Tergantung pada cara dan konteks penggunaannya.” Antara lain; bisa meningkatkan akses ke informasi, bisa mendukung dalam tugas pemrosesan bahasa, hingga berpotensi sebagai alat kreativitas.
Namun, kata OpenAI, “Penting untuk diingat bahwa GPT model hanyalah alat dan mesin. Meski memiliki kemampuan menghasilkan teks canggih, GPT tidak memiliki pemahaman atau kesadaran seperti manusia. Kecerdasan alami manusia tetap unik dalam kemampuannya untuk berpikir kritis, menggunakan pengetahuan kontekstual, memahami konsekuensi etis, dan memiliki emosi dan nilai-nilai yang membentuk tindakan dan keputusan.”
Apa lagi kelemahannya?
“Penggunaan GPT model juga dapat menimbulkan beberapa tantangan, seperti penyebaran informasi palsu atau bias yang mungkin ada dalam dataset pelatihan sebelumnya. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan dan menginterpretasikan output GPT dengan kebijaksanaan dan pertimbangan etis, serta mempertahankan peran manusia dalam pengambilan keputusan dan penerapan nilai-nilai manusiawi yang lebih luas.”
Saya pun menyimpulkan, model GPT dan model AI lainnya adalah alat. Mereka adalah alat yang ‘hanya’ membantu mempermudah dan mempersingkat kerja manusia. Kita tidak bisa serta-merta menyalahgunakan GPT atau AI. Produknya harus digunakan dengan kebijaksanaan dan pertimbangan etis. Antara lain, pertimbangan privasi, bias, dan akurasi. Kita perlu terus menjaga kontrol manusia dan pertimbangan lebih luas dalam pengambilan keputusan yang dibantu GPT atau AI.


