Catatan tentang Transisi PAUD ke SD

mepnews.id – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) melakukan sejumlah transformasi di satuan pendidikan jenjang anak usia dini dan dasar lewat Merdeka Belajar episode ke-24 tentang Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Salah satu misi program tersebut yaitu memperbaiki miskonsepsi tentang baca, tulis, hitung (calistung) dengan meniadakan tes calistung di tingkat PAUD ke SD.

Kebijakan tersebut direspons positif banyak pihak. Salah satunya Prof Dr Suryanti MPd, guru besar PGSD Universitas Negeri Surabaya.

Prof Suryanti

Dikabarkan situs resmi unesa.ac.id, Prof Suryanti mengatakan tes calistung sebagai persyaratan masuk SD menjadi penghalang bagi anak yang seharusnya mendapat hak untuk belajar sembilan tahun. “Tidak perlu seleksi. Yang penting, anak punya kesiapan belajar, cukup umur. Jika sudah dirasa punya kematangan mental, kemandirian, itu sudah cukup.”

Keharusan menguasai calistung menjadi beban tersendiri bagi anak. Pada masa usia dini hingga SD awal, semestinya mereka diajari mandiri dan dapat bersosialisasi dengan teman sebaya, mengenal diri sendiri, serta bermain yang menyenangkan. Bermain, dalam dunia anak, adalah bagian dari proses belajar.

Menurut ia, berkaitan dengan transformasi di satuan pendidikan jenjang PAUD dan SD, ada beberapa hal yang menjadi perhatian. Mungkin bisa dikatakan semacam tantangan yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, dunia belajar anak terlalu dipenuhi tuntutan orang tuanya. Seharusnya, menyekolahkan anak itu bukan berdasarkan kebutuhan orang tuan tetapi kebutuhan anak itu sendiri. Kedua, masih banyak orang tua yang tidak memandang penting PAUD sehingga langsung memasukan anaknya ke  SD. Ini dapat berpengaruh terhadap kesiapan belajar anak termasuk adaptasi lingkungan dan belajar. Ketiga, tidak meratanya sekolah PAUD di daerah bahkan di desa. Keempat, terlalu banyak waktu belajar bagi anak sehingga waktu bermainnya berkurang. Kelima, orang tua terlalu menitikberatkan kepada sekolah untuk tumbuh dan kembangnya anak. Padahal, lingkungan pendidikan anak itu tidak hanya di sekolah, tetapi juga di masyarakat dan utamanya di lingkungan keluarga.

Penyebab dari hampir semua itu adalah kurangnya pemahaman orang tua terhadap pendidikan atau kebutuhan pendidikan anak. Masih banyak orang tua yang memaknai belajar itu harus memegang buku, pensil dan coret-coret. Padahal, belajar di usia dini itu sangat luas. Dunia bermain bagi anak adalah dunia belajarnya sekaligus.

Pendidikan yang ideal bagi anak dimulai dari lingkup keluarga. Di situ, anak usia 1-4 tahun mulai belajar sosialisasi dan interaksi, mengenal diri sendiri dan keluarganya. Setelah itu, kemampuan tersebut dikembangkan di jenjang formal, yaitu PAUD. Pendidikan PAUD berfokus pada kemampuan kognitif, motorik dan sosial dengan banyak bermain sampai kelas dua SD/MI. Sedangkan untuk pembelajaran yang lebih menanamkan konten dimulai dari kelas 3 dan seterusnya.

Pada jenjang SD, khususnya kelas 1-2, idealnya anak harus mendapatkan pendidikan dasar yang menyenangkan. Pada usia sekolah tersebut, anak tidak harus berkutat pada pembelajaran berat dan membebani otak mereka. “Anak-anak di rumah dituntut orang tua harus begini dan begitu, di sekolah pun begitu ditekan dengan belajar yang berat. Ini terlalu nafsu, kalau saya katakan. Ini tidak mengikuti perkembangan anak-anak,” tegasnya.

Dampak buruk dari push yang berlebihan dapat mengakibatkan anak bosan belajar. Selain itu, anak rentan stres dengan segala tuntutan diberikan. Dampak lainnya tentu anak menjadi kurang bersosialisasi dan berinteraksi dengan yang lain. Program les cenderung membuat anak egois dan individual.

Menurut Prof Suryanti, kebijakan merdeka belajar utamanya transformasi pendidikan di PAUD dan SD menjadi angin segar dalam memutus tradisi dan memberikan pemahaman orang tua akan kebutuhan pendidikan anaknya.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, perlu andil sekolah dalam memberikan pemahaman terkait pendidikan bagi anak yang ideal. “Kebijakan ini bagus, tetapi yang menentukan juga adalah bagaimana sekolah, guru dan orang tua memahami dan mengejawantahkannya baik itu di sekolah maupun di rumah,” tukasnya.

Guru, lanjutnya, mengubah mindset dalam memaknai PAUD dan SD. Dengan perkembangan zaman dan teknologi yang pesat, cara mengajar lama seperti datang mencatat atau sekedar menjelaskan di depan kelas sudah tidak lagi relevan. Guru saat ini dituntut kreatif dan inovatif dalam mengajar siswa, dan mengemas pembelajaran dengan menyenangkan.

Pembelajaran yang menyenangkan tidak mesti rumit, tetapi bisa didesain dengan cara-cara yang sederhana. Lingkungan sekolah misalnya bisa menjadi sarana belajar. Anak bisa mengenal lingkungan dan berbagai hal yang ada di dalamnya. Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan tradisi, adat dan budaya setempat bisa menjadi wahana belajar jika dikemas dengan permainan.

“Guru kita perlu terus dilatih dan dikembangkan, guru penggerak bisa menjadi salah satu strateginya. Guru penggerak tak sekadar eforia semata, tetapi betul- betul menggerakkan orang lain juga menggerakan diri sendiri untuk bisa melaksanakan pembelajaran dengan baik dan memfasilitasi siswa untuk belajar,” terangnya.

Dia mengakui, kualitas guru dan fasilitas pendidikan di Indonesia belum merata. Faktornya banyak, mulai dari keberagaman guru sampai letak geografis yang berdampak terhadap kualitas pendidikan. Pemerataan pendidikan di Indonesia, lanjutnya, harus terus dilakukan lewat berbagai kebijakan. Pemerataan pendidikan tidak melulu soal fasilitas yang sama, tetapi akses dan kualitas pendidikan yang setara.

“Berbagai catatan terkait transformasi pendidikan, pemahaman orang tua dan kualitas guru serta pemerataan pendidikan harus menjadi bagian dari evaluasi dan upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia ke depan. Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2023 ini harus benar-benar menyadarkan kita semua akan tanggung jawab, tantangan dan kualitas pendidikan di seluruh penjuru negeri,” tutupnya. (Hasna)

Facebook Comments

Comments are closed.