Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ada seorang teman yang usianya sudah cukup matang tapi belum juga bisa membina rumah tangga. Dia sebenarnya sangat mau menikah dan bukan penganut child-free. Banyak juga wanita mapan maupun muda yang naksir dia. Tapi, saat sudah hampir deal, selalu saja ada masalah dari pihak dia yang membuyarkan semuanya.
Setelah curhat cukup dalam, saya paham dia nggak bisa move on dari suatu masalah masa lalu. Masalah itu cukup traumatik sehingga tertanam begitu kuat dalam alam bawah sadarnya. Setiap kali ada memontum menyerupai peristiwa itu di masa kini, alam bawah sadarnya menggerakkan seluruh dirinya untuk menolak. Akibatnya, beberapa kali ia menggagalkan hubungan.
Pembaca yang budiman, memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan masa lalu itu sangat penting bagi kesejahteraan mental kita. Ada banyak hal negatif yang membelenggu kita jika tidak mampu berdamai dengan masa lalu. Kita akan sulit menerima perubahan dan terus memikirkan cengkeraman peristiwa masa lalu itu. Kalau dulu bersalah, kita akan cenderung terlalu menyesali atas apa yang telah terjadi dan mungkin tidak bisa memaafkan diri sendiri. Kalau sudah begini, kita bakal punya kecenderungan untuk menghindari sesuatu yang dapat memicu emosi atau ingatan masa lalu. Semua ini dapat membatasi kemampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.
Dari sisi psikologis, ‘memaafkan diri sendiri’ dan ‘berdamai dengan masa lalu’ itu sangat penting. Saat bisa memaafkan diri sendiri, kita bisa menerima kesalahan atau kegagalan yang telah dilakukan di masa lalu. Setelah berdamai dengan diri sendiri, kita membuka harapan untuk dapat melanjutkan hidup lebih baik. Maka, ada psikoterapi untuk meningkatkan kesehatan mental seseorang yang susah memaafkan diri sendiri.
Proses untuk memaafkan itu berbeda pada setiap individu. Ada orang yang cepat menyadari masalah atau kesalahan, dan segera memaafkan diri sendiri lalu berdamai dengan keadaan. Tapi. ada juga yang merasa memaafkan diri sendiri itu bukanlah urusan yang mudah dilakukan sehingga memerlukan waktu lama dan usaha tertentu.
Proses memaafkan diri sendiri melibatkan pengenalan dan penerimaan terhadap kesalahan yang dilakukan, dan kemudian membebaskan diri dari perasaan bersalah dan penyesalan. Hal ini memungkinkan seseorang untuk berkembang, belajar dari kesalahan, dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Maka, untuk teman saya tadi, saya sarankan beberapa tahap psikoterapi untuk membantunya memaafkan diri sendiri. Pertama, mengidentifikasi kesalahan yang dia lakukan di masa lalu dan mencoba menerimanya dengan hati terbuka. Istighfar diperbanyak. Kedua, memahami bahwa kesalahan itu adalah bagian dari proses perkembangan sehingga tidak harus menentukan pribadi dia di masa kini. Setelah itu, perlu beberapa sugesti untuk mengubah pola pikir negatif dan menggantinya dengan pola pikir lebih positif.
Orang-orang yang susah memaafkan diri sendiri atau yang sulit berdamai dengan masa perlu untuk bisa curhat dengan seseorang yang dapat dipercaya dan mendukung. Boleh dengan teman, anggota keluarga, atau dengan terapis profesional. Kadang, cukup dengan melontarkan uneg-uneg, ia sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Kadang, perlu sesi konseling dan alat-alat bantu khusus untuk membuat ia membuka hati. Misalnya, dengan teknik relaksasi, visualisasi, atau aktivitas kreatif lainnya.
Biasanya, setelah menjalani proses pemaafaan diri sendiri, orang itu akan merasa lebih baik secara emosional. Perasaan bersalah, penyesalan, dan kecemasan yang berkaitan dengan masa lalu dapat berkurang. Kondisi ini bisa menambah kepercayaan dirinya dan memiliki pandangan yang lebih positif tentang diri sendiri. Ia dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan menggunakan pengalaman itu untuk tumbuh dan berkembang ke depan. Maka, di masa kini dan masa depan. ia diharapkan bisa merasa lebih mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain.


