Sabar Mendampingi Anak yang Bermasalah Belajar

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada tamu, yakni kenalannya teman saya, yang datang ke saya untuk ngajak curhat. Karena baru kenal, ngobrolnya jadi agak lama. Tapi, intinya ngobrol soal anaknya yang belum bisa belajar dengan baik di sekolah.

“Anak saya umur 10 tahun, tapi nilai akademiknya kurang. Saya beberapa kali dipanggil untuk bertemu guru atau kepala sekolah. Mereka bilang, anak saya bisa tinggal kelas kalau saya tidak membantu memperbaiki kemampuannya,” kata tamu itu.

“Ada banyak hal yang membuat anak susah mengikuti pelajaran. Sebaiknya, si anak dites dulu untuk mencari penyebab utamanya. Jika sudah diketahui, akan selalu ada jalan untuk mendukungnya,” saran saya.

Karena tak ingin mengecewakan tamu, saya pun ngobrol untuk memberi wawasan tentang jenis-jenis permasalahan belajar anak. Saya coba jelaskan singkat tentang Learning Disorder, Learning Disfunction, Under Achiever, Slow Learner hingga Learning Disability.

“Mungkin anak saya punya masalah learning disability itu. Sejak kecil, saya merasakan gejalanya.”

Saya jelaskan, “Learning disability alias ketidakmampuan belajar itu karena kondisi neurologis yang memengaruhi kemampuan si anak untuk memperoleh, memproses, menyimpan, dan mengkomunikasikan informasi. Ini tidak terkait dengan kecerdasan, motivasi, atau usaha. Tapi, lebih disebabkan gangguan khusus di otak yang mempengaruhi satu atau lebih bidang pembelajaran. Tanda-tandanya antara lain; kesulitan memahami bacaan, kesulitan menulis atau mengeja, susah memahami bahasa lisan, susah hitung-hitungan atau konsep matematika, sering lupa, gagal mengikuti arahan atau menyelesaikan tugas tepat waktu.”

“Ah, iya. Anak saya itu sebenarnya rajin belajar. Tapi, memang tidak bisa.”

“Tidak bisa belajar di bidang apa, Bu?” tanya saya menyelidiki.

“Matematika. Kalau membaca, dia lumayan bisa. Tapi, kalau pas hitung-menghitung, ia seperti sama sekali tidak mengerti.”

“Kalau tidak bisa hitung-menghitung, itu namanya diskalkulia,” kata saya, sambil saya tambahi. “Kalau kesulitan membaca atau menulis, namanya disleksia. Ada juga auditory processing disorder saat otak lalai memproses info suara yang masuk meski sistem pendengarannya baik-baik saja.”

“Yang diskalkulia itu bagaimana?”

“Begini, Bu. Diskalkulia itu bisa terjadi sekitar 4-10% populasi tergantung dari cara mengidentifikasinya ya. Jadi, anak Ibu tidak sendirian. Kadang, anak diskalkulia terdiagnosis seperti ketidakmampuan belajar secara umum. Gejalanya bervariasi tergantung tingkat keparahan kondisinya. Umumnya meliputi; kesulitan memahami dan menghitung angka dasar, kesulitan mengenali pola dan urutan, kesulitan dengan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, kesulitan dengan pecahan, desimal, dan persentase. Kalau kita cerita soal waktu, dia susah memahami. Dia merasa tidak ada bedanya waktu sepuluh menit dengan 20 menit. Kalau belanja, susah ngitung kembalian uang.”

“Oh, betul. Saya melihat anak saya seperti itu. Suka bingung dengan waktu dan uang,” kata ibu itu. “Terus, kalau anak saya memang diskalkulia, baiknya bagaimana?”

“Pastikan dulu dengan tes dan evaluasi komprehensif. Kalau sudah tahu pasti, bantu anak dengan kombinasi intervensi pendidikan dan terapeutik. Bisa dengan les matematika dasar. Bisa dengan memanfaatkan aplikasi teknologi. Bila perlu, tambahi dengan terapi perilaku-kognitif. Kalau dapat dukungan yang baik dan tepat, inshaAllah anak bisa berkembang.”

“Dengan melibatkan berkah Tuhan, ya?”

“Tentu, Bu. Karena ketentuan Tuhan kadang tidak bisa kita mengerti saat awal. Bisa jadi seorang anak dianggap punya masalah dengan hitung-menghitung, siapa tahu justru Tuhan sedang mempersiapkan dia jadi seniman besar saat dewasa.”

Facebook Comments

Comments are closed.