Mengapa ada Ghosting di Balik Online Dating?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada teman yunior saya yang sibuk bekerja dan aktivitas lainnya. Untuk urusan pribadi, tampaknya dia belum memberi waktu cukup. Sampai-sampai, ia cari pasangan di jagad maya.

Setelah chat cukup intens, tiba-tiba ia curhat pada saya. “Mbak, aku di-ghosting sama Ben. Sudah lama chat, pembicaraannya mulai mendalam, eh dua pekan ini dia tiba-tiba hilang. Semua kontak dengan dia lenyap. Mengapa dia koq bisa begitu, ya?”

Saya mencoba memberi penjelasan psikologis pada teman saya itu soal ghosting. Karena saya kenal dia, maka saran yang saya berikan bisa lebih spesifik.

………..

Pembaca yang budiman, ghosting terjadi ketika seseorang yang Anda dekati di jagad maya atau di jagad nyata tiba-tiba memutuskan hubungan, berhenti menanggapi pesan dari pasangan, tanpa penjelasan apa pun. Korban ghosting, seperti teman saya tadi, bisa saja menjadi tidak nyaman karena merasa bingung, frustrasi, sakit hati, dan merasa ditolak.

Tapi, mengapa orang memilih untuk tiba-tiba menghilang seperti hantu? Mengapa tidak bercakap langsung dan jujur jika tentang tidak ingin melanjutkan hubungan? Tanpa bermaksud membela pelaku, saya menemukan beberapa penelitian ilmiah yang mengungkap alasannya;

  • Praktis

Ghosting termasuk cara paling praktis untuk memutus hubungan secara online. Nggak perlu pakai modal, nggak perlu pakai drama, orang bisa pergi begitu saja tanpa perlu khawatir dilabrak di rumah atau kontrakannya.

  • New normal

Ibarat era pasca-pandemi, zaman digital juga memberi era baru dalam hubungan antar personal manusia. Dulu, kalau memulai berpacaran, musti ketemu orang tua, musti janji dan komitmen tertentu, dan sebagainya. Sekarang, untuk memulai hubungan bisa dengan situs dating online. Maka, memutus hubungan pun tinggal ghosting saja. Ini sudah dianggap sebagai kenormalan baru.

  • Merasa wajar saja

Ada pelaku yang mengaku ghosting bisa dibenarkan setelah mereka menginvestasikan cukup waktu dan upaya dalam membina hubungan. Karena merasa sudah cukup, ya sudah… mereka berpikir tidak lagi diperlukan penjelasan untuk memutuskan hubungan.

  • Cupu

Tapi, bisa saja pelaku merasa tidak memiliki cukup keterampilan komunikasi untuk terlibat dalam percakapan terbuka dan jujur tentang hubungan dengan pasangannya. Karena minder, ia mengundurkan diri diam-diam.

  • Tidak ada solusi

Pelaku sudah mencoba beberapa cara lain untuk memutus hubungan. Tapi, si pasangan tidak bisa menerima cara-cara lain itu. Maka, tidak ada pilihan lain selain ghosting.

  • Ada perilaku yang tidak diinginkan

Pelaku terpaksa ghosting karena merasa tidak nyaman pada perilaku pasangannya. Misalnya, si pasangan melakukan pemaksaan, berkomentar rasis, tidak sopan, atau lainnya. Karena pelaku takut akan keselamatan diri sendiri, ia memilih menghilang.

  • Melindungi perasaan korban

Biasanya ini terjadi saat hubungan belum terlalu dalam atau lama. Pelaku cepat menghilang karena ingin menjaga perasaan orang lain. Pelaku tidak ingin orang lain itu merasa sakit hati atau merasa ditolak.

………..

Tentu masih ada lebih banyak alasan bagi terjadinya ghosting. Namun, yang harus dicatat, korban ghosting umumnya merasa tak nyaman karena merasa hubungannya dibantung. Jika menimbang hubungan yang baik dan sehat, harusnya pelaku berani dengan gentle berhadapan dengan pasangan lalu mengungkapkan alasannya secara terbuka. Mungkin ada rasa tak nyaman saat itu, tapi setelahnya masing-masing pihak punya pemahaman.

 

Facebook Comments

Comments are closed.