Menata Mindset untuk Disiplin Diri

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku ditegur bossku. Dia bilang aku nggak disiplin. Beberapa kali gagal deadline,” ada teman yang curhat begitu.

“Apa memang kau nggak bisa mendisiplinkan diri sendiri?” saya bertanya menyelidik.

“Hehehe…sepertinya sih iya. Di tempat kerja, aku sering nggak tahan godaan ngrumpi di grup WhatsApp. Sholat saja, kalau nggak diingatkan teman, aku sering menunda-nunda. Tapi, kalau waktunya makan, nggak pernah lupa haha..”

“Wah, sepertinya kau perlu ‘revolusi mental’,” saran saya. “Bukan seperti yang dijargonkan pemerintah, tapi revolusi mental yang sebenarnya.”

Pembaca yang budiman, jujur saja apa yang dialami teman saya itu sebenarnya juga beberapa kali saya alami. Kalau satu atau dua kali gagal mendisiplinkan diri, mungkin itu masih bisa ditoleransi. Kalau terus-terusan, bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Saat menyarankan ‘revolusi mental’, sebenarnya yang saya maksud adalah menata ulang pola fikir alias mindset. Banyak referensi menyebut, disiplin itu urusan mindset. Jika pola fikir kita sudah tertata dengan baik dan benar, maka cara pandang dan kemudian perilaku kita bakal baik dan benar pula. Kalau mindset kita tentang disiplin sudah benar, maka kita akan disiplin dengan sendirinya.

Banyak penelitian ilmiah menunjukkan, apa yang seseorang yakini tentang disiplin diri berkaitan dengan seberapa berhasil ia dalam mendisiplinkan diri. Tapi, jika ia belum melihat disiplin diri dengan lensa produktif, maka ada cara untuk mengubah mindset-nya. Jika ia berkemauan dan berupaya keras, maka disiplin diri bakal tumbuh lebih kuat.

Disiplin diri di tempat kerja itu kadang berupa kemampuan untuk menahan godaan termasuk gangguan untuk menghindari tugas tertentu. Bisa juga berupa kemampuan untuk bertahan pada tugas saat energi dan motivasi tampaknya sudah hampir habis. Dengan disiplin seperti itu, kita bisa terus mengerjakan tugas sampai tuntas.

Sekarang, bagaimana mindset kita tentang sifat disiplin diri sendiri? Pertama, apakah itu sesuatu yang menggunakan energi internal yang bisa habis saat digunakan? Kedua, apakah itu sesuatu yang justru makin diperkuat saat kita menerapkannya? Jawaban kita bisa mengungkap perbedaan besar dalam seberapa banyak disiplin diri yang kita alami.

Jika merasa pilihan pertama lebih pas, maka kita akan merasa energi pendisiplinan diri cepat terkuras saat digunakan sehingga perlu dipulihkan dengan cara alih perhatian, istirahat, atau bahkan tidur. Jika merasa pilihan kedua lebih pas, maka kita bisa melatih disiplin diri untuk semakin memperkuat dan mengobarkannya. Kita bisa melawan godaan lalu bekerja tetap keras untuk menyelesaikan tugas yang mungkin tidak menarik minat kita.

Nah, ‘revolusi mental’ alias penataan ulang mindset di sini adalah kita harus bisa mengubah dari jawaban yang pertama menjadi jawaban yang kedua.

Tapi, bagaimana caranya?

Coba ingat saat-saat ketika kita memiliki kesulitan awal untuk menahan godaan, memulai sesuatu, atau bertahan menjalankan sesuatu itu, tetapi tetap bisa bangkit dan mencapai tujuan. Apa yang kita ingat itu adalah jenis pengalaman yang bisa membangkitkan keyakinan fikiran kita tentang disiplin diri.

Ketika merasakan kemauan dan motivasi sedang memudar, maka kita ingatkan diri kita tentang pengalaman itu tadi, dan bayangkan hal yang terjadi saat kita mengalami masalah pendisiplinan diri. Ketika ada godaan untuk main ponsel saat mengerjakan tugas, coba bangkitkan kembali memori tentang pengalaman yang sama sehingga otak kita kembali fokus ke tugas yang harus dikerjakan.

Coba juga menggunakan ‘model’ untuk ditiru soal pendisiplinan diri. Cari orang yang kesehariannya memang sangat disiplin. Amati bagaimana ia berdisiplin, tanyai mengapa dan bagaimana ia mendisiplinkan diri. Jadikan informasi tentang orang itu menjadi semacam panutan kita untuk disiplin diri.

Maka, saat kita dalam kondisi kurang disiplin atau sedang tergoda untuk melakukan sesuatu di luar tugas, bayangkan orang itu sebagai model. Bayangkan ia berada dalam situasi seperti kita. Lalu, fokuskan fikiran bagaimana dia mengatasi godaan tidak disiplin. Selanjutnya, kita ikuti pola pikiran dan tindakan dia untuk mendisiplinkan diri kita sendiri.

Tentu, masih ada sejumlah metode menata mindset yang bisa kita lakukan. Yang penting, mari kita pastikan untuk selalu memperkuat mental diri dengan cara yang benar dan baik dan untuk tujuan yang benar dan baik pula sehingga bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Andai mindset kita seperti otot, maka itu bisa seperti otot binaragawan. Hebat, kan?

Facebook Comments

Comments are closed.