Babat Alas Arjosari, Pacitan

Oleh: Muhammad Nurudin

mepnews.id – Pada abad 16 sampai 18, Islam secara umum mulai masuk daerah Wengker Kidul. Pada masa tersebut, para ulama melakukan syi’ar agama sekaligus menumbuhkan rasa nasionalis demi kemerdekaan bangsa dari penjajahan Belanda. Banyak ulama yang masuk ke daerah yang saat ini disebut Pacitan. Antara lain; Syeh Brubuh, Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong, Syeh Magribi, dan masih banyak untuk disebutkan.

Abad ke-18 adalah masa cikal bakal keemasan Islam di kawasan itu. Indikatornya antara lain datangnya para santri pengikut Pangeran Diponegoro setelah Perang Jawi. Mereka antara lain Syeh Yahudo, Mbah Jaiman, Kyai Ali Murtadho, dan masih banyak lagi. Para santri Pangeran Diponegoro ditugaskan untuk bersiar agama sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada negara dengan berjuang melawan penjajah. Termasuk di daerah Arjosari yang kini masuk Kabupaten Pacitan.

Arjosari adalah desa yang terletak di tengah-tengah kumpulan desa lain. Maka, Desa Arjosari punya posisi geografis sangat stategis dari jalan ke arah Ponorogo maupun ke arah Kecamatan Nawangan.

Arjosari juga dijadikan nama kecamatan. Kecamatan Arjosari terdiri dari 17 desa, yakni Desa Gunungsari, Desa Pagutan, Desa Gembong, Desa Borang, Desa Gegeran, Desa Kedungbendo, Desa Jetis Kidul, Desa Mangunharjo, Desa Temon, Desa Gayuhan, Desa Jatimalang, Desa Tremas, Desa Sedayu, Desa Mlati, Desa Karangrejo, Desa Karanggede dan Desa Arjosari.

Desa-desa tersebut memiliki beberapa cerita asal-muasal nama mereka. Selain itu, desa-desa tersebut juga menjadi saksi penyebaran Islam sehingga banyak sekali peninggalan berupa makam, pepunden, atau budaya yang masih terjaga di desa-desa wilayah Arjosari,

Dari frame geografis sebagai latar belakang, wilayah Arjosari konon ceritanya adalah teluk dari lautan. Di wilayah tersebut ada karang indah, sehingga disebut Desa Karangrejo. Ada juga karang yang tinggi dan seluas gunung, maka disebut Desa Karanggede. Di situ juga ada gunung yang indah nan elok, sehingga disebut Desa Gunungsari. Ada hutan jati besar besar berjajar rapi, sehingga disebut Desa Jatimalang. Di ujung terdapat pertemuan sungai yang menjadi kedung luas dan terdapat pohon bendo, sehingga disebut Desa Kedungbendo.

Frame geografis masa itu juga menjadi background kala seseorang bernama Gembong Singoyudo babat alas membangun desa yang disebut Desa Gembong. Kawasan sekitarnya kala itu belum banyak orang, atau disebut  wong arangarang, sehingga sekarang jadi Desa Borang.

Saat babat alas, Gembong Singoyudo bertarung dengan buto (raksasa) di lokasi yang kini disebut Desa Gegeran. Peperangan tersebut berlangsung selama 40 hari sehingga sekitar lokasinya disebut Desa Pagutan.

Buto yang diperangi sakti madra guna, sehingga Gembong Singoyudo membutuhkan semedi untuk mendapatkan petunjuk atau disebut gegayuhan. Maka, tempat ia menggayuh disebut Desa Gayuhan.

Dalam mencari wisik (bisikan informasi dari alam lembut), bertemulah ia pada tempat yang tepat. Tempat itu kini disebut Desa Temon. Orang yang bersemedi membutuhkan wewangian. Tempat bunga wangi dipetik kini disebut Desa Mlati.

Gembong Singoyudo mendapatkan petunjuk berupa keris bergagang emas, maka lokasi keris emas itu kini disebut Desa Tremas. Keris tersebut milik Ki Ageng Sedayu, maka disebutlah Desa Sedayu.

Dengan mendapat senjata keris emas, Gembong Singoyudo berhasil mengakhiri pertempuran melawan buto. Usainya peperangan itu disebut hargosari yang kini menjadi Desa Arjosari.

Itu sejarah berdasarkan kisah-kisah yang ditularkan warga dari mulut-ke mulut. Bagaimana akurasinya, wallohualam bi shawab.

Yang lebih jelas adalah wilayah-wilayah baru. Misalnya, Jetis Kidul adalah hasil pemekaran dari Gembong, dan Mangunharjo adalah desa pemekaran dari Tegalombo.

Warisan Budaya

Banyak seni dan budaya ada di Kecamatan Arjosari. Setiap desa mempunyai pepunden, makam, atau upacara adat untuk mengenang leluhur dan untuk menyampaikan rasa syukur terhadap Tuhan.

Di Desa Mangunharjo, masyarakat setiap tahun melakukan acara bersih desa. Kala itu, biasanya ditampilkan seni Jarana Pluk. Banyak sanggar sanggar seni di desa tersebut. Pertunjukan dilakukan untuk nguri budoyo leluhur dan untuk tolak balak dari marabahaya dan pagebluk.

Di Desa Jetis Kidul, masyarakat setiap tahun mengadakan doa besama (kenduri) dan nyekar mekam makam tua Mbah Mbarep di pepunden desa. Mbah Mbarep adalah cikal bakal desa tersebut. Beliau adik Gembong Singoyudo yang pepundenya di Desa Gembong.

Di Desa Kedungbendo, juga diadakan acara adat istiadat yang sama dengan desa-desa sebelahnya seperti Jetis Kidul dan Mangunharjo. Pada dasarnya, desa Kedungbendo serumpun secara geografis. Acara tersebut antara lain jaranan dan doa Bersama.

Di Desa Gegeran ada banyak sekali punden punden. Bisa dipahami karan konon di sini tempat pertempuran antara Gembong Singoyudo dengan raksasa penunggu wilayah. Gunung jaran sebagai simbol ikonik desa tersebut. Setiap tahun, masyarakat juga melakukan bersih desa dengan cara doa bersama dan nyekar ke pepunden.

Desa Borang terbagi menjadi dua bagian; timur dan utara. Di desa ini ada kisah seorang sakti mandraguna berjuluk Kendil Wesi. Maka, setiap tahun ada acara doa bersama untuk mengenang jasa jasa Beliau. Ada makam di Dusun Ngalian di timur Sungai Grindulu.

Desa Gembong juga sama dibagi dua. Di utara ada makam Mbah Gembong Singoyudo, Mbah Angguboyo dan Mbah Ganduruan yang konon ceritanya masih keturunan Majapahit dan berkuasa dalam wilayah Kerajaan Wengker. Di sebelah timur sungai ada Masjid Wates dan makam Mbah Jaiman.

Mengapa di sebut Wates? Konon ceritanya itu menjadi batas antar desa. Perebutan wates atau batas tersebut sempat diwarnai peperangan. Maka dari itu, setiap tahun masyarakat desa tersebut melakukan bersih desa. Acaranya diisi dengan pertunjukan sholawatan Jawa, reog, dan doa bersama.

Di Desa Pagutan kadang ada mitos 40 hari atau pagut. Kegiatan apapun, acara apapun, jika masuk 40 hari maka akan selesai. Akan tetapi itu hanya mitos. Banyak kegiatan yang langgeng sampai sekarang. Di desa ini juga ada punden Kyai Nguter. Kono kisahnya perebutan wates desa antara Gembong dan Pagutan terjadi dan mengakibatkan kekalahan Kyai Suket. Beliau lalu terbang di Nguter, Sukoharjo (Jawa Tengah). Maka, dusun tersebut dirubah nama menjadi Suketan.

Desa Gunungsari mempunyai tradisi unik. Ketika acara pengantin selesai, maka mempelai wajib membasuh kaki atau mengusap wajah di Sungai Grindulu. Ada mitos, apabila ada pernikahan antara dua dusun di daerah tersebut maka tidak akan langgeng. Ini seperti cerita Golan di Ponorogo.

Di Desa Mlati ada banyak petilasan, temasuk 40 prajurit berkuda tanpa nama. Masyarakat desa ini setiap tahun juga melakukan bersih desa.

Desa Sedayu punya pepunden lumayan banyak. Antara lain Ki Ageng Penongsong, Mbah Ali Mutadho dan lain-lain. Masyarakat juga melakukan bersih desa setiap tahun dengan cara wayangan dan doa bersama.

Desa Tremas, tidak dipungkiri, adalah gudang cerita penyebaran Islam di Arjosari. Di desa tersebut banyak makam ulama atau wali. Di gunung lembu, ada Ki Bagus Aji atau Ketok Jenggot. Di Kulak ada petilasan panji. Pernah ditemukan gong yang sudah menjadi batu, maka disebut Gunung Gong. Setiap tahun ada banyak acara. Antara lain doa bersama, takbir akbar Ied Adha, haul masyaih tremas, dan solawatan Jawa.

Di Desa Gayuhan terdapat makam petilasan Pangeran Panji Gayuhan, Pangeran Antasangin dan makam wates Mbah Rokiban dan Mbah Anis. Di desa itu wilayah embak atau disebut tanah lindu. Konon tanah tersebut tembus sampai ke laut. Gunung Gajah menjadi ikon daerah tersebut karena di atasnya terdapat makam tua yang tertulis kalimat tauhid.

Di Desa Karangrejo ada ikon berupa pemandian air hangat Tirtohusodo. Sumber air hangat keluar dari watu kelir di atas desa. Banyak terdapat petilasan di desa tersebut.

Desa Karanggede punya ikon Bendungan Waduk Tukul. Wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Nawangan dan provinsi Jawa Tengah. Desa ini menyimpan rahasia-rahasia alam yang luar biasa, termasuk petilasan-petilasannya.

Desa Temon punya hal unik yakni ada dusun dengan penghuni hanya 7 rumah. Di sini terdapat situs berkumpulnya para wali. Ada tempat seperti meja besar yang dinamakan dedean. Di samping dedean ada sendang kali yang terdapat lima kedung. Ada bekas telapak dengkul para wali ketika mau menunaikan wudhu.

Di Desa Jatimalang ada petilasan Brawijaya 5 atau disebut Mbah Malangjati. Di tempat petilasan ini diadakan doa bersama. Konon kisah tempat gunung tersebut ujung dari Gunung Lawu.

Desa Arjosari memiliki petilasan disebut Mbah Wongsokerti. Konon Beliau adalah pemimpin perguruan pada zamannya dan menjadi sesepuh desa. Selain itu, Arjosari mempunyai makam masyaih Pondok Kikil yang berada di Dusun Banyuripan. Dusun itu dulunya ada sendang belik yang konon airnya dapat untuk ihtiar menyembuhkan orang sakit.

Sedikit kisah itu tersebar simpang-siur di masyarakat. Dongeng ataupun cerita adalah hal yang biasa terjadi. Akan tetapi, setiap desa di Arjosari masih memegang teguh adat-istiadat leluhur. Penduduknya menjaga adat dari gerusan zaman. Salah satu buktinya, semua desa sebelum Ramadhan melakukan acara gugur gunung (bersih bersih di area kuburan), kirim doa pada leluhur, kenduri, salawatan Jawa, wayangan, reogan, jaranan, dan lain-lain.

  • Tulisan ini diambil dari buku Tadabur Literasi Pacitan.

Facebook Comments

Comments are closed.