Suatu Hari Mukhlis Biwafa 

Oleh: Moh. Husen*

mepnews.id – Selain pertandingan sepak bola Piala Dunia 2022, perbincangan hangat kelas warung kopi juga mulai ramai tentang nomor urut partai politik yang telah bergulir di berbagai media.

Saya ikut nimbrung dan menimpali ala kadarnya agar terasa karib. Namun mendadak muncul wajah berbagai para sahabat saya, yang sepertinya menarik untuk saya tulis satu persatu. Ada sahabat yang baik, ada sahabat yang pura-pura baik, dan macam-macam.

Nah, salah satu sahabat baik yang spontan muncul di benak saya adalah Mukhlis Biwafa. Saya dan dia bukan orang terkenal. Kami bukan bakal caleg 2024. Bagi yang benar-benar tidak mengenal dia, anggap saja dia dan saya sebagai sebuah nama dalam tokoh cerpen atau dongeng.

Singkatnya kata, suatu hari sekitar jam 9 pagi dia menghubungi kawannya via chat WhatsApp: “Posisi?”

Jam 10 siang pesan baru terbalas: “Tangi turu, Cak. Gimana?

Tak pakai lama pesan segera dibalas: “Wah, aku wes suwi ngenteni. Di kopian biasanya ya?” Disertai foto warung kopinya.

“Oke, habis ini otw…”

“Siap…”

Itulah Mukhlis Biwafa yang rela ngopi sendirian sekitar 1 jam karena yang ditunggu masih tidur ngorok.

Akan tetapi apakah dia menunggu selama itu karena sedang mempraktikkan teori delayed gratification alias kemampuan menunggu agar menyadari tak ada yang instan di muka bumi ini?

Ah, ya ndak juga. Terlalu seram kalau ada istilah asing seperti itu dalam kamus dirinya. Mukhlis Biwafa orangnya santai, tulus, dan ikhlas seperti namanya. Mukanya kalem dan jarang sekali terlihat emosional. Wajahnya kategori awet.

Nasibnya juga lumayan baik. Setidaknya dia tidak pernah mengalami pengangguran sembari menggendong anak istri. Hidupnya mulus dan alhamdulillah bisa kawin dan punya anak, meskipun agak telat sedikit.

Saking familiarnya, di Grup WhatsApp dia langganan di-gojlok kawan-kawannya.

Dulu, Guntur Ribut Kumboro sahabat baiknya pernah menasihatinya agak kalem di warung kopi: “Cepet kawin, Pak Mukhlis. Selak tuwek!!!”

Kami semua tertawa. Mukhlis Biwafa tetap santai tersenyum sembari sesekali main game di handphonenya.

Tulisan ini bukan untuk memantik pembacanya secara halus agar meneliti dan mencari sendiri mengenai delayed gratification beserta fungsinya melalui browsing di internet. Juga bukan untuk menceramahi pentingnya keikhlasan agar tak mudah ambruk dalam menjalani hidup.

Melainkan sekedar catatan kecil di siang hari dari warung kopi kehidupan, agar kita semua tidak tegang dalam menyongsong final sepak bola Piala Dunia 2022 serta tahun-tahun politik 2023-2024 mendatang, yang di dalamnya ada hiruk pikuk kampanye, pesta demokrasi Pemilu, nasib wong cilik, Mukhlis Biwafa, dan lain-lain.

Banyuwangi, 16 Desember 2022

 

*Catatan kultural penulis buku Setelah Kalah, Setelah Menang. Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.

Facebook Comments

Comments are closed.