Waduk Pacal dan Warung Sum Semok

Oleh: Endang Puji Astutik

mepnews.id – Simbiosis antara lingkungan dan manusia di sekitarnya bisa kita temukan di mana-mana. Salah satunya di tepi jalan raya Bojonegoro-Nganjuk di Jawa Timur. Di sini, ada simbiosos ‘wa-wa’. Yang bersimbiosis adalah warung dan waduk.

Setiap hari, warung ini ramai pembeli. Dari yang sekadar mampir, sampai yang jadi pelanggan tetap. Pelanggannya pun beragam. Dari penduduk lokal, sampai luar kota bahkan luar propinsi. Dari rakyat jelata biasa saja sampai pejabat daerah.

Warungnya sangat sederhana; bahkan cenderung tak layak. Kursinya dari kayu glondongan yang dijejer dan dipaku begitu saja. Mejanya beralaskan plastik atau banner berbagai iklan produk. Penyajiannya sangat sederhana, begitu pula harganya.

Harga murah namun dijamin wareg (kenyang). Dengan Rp 15.000, pembeli bisa mendapatkan satu paket makanan plus minumnya.

Untuk nasi, pembeli boleh ambil sendiri. Mau ambil nasi jagung, nasi putih, bahkan kadang ada nasi inthi (singkong dijemur, dibuat tepung, lalu dimasak). Ukurannya juga terserah. Sekenyangnya.

Untuk sayur, pembeli juga boleh ambil sendiri. Bisa pilih sayur bening, asem, atau lodeh.

Untuk lauk, telah disiapkan si penjual. Lauknya terdiri dari secobek ikan nila, wader kecil dan kadang ada gloso, dilengkapi sambel kemangi. Ikannya masih segar karena hasil tangkapan nelayan dari Waduk Pacal.

Minumnya, yang juga disiapkan penjual, antara lain teh hangat atau wedang jeruk.

Untuk menambah suasana, pengunjung warung dihibur musik. Jangan bayangkan karaoke atau musik ajib-ajib, tapi cukup alat musik sederhana terbuat dari bambu dengan sound seadanya. Meski begitu, musiknya enak didengar dan suara sang artis juga pas.

Sajian musik sekenanya namun jadi terasa luar biasa di Warung Semok.

Musik itu ditemani full angin semilir. Ya, karena warungnya tak berdinding dan berlokasi di tepi jalan raya.

Lezatnya lauk, angin semilir, dan musik sederhana membuat makan jadi syahdu. Tak terasa, pembeli bisa nambah nasi berulang-ulang sampai kekenyangan.

Di warung ini, servis cepat dilakukan 10 pelayan yang semua ibu-ibu. Mereka dikomando pemilik warung yang bernama Sumiyati.

Pemilik warung ini mempunyai berat badan berlebih. Orang Jawa menyebutnya semok. Sehingga, sekelompok pemuda pelanggannya memberikan nama WARUNG SUM SEMOK.

Bagi yang belum pernah ke warung itu, pasti berfikiran macam-macam. Tetapi, setelah makan di sana, prasangka tersebut langsung berakhir.

Penasaran? Silahkan datang ke Warung Semok di tepi jalan raya Bojonegoro-Nganjuk dekat jembatan, tepatnya di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang.

Setelah perut wareg, Anda bisa melihat destinasi wisata Waduk Pacal. Waduk ini dibangun tahun 1933 oleh pemerintah penjajah Hindia-Belanda dengan kuli rakyat jelata. Banyak yang jadi korban pada masa pembuatannya.

Meski usianya sudah lumayan tua, bangunan tersebut masih kokoh. Masih bisa memberikan pengairan bagi pertanian penduduk sekitar.

Dengan tiket Rp 6.000 per orang, Anda bisa menikmati keindahan pemandangan alami waduk. Setelah naik tangga yang membutuhkan tenaga lumayan, Anda bisa melihat luasnya waduk dari atas.

Sore menjelang Maghrib, Anda bisa menikmati indahnya pemandangan matahari tenggelam. Jika siang, Anda bisa berkeliling waduk menggunakan perahu kecil dengan bayar Rp 15.000 per orang. Anda bisa melihat nelayan dan pemancing beraksi. Anda juga bisa menyaksikan pemandangan hutan yang mengelilingi waduk.

Puas berkeliling, Anda bisa beli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang kebanyakan penduduk sekitar . Di sana juga ada tempat makan dengan fasilitas free WiFi. Jadi, bila Anda ingin bersantai sambil minum kopi namun butuh internet, sudah terfasilitasi.

Dilihat dari luas dan indahnya, Waduk Pacal sebenarnya tak kalah dengan Telaga Sarangan di Magetan atau Waduk Selorejo di Malang. Namun, promosinya kurang sehingga kurang dikenal masyarakat luas. Ini sangat berdampak pada jumlah pengunjung yang datang.

Andai tempat wisata ini dipoles, pasti akan lebih menyedot banyak pengunjung. Polesan itu antara lain misalnya dengan menambahkankan fasilitas permainan anak, kolam renang khusus anak, dan perahu bebek. Bisa juga ditambahi permainan lebih ekstrim seperti flying fox. Juga ditambah fasilitas outbond dan sebagainya.

Selain fasilitas permainan, souvenir beraroma Waduk Pacal dan Bojonegoro perlu diadakan. Misal; kaos Waduk Pacal, batik Bojonegoro atau kerajinan kayu jati khas Bojonegoro, dan sebagainya.

Maka, anak-anak PAUD atau yang lainnya, jika ingin berwisata akhir tahun ajaran, tak perlu jauh-jauh ke luar kabupaten. Di daerahnya sendiri sudah ada tempat wisata yang tak kalah bagus.

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu kerjasama lebih baik lagi antara pihak Perhutani dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Saya yakin keuntungan yang lebih besar bisa didapat meskipun dengan model bagi hasil. Masyarakat sekitar pasti terkena imbas positif dengan bertambahnya pendapatan.

Meski fasilitas masih minim, rekreasi ke waduk Pacal tetap menyenangkan. Dengan kondisi masih alami, tentu kita bisa menikmati kesegaran udara yang semilir dan kita bisa menikmati indahnya pemandangan alam ciptaanNya.

Facebook Comments

Comments are closed.