Oleh: Joni Liwu
mepnews.id – Suasana lengang setelah jeda makan siang. Di kantor ini, Silvester ayah empat anak, hari-hari ini menggeluti rutinitasnya. Lima tahun lagi ia purna bakti. Di masa-masa akhir pengabdiannya, Silvester menjadi sosok yang patut diteladani. Tentang disiplin bekerja, berperilaku, demikian perpakaian, Silvester menjadi pula sosok yang dicontoh di kantor ini.
“Tok..tok..tok..,” sesorang mengetuk pintu ruang.
“Masuk..,” jawab Silvester tanpa melihat sosok di depannya.
Silvester tahu yang selalu masuk ke ruang kerjanya adalah sahabat sekantor. Itu pun untuk urusan-urusan kantor, bukan sekedar ngobrol santai. Mereka biasanya ngobrol santai selalu di kantin, di samping kantor.
Ia sibuk mencermati beberapa laporan hingga tak kunjung melihat sosok di depannya tersebut. Seseorang yang sedari tadi itu pun masih berdiri di depan pintu karena belum dipersilahkan Silvester. Ketika melihat sosok wanita berusia tujuh belasan itu, Silvester terkesima. Ia belum pernah melihat sebelumnya, dan tidak pernah menerima tamu seorang gadis sebelumnya. Diperhatikan dengan saksama, dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Bapak…,” jawab gadis tujuh belasan tahun itu sambil menghampiri Silvester.
Silvester belum juga menjawab karena ia belum pernah melihat gadis ini semenjak ia berkantor di sini. Bahkan sebelumnya pun tidak pernah.
“Bapak, ini saya,” gadis belia itu kini sedang memeluk Silvester.
Wajah Silvester memerah. Ia hendak mengehempaskan gadis itu tapi hatinya tidak tega. Di kantor ini tidak pernah sekalipun seorang gadis memeluknya, apalagi pada jam-jam kantor. Siapapun pasti bingung, mungkin juga marah, jika tiba-tiba seseorang mengaku sebagai anak, sedang sang ayah tidak tahu-menahu.
Belum sempat melepaskan pelukan ke Silvester, air mata gadis itu telah berderai membasahi baju Silvester. Hati Silvester turut prihatin.
“Ya, baik…baik. Coba duduk sebenatr,” pinta Silvester.
Riny, gadis belia itu, kini tepat di depan Silvester. Sepintas hatinya terenyuh. Betapa raut wajah gadis itu mirip dia. Hampir semua menyerupainya. Seolah sosoknya ada dalam diri Riny.
“Bapak kenal Ester?” tanya Riny.
Sontak hati dan pikiran Silvester terpaut pada sosok gadis beberapa puluh tahun silam. Ester, gadis itu hendak dipinangnya. Hasrat itu tidak terpenuhi lantaran keduanya berbeda keyakinan. Keluarga Ester tidak merestui. Meski cinta mereka begitu kuat, tetapi hasrat ego keluarga meluluhlantakan cinta mereka yang sedang bersemi. Rasa antipati keluarga bertubi-tubi menghujam perjaka Silvester yang sedang kasmaran, hingga keduanya tak berdaya. Cinta yang dirajut jadi berkeping-keping. Kata pisah menjadi plihan bagi keduanya tanpa harus melitanikan lagu-lagu cinta yang membingkai cinta nan tulus. Mereka harus berpisah lantaran sangat menghormati orang tua. Pisah yang dibasuh dengan air mata itu tak dinyana meninggalkan benih cinta di rahim Ester. Kini, di depan Silvester, buah hatinya sedang menatap. Tatapan mata seorang anak telah tumbuh dan berkembang tanpa kasih sayang ayah.
Silvester terus menatap bola mata Riny, anak dari darah dan daging yang tidak direstui orang tua Ester. Rini, darah daging yang telah berlanglang buana belasan tahun untuk mencari ayahynya meski mereka sekota.
“Betapa kejam egoisme,” gumam pria yang berkepala lima ini.
Namun demikian, Riny adalah anaknya mesti tidak diakui secara agama maupun hukum adat. Semenjak perpisahan itu, ia telah menikahi gadis lain dan kini telah dikaruinia dua orang anak.
Riny hanya tertunduk. Entah apa yang dipikirkan. Tetapi ia sungguh sangat bahagia, sangat bersuka cita. Terlebih lagi sosok yang ada di hadapannya adalah ayah kandung yang ia sendiri tidak tidak pernah membayangkan sebelumnya. Semua bayangan tentang ayahnya sirna, setelah mengetahui ayah sebenarnya.
Silvester sangat paham jika anak gadisnya ini telah dewasa. Dengan begitu, ia menjelaskan ikhwal sebenarnya kepada Riny. Riny mengangguk pelan. Hampir sejam Riny di depan ayahnya. Ia ingin berlama-lama mengobati rasa rindu berpluluh tahun, namun bukanlah waktu dan tempat yang tepat.
“Itu alamat rumah Bapak,” pungkas Silvester setelah memberikan alamatnya kepada Riny. Riny kemudian meninggalkan kantor ayahnya itu.
Siang nan terik di kota yang dikenal kota karang tidak melunturkan kegembiraan hatinya. Ini bukan soal pulangnya seorang anak yang hilang, tetapi dua hati tertaut, hati sang ayah dan anak.
“Ibu,” Riny menghampiri ibunya sambil menangis.
“Bagaiamna perasaanmu?” tanya ibunya.
“Bahagia, sangat bahagia,” jawab Riny, “Meski sekian lama tidak menemui Ayah, tetapi kerinduanku telah terobati . Terima kasih telah memberi tahu alamat Ayah.”
Riny pun memberitahu ibu, ia akan bertamu ke rumah ayahnya. Memang terasa sungguh berat hati harus menemui anak-anak ayahnya yang juga sebanya dengannya. Tetapi ayahnya telah menguatkan Riny agar tidak ada yang perlu disembunyikan sehingga semua menjadi jelas.
Hari-hari setelah ia mengunjungi keluarga ayahnya membuatnya lebih berbahagia karena keluarga ayahnya menerimanya dengan baik. Oleh karenanya, ia kini bisa berkomunikasi dengan ayahnya tanpa ragu. Baginya, itu bukan salah ibu dan ayahnya. Meski tidak tinggal serumah dengan ayahnya, ia telah memiliki ayah sejati. Riny, kini semakin menyadari betapa di setiap detak jantung ayahnya, ia ada di sana. Itu sudah cukup baginya, tanpa harus hidup bersama ayah kandungnya. Merasa sakit tetapi ia juga tidak hendak mengadili opa dan oma serta keluarga dari mamanya sebagai orang yang paling bersalah karena telah memisahkannya dengan kedua orang tua.
***
Sepenggal kisah di atas mungkin senafas dengan 39 judul tulisan dalam antologi Salam Kangen Buat Ayah. Seluruhnya mengisahkan tentang ayah, tentang kasih sayang, tentang perjuangan ayah, tentang perhatian dari sosok ayah. Ayah meski sosok yang ringkih namun akan tetap memberi dan membagi kasih dengan anaknya. Sosok-sosok ayah seperti itulah yang mengispirasi 39 penulis untuk menarasikannya. Betapa judul-judul kisah seolah memagut pembaca sehingga bisa menelusurinya melalui alur-alur cerita. Detik-detik Terkahir, Jejak-Jejak, Bukan Nabi, Cinta Pertamaku, atau Rasa yang Menyentuh, adalah beberapa dari sekian judul yang dapat memantik.
Pada kisah berjudul Lika-Liku Dua Lelaki, penulis mengisahkan tentang hasrat seorang ayah menyekolah anaknya di SPG (Sekolah Pendidikan Guru ) yang hampir kandas karena persyaratan tinggi badan. Cerita ini menampilkan sosok guru sebagaimana pada kisah lain berjudul Jejak-jejak.
Pembaca juga bisa berlanglang buana ke Raja Ampat, pulau nan eksotis hanya dengan membaca kisah Inspirasi Konservasi, karya Konstantinus Saleo, pendiri dan pengelola Dayan Homestay di Raja Ampat. Betapa ia mengisahkan kegigihan tokoh Leo melestarikan alam Raja Ampat. Ia selalu menghalau atau bahkan mengusir setiap penebang pohon hanya untuk sebuah kata; koscervasi. Bahkan karena keteguhannnya ini, ia harus tewas bersimbah darah karena ditombaki.
“Orang itu mengejar Leo dan melempar dua tombak. Lemparan pertama dengan sasaran Andi Saleo dan anak buahnya. Namun, sasaran meleset dan tombaknya mengenai perahu. Leo berteriak agar Andi an anak buahnya menyelamatkan diri.
Lemparan tombak kedua sasarannya Leo. Leo bisa menghundar lalu berusaha meraih tombak. Namun, lengan kanannya sudah melemah karena darah mengalir deras. Lemparan bakasan Leo meleset. Orang itu mencabut kembali tombak lemparan Leo. Ia melemparkan lagi dan menembus punggung Leo. Leo jatuh di atas lumpur Batanta yang sudah memerah karena darah.”
Pengisahan oleh Konstantinus Saleo begitu runtut, seolah ia meyaksikan pertartungan itu secara langsung. Cerita yang runtun meski pendek tetapi menginspirasi. Pembaca seolah mengalaminya di Raja Ampat.
Secara keseluruhan, kisah dalam buku setebal 199 halaman ini hendak mengusung sosok seorang laki yang heroik. Hubungan antara seorang ayah dengan anak laki-laki atau perempuannya. Sebagai lazimnya, seorang anak perempuan sangat dekat dengan ayahnya. Namun demikian, dikisahkan pula di buku ini tiaak semua penulis perempuan mengisahkan ayahnya sebagai idola.
Itu menjadi hal lain yang menarik dalam buku Salam Kangen buat Ayah dengan editor Teguh Wahyu Utomo ini. Buku yang dicetak oleh penerbit IQRO Semesta Press, bukan saja menjadi sarapan pagi tetapi juga menjadi sajian renyah untuk dilumat di waktu senggang karena bergenre cerita. Siapaun, dari seorang anak–anak hingga orang dewasa bisa membaca buku. Jika seluruh isinya telah dilumat, buku cetakan pertama ini tentu akan menginspirasi pembaca sehingga bisa menulis. Tentu hanya karena satu alasan yang bisa mengompori hasrat itu yakni sosok sang ayah.
Buku ini menjadi menarik bagi siapun untuk membaca. Setidaknya memenuhi beberapa kriteria. Pertama, bermanfaat. Bermanfaat bagi pembaca yang hendak mengisahkan tentang ayahnya dalam bentuk tulisan. Beberapa kisah dalam buku ini bisa menjadi panduan. Dengan demikian, penulis pemula dengan mudah memulainya tanpa harus menjadi plagiat.
Kedua, menghibur. Ada kekuatan dalam karya-karya para penulis buku yang membuat pembaca akhirnya terhibur dan seperti ketagihan untuk membaca esai-esai atau kisah berwujud cerpen. Mesti dipahami bahwa esai yang menarik adalah esai yang menghibur, dan itu ditemukan di buku yang ber-ISBN 978-623-99429-5-3 ini.
Ketiga, unik. Setiap penulis buku ini memiliki karakter yang kuat dalam setiap tulisannya. Penggunaan katanya mengalir namun menggilitik, seakan membangkitkan gelora-gelora dalam dada siapapun yang membaca. Penulis dengan caranya masing-masing, sebuah keberagaman yang menjadi kekuatan di buku ini. Pembaca dapat menemukan kekhasan dalam tiap tulisan.
Jika pembaca kemudian bisa menjadi penulis, tentu akan mampu pula meracik esai-esai yang menarik, yakni esai-esai yang unik dan original pula. Selamat membaca.
Salam Literasi, dari Kota Kupang.


