mepnews.id – Sepuluh instrumen tradisional musik Nusantara berpadu dalam karya Tetabuhan yang mengantarkan Svara Pertiwi Ensemble Universitas Negeri Surabaya (Unesa) meraih juara 2 dalam kompetisi musik internasional di Jepang. Tim bagian dari UKM Symphony Orchestra Unesa itu tampil di ajang 27th Osaka International Music Competition 2026 kategori Folks Instruments Ensemble di Osaka, Jepang, 2–12 Oktober 2026.
Tim ini terdiri atas empat dosen S-1 Musik, yakni Harpang Yudha K., Moh. Sarjoko, Marda Putra M., dan Radhitya Mukti, serta empat mahasiswa yaitu Ahmad Ivav Yunianto Putra, Aurelia Putri Ramadhani, Neiza Chiquita Putri, dan Nabil Zahdiannur R.
Harpang Yudha, selaku dosen pembina, menyampaikan capaian itu hasil kerja keras, kedisiplinan, kreativitas, dan kolaborasi seluruh anggota. Kekuatan konsep musikal dan proses pembinaan menjadi faktor penting dalam menghadapi kompetisi. “Musik tradisional Indonesia memiliki kualitas artistik dan daya saing yang dapat diapresiasi di panggung internasional,” ujar dosen S-1 Musik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) itu, lewat situs resmi unesa.ac.id.
Svara Pertiwi Ensemble membawakan Tetabuhan karya Moh. Sarjoko dengan durasi 7 menit 45 detik memadukan calung, kentongan, bende, ceng-ceng, klunthung, kendang Banyuwangi, hasapi, suling Jawa berukuran kecil dan besar, serta slompret. Perpaduan instrumen dengan karakter bunyi berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi pemain untuk menjaga ketepatan ritme, tempo, dinamika, artikulasi, dan keseimbangan agar seluruh instrumen menyatu dalam komposisi harmonis.
Harpang menjelaskan, persiapan dilakukan melalui latihan bertahap dari penguasaan teknik setiap instrumen, latihan per kelompok, hingga latihan ansambel menyeluruh. Proses itu turut membentuk karakter mahasiswa, dalam hal tanggung jawab, manajemen waktu, kedisiplinan, dan komitmen terhadap target bersama.
Ahmad Ivav Yunianto Putra, mahasiswa S-1 Musik FBS yang tergabung dalam tim, menilai kompetisi di Osaka menjadi ruang pembelajaran untuk mengasah kemampuan musikal sekaligus memahami pentingnya kerja sama dalam ansambel.
“Pengalaman paling berkesan adalah saat menyajikan karya Tetabuhan di hadapan audiens internasional. Kami membawa misi kebudayaan untuk memperkenalkan keragaman instrumen tradisional Indonesia melalui bahasa musik yang dapat dipahami lintas budaya,” ungkapnya. (Puput)



POST A COMMENT.