mepnews.id – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro mengikuti Seminar Internasional ME Awards 2026 yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu 8 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung pukul 07.00–12.00 di Aula Mini Teater, UMM Dome, Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, hadir M. Yazid Mar’i, Mustajid, Suprapto, dan Khoirul Anas.
Seminar internasional tersebut menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri dengan mengangkat isu-isu strategis pendidikan. Dari isu literasi, pengembangan talenta generasi muda, kerja sama pendidikan internasional, hingga transformasi budaya mutu satuan pendidikan.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi PhD, dalam sambutan pembukaan, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi literasi anak Indonesia. Ia menyoroti hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan hanya 25 persen siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai tingkat kecakapan minimum literasi membaca (Level 2 atau lebih tinggi). Artinya, 75 persen lainnya belum mencapai tingkat kecakapan minimum.
Kondisi itu, menurut Didik, menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan Indonesia. “Literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, tetapi harus mampu membawa peserta didik pada kemampuan memahami informasi, menganalisis, bernalar, serta menggunakan informasi secara kritis. Dengan demikian, literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah, tetapi membutuhkan gerakan bersama seluruh ekosistem pendidikan.”
Menurutnya, sekolah muhammadiyah jangan sekadar memenuhi standar minimalis “memenuhi SPM”, melainkan harus bergerak maju menuju standarisasi dunia. Karenanya, sangat perlu melibatkan masyarakat, terutama wali murid, untuk bersama mewujudkan sekolah muhammadiyah berstandar dunia. Muhammadiyah sebagai institusi juga jangan hanya berhenti pada jagon berkemajuan, tapi harus bergerak bersama “kemauan baik” untuk mewujudkan sekolah berkemajuan “standarisasi dunia”.
Seminar juga menghadirkan Dr Ye Su, Konsul Cina di Surabaya. Sebagai pemateri pertama, menekankan pentingnya Indonesia mengelola bonus demografi agar tidak berhenti pada besarnya jumlah penduduk usia produktif tetapi diubah menjadi dividen talenta berkualitas.
Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia memiliki potensi sumber daya manusia sangat besar. Namun, potensi tersebut perlu disertai peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, riset, dan penguasaan ilmu pengetahuan agar generasi muda mampu menjadi kekuatan pembangunan.
Ia lalu menawarkan hubungan lebih kuat dengan Indonesia melalui kerja sama pendidikan, riset ilmiah, dan pertukaran budaya. Generasi muda kedua negara diharapkan dapat saling mengenal, melakukan kunjungan, memperluas wawasan, serta membangun persahabatan jangka panjang.
Pesan yang menarik adalah pentingnya berbagi praktik baik dalam pendidikan. Sekolah yang lebih besar dan maju diharapkan tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri tetapi juga berbagi dengan sekolah-sekolah yang lebih kecil. Guru-guru dari sekolah yang memiliki pengalaman dan praktik baik berbagi metode maupun teknik pembelajaran. Kepala sekolah dapat berbagi pengalaman dalam manajemen dan pengelolaan sekolah. Dengan demikian, kemajuan pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi tumbuh melalui budaya saling berbagi dan menguatkan.
Cina dalam kurun 30 tahun telah mampu merubah wajah pendidikannya menjadi nomor 1 dunia. Mampu mengikis buta aksara hingga nol. Pendidikannya berbasis vokasi, serta keberpihakan pendidikan bagi keluarga yang kurang beruntung.
Materi berikutnya disampaikan Prof Dr Waras Kamdi MPd, Ketua Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP). Ia mengulas paradigma baru bahwa akreditasi perlu ditransformasikan dari sekadar aktivitas pemenuhan dan kepatuhan terhadap dokumen menjadi sistem yang mampu menumbuhkan kesadaran untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Akreditasi idealnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah dokumen sekolah lengkap atau tidak, tetapi harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: apakah sekolah terus bertumbuh dan melakukan perbaikan mutu?Karena itu, budaya mutu perlu tumbuh dalam keseharian setiap satuan pendidikan. Perbaikan tidak hanya dilakukan ketika sekolah menghadapi proses akreditasi, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja seluruh warga sekolah. Paradigma tersebut menempatkan akreditasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai salah satu instrumen untuk memastikan satuan pendidikan terus melakukan refleksi, evaluasi, inovasi, dan peningkatan kualitas.
Keikutsertaan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro dalam seminar internasional ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperluas wawasan dan memperkuat kapasitas pengelolaan pendidikan Muhammadiyah di daerah.
Berbagai gagasan yang disampaikan dalam seminar memberikan sejumlah catatan penting bagi pengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Bojonegoro. Gagasan yang harus mendapat respon: penguatan budaya literasi, pengembangan talenta generasi muda, membangun budaya berbagi praktik baik antarsekolah, serta menjadikan budaya mutu sebagai kebiasaan, bukan sekadar kebutuhan saat akreditasi. Sekolah Muhammadiyah harus terus belajar, berani berbagi, dan membangun budaya mutu agar mampu menghadirkan pendidikan yang semakin relevan dengan tantangan zaman.
Bagi Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, berbagai inspirasi dari forum internasional tersebut diharapkan dapat dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam mendampingi serta mengembangkan satuan pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Bojonegoro. (Tim Dikdasmen PNF)



POST A COMMENT.