Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seperti biasa, saat para sosialita kompleks perumahan sedang arisan, ada saja hal-hal unik yang diobrolkan. Salah satu yang lewat di telingan saya kira-kira seperti ini;
“Eh, kalian tahu gak? Bu Sari romantis banget sama suaminya, ya? Padahal, umurnya sudah 63. Apa masih mampu olahraga malam?”
“Ya, bagus dong. Berarti hubungan mereka langgeng. Anak-anak kan sudah gede dan mandiri di luar kota. Jadi, mereka lebih santai berdua di rumah. Urusan malamnya, ya saya nggak tahu.”
Lalu, saya dengar beberapa orang tertawa kecil.
…………
Pembaca yang budiman, jangan dikira hasrat seksual dan hubungan romantis pasti menurun seiring bertambahnya usia. Ada studi baru yang menemukan bahwa orang berusia 60 – 80 tahun tidak hanya menyatakan hasrat tetapi juga butuh berhubungan seksual. Bahkan, mereka memandang hubungan yang kurang intim secara seksual sebagai hubungan yang kurang lengkap, kurang romantis. Mereka yang melakukan aktivitas seksual bisa merasakan kesejahteraan dan kepuasan hidup lebih besar.
Penelitian dilakukan tim dari University of New Hampshire di Amerika Serikat. Lauren Harrisa pakar Human Development and Family Studies, dan Celia Melansonb pakar Marriage and Family Therapy, mewawancarai 50 pria lajang dan 50 wanita lajang usia 60 hingga 83 tahun. Usia rata-rata 65,6 untuk pria dan 66,8 untuk wanita. Penelitian berfokus pada mengungkap bagaimana kaum manula lajang membingkai keinginan untuk membina hubungan seksual dan romantis baru.
Hampir tiga perempat peserta penelitian menyatakan tidak ingin terikat dalam hubungan jika tidak melibatkan aktivitas seksual. Banyak peserta menyatakan, tidak beraktivitas seksual adalah masalah sehingga menjadi penghalang dalam membina hubungan.
Dean, pria usia 68, mengaku, “Saya masih bisa berhubungan. Jadi, ketiadaan hubungan seksual akan menjadi penghalang. Maksud saya, tanpa hubungan seksual, mungkin hubungan akan berakhir sebagai sekadar persahabatan daripada hubungan lebih serius.”
Evelyn, wanita usia 65, setuju. “Seks harus menjadi bagian dari hubungan. Jika tidak ingin berhubungan seks, apa gunanya menjalin hubungan? Kita bisa berteman tanpa berhubungan seks. Jika hanya ingin berteman, ya tidak masalah. Tapi, jika mencoba menjalin hubungan lebih dekat, maka seks harus menjadi bagian.”
Keintiman tidak menurun seiring bertambahnya usia. Meski demikian, tidak tertutup kenyataan bahwa orang yang berusia lanjut mungkin mengalami tantangan tertentu. Ada yang mungkin menjadi kurang bergairah secara seksual meskipun keinginan tetap kuat. Tubuh mungkin berubah seiring bertambahnya usia karena proses fisiologis seperti menopause atau karena penyakit. Namun, seksualitas tetap penting karena menjadi bagian dari kegembiraan hidup, memberdayakan kekuatan hidup, dan bahkan memberi semangat hidup.
Sebagian peserta penelitian mengakui permasalahan biologis jadi kekhawatiran mereka tentang berhubungan seksual di usia lanjut. Namun, mereka memandang hal-hal ini sebagai keniscayaan yang harus diatasi, bukan sesuatu yang mencegah mereka menikmati hubungan.
Maka, beberapa peserta penelitian mengaku yang penting ada hubungan seksual. Frekuensi hubungan jadi kurang penting. Howard, pria usia 62 tahun, yang lebih penting untuk kesehatan hubungan adalah koneksi fisik; bukan frekuensinya.
Beberapa peserta penelitian juga mengaku seks di usia tua mungkin tidak mengandung semangat dan kenikmatan seperti saat usia dewasa muda. Namun, kondisi ini tidak menihilkan nilai atau pentingnya unsur seks dalam suatu hubungan.


