Pelukis pun Butuh Buku

mepnews.id – Pelukis pameran lukisan; itu sudah biasa. Tapi, pelukis me-launching buku biografi, itu luar biasa. Pelukis yang agak laen itu bernama Djoeari Soebardja.

Cak Djoe, begitu teman-teman biasa memanggilnya, adalah pelukis dari Batu di Jawa Timur yang karyanya sudah go international. Saat melakukan retrospeksi puluhan tahun berkarya, sekaligus merayakan ulang tahun ke-64, ia menggelar pameran tunggal ‘Cloud Maker’ di Galeri Raos pada 13 – 28 Juli 2024.

Yang menarik, sebelum pembukaan pameran lukisan setelah Maghrib, dua jam sebelumnya di tempat yang sama ia meluncurkan buku berjudul ‘Djoeari Soebardja Sang Penebar Virus’.

Dengan semangat penebar virus, Cak Djoe menjelaskan, “Di Batu, belum ada pelukis yang menghasilkan bukunya sendiri. Kalau bukunya dibuat orang lain, banyak. Maka, saya ngompori agar pelukis-pelukis lain juga bisa menghasilkan buku. Pelukis itu butuh buku.”

Pelukis memang perlu buku, terutama biografi. Gunanya antara lain untuk dokumentasi dan rekaman sejarah yang mencatat perjalanan hidup dan karier si pelukis dari awal hingga pencapaian tertinggi. Bagi pihak lain, buku biografi dapat menjadi sumber inspirasi bagi pelukis lain dan orang-orang yang tertarik pada seni. Kalau untuk promosi dan pemasaran, buku biografi dapat membantu pelukis memperluas jangkauan dan audiens. Buku bisa tersebar ke kolektor, peminat lukisan, perpustakaan, kampus dan tempat kajian lain. Dengan adanya buku biografi, pelukis dapat memastikan kisah hidup dan karya mereka diabadikan dan dikenali generasi mendatang.

Maka, buku Djoeari Soebardja Sang Penebar Virus ini berisi tulisan dari orang-orang yang mengenalnya. Bagian pertama, panjangnya 40 halaman, ditulis oleh Syamsu Soeid seniman perupa yang juga teman dekat Cak Djoe sejak era ingusan. Halaman lain diisi tulisan Slamet Henkus, Bambang BP, Koeboe Sarawan, Badrie, Watoni, Rokhim, yang sama-sama pelukis, Akhmadi Budi Santoso aktivis seni rupa, Wahyudin kurator, Nurochman DPRD Batu. Dari kalangan akademisi antara lain Profesor Ponimin, Dr Djuli Djatiprambudi,  Dr. Zuhkhriyan Zakaria, I Kadek Yudi Astawan MSn. Juga ada berbagai tulisan dari berbagai kalangan, melengkapi sejumlah lukisan yang pernah dibuat Cak Djoe.

Dari tulisan-tulisan dalam buku ini tampak bahwa Cak Djoe bukan sekadar pelukis tapi benar-benar virus organisasi. Sejak kecil, ia menjadi penggagas gerakan pecinta alam. Di kalangan pelukis, ia turut memelopori workshop yang melahirkan banyak pelukis lain dari Batu. Ia juga salah satu pendiri awal organisasi Pondok Seni Batu. Ia juga berperan dalam pendirian Galeri Raos. Di SMPN 1 Pujon di Kabupaten Malang, ia membuat terobosan aneh yang menghasilkan prestasi. Sejumlah karya muridnya ikut dipamerkan di Galeri Raos. Banyak juga mahasiswa yang kini nyantrik padanya sehingga menghasilkan karya ilmiah atau karya seni.

Nah, buku ini menjadi salah satu kesaksiannya.

Facebook Comments

Comments are closed.