Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Di jaman serba canggih, berbagai pekerjaan dan kegiatan yang biasanya membutuhkan waktu serta tenaga kini bergeser menjadi penuh kemudahan. Perusahaan, pertanian, perdagangan dan bidang pekerjaan lain, yang biasanya menggunakan otot sebagai tenaga bahkan fikiran, sudah mulai tergantikan robot dan mesin canggih lainnya. Antrian, yang biasanya membutuhkan jeda tunggu dan berjarak seperti pemesanan makanan, minuman, tiket atau kebutuhan lain, sekarang terpangkas dengan satu kali sentuhan.
Muncullah kemudian pertanyaan; masihkah peran manusia dibutuhkan atau sudah terkalahkan teknologi? Pertanyaan yang lebih radikal; apakah alat canggih ciptaan manusia akan mengalahkan ‘penciptanya’?
Sebagai orang beragama apalagi beriman, kita tentu harus yakin bahwa manusia adalah makhluk ciptaan terbaik dari semua makhluk yang diciptakan. Penciptaan manusia sangatlah sempurna, dan tidak bisa tertandingi dengan ciptaan apa pun yang mampu diciptakan manusia. Semua alat bisa canggih karena teknologinya. Semua teori bisa sempurna karena experiment-nya. Tetapi, tidak ada alat secanggih apa pun yang diciptakan manusia yang mampu menandingi ciptaan Tuhan. Ia adalah ruh dan perasaan.
Dua makhluk ciptaan ini memang tampak sederhana. Tapi, tanpa keduanya, manusia tidak akan disebut sebagai manusia.
Raga dan tubuh manusia, ketika ditinggal ruhnya, disebut mayat. Apa pun identitas seseorang, bila ditinggal ruhnya, juga berganti nama menjadi mayat. Ruh memiliki peran penting untuk menjadikan manusia menyandang predikat sebagai manusia. Dengan ruh, tubuh manusia bisa bergerak, bernafas dan melakukan aktivitas.
Robot bisa terbuat dengan segala kecanggihannya, tetapi tidaklah sefleksibel manusia yang jasadnya digerakkan ruh. Secanggih dan sehebat apa pun teknologi yang dibuat manusia, pasti ada batas. Tapi, tidak ada batas untuk ruh. Selama ruh masih melekat pada tubuh, maka apa pun bisa dilakukannya. Termasuk membuat alat yang dikatakan canggih itu sendiri.
Perasaan juga memiliki peran penting yang bisa mensifati manusia agar disebut manusia. Perasaan memunculkan rasa empati kepada sesama, saling asuh dan asih, menghormati, menyayangi. Tapi, perasaan bisa juga memunculkan sifat sebaliknya; jahat, sadis, dan sejenisnya. Bisa disebut orang yang tidak berperikemanusiaan bila sudah hilang perasaan dalam dirinya.
Perasaan yang ada pada diri manusia sebenarnya dapat dirumuskan sebagai fungsi manusia dalam menghayati nilai suatu objek. Perasaan juga bisa berarti suatu jenis aktifitas psikis di mana manusia langsung mengalami atau menghayati sebuah nilai. Manusia yang memiliki value akan menjadi manusia mulia dari kebaikannya. Sebaliknya, manusia yang hilang perasaan, tidak peka, karena pengaruh energi negatif, maka dia kehilangan identitasnya sebagai manusia. Sebutan syetan, nama-nama hewan seperti anjing, monyet, cukuplah menggambarkan bahwa manusia itu telah kehilangan identitasnya sebagai manusia.
Karena memiliki ciri universal, subjektif, labil, dan bervariasi, maka perasaan yang dimiliki masing-masing manusia antara yang satu dengan lainnya berbeda. Mereka bisa tertawa karena perasaannya bahagia. Mereka bisa menangis karena perasaannya terluka atau bersedih. Mereka pun bisa menangis karena bahagia dan atau tertawa karena merasakan kesedihan. Ini hebatnya pengaruh perasaan terhadap diri manusia.
Oleh karenanya, dengan ruh dan perasaan itulah manusia tidak akan bisa terkalahkan alat teknologi secanggih apa pun mereka bisa diciptakan. Aplikasi, robot, atau alat canggih lainnya itu buatan manusia. Mereka tidak memiliki ruh dan perasaan. Mereka hanya bisa melakukan batasan sesuai setting keterbatasannya. Selebihnya, dia tidak bisa beradaptasi dengan sesuatu yang baru atas dirinya.
Bandingkan dengan manusia yang bisa berbuat fleksibel, belajar dan beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Dari ruh dan perasan bisa muncul sifat yang dimiliki teknologi, tetapi bisa berbeda kemaslahatan sebagai hasil akhirnya. Contohnya, kejujuran. Robot atau alat canggih bisa jujur, dan tidak bisa bohong dari apa yang telah di-setting dalam programnya.
Tentu, kalau diprogram baik, hasil piranti teknlogi itu pasti kebaikan. Sebaliknya, apabila diprogram tidak baik, hasilnya tetap baik bagi alat itu karena sesuai perintah meskipun hasil nyatanya berdampak kekacauan, kecurangan dari ketidakjujurannya. Itulah kejujuran yang dimiliki alat yang tidak memiliki ruh dan perasaan. Mereka hanya bekerja seperti apa yang telah diperintahkan, tidak ditambah juga dikurang. Serta, mereka tidak mampu merasakan apa dampak yang timbul dari apa yang telah dikerjakan. Tak pelak, piranti teknologi yang tak punya ruh dan perasaan itu tidak bisa melakukan intropeksi diri atas semua kesalahannya.
Kejujuran yang dimiliki manusia itu berbeda. Kejujuran manusia berlandaskan perasaan sehingga melahirkan ketulusan. Mereka bisa langsung melakukan intropeksi apabila melakukan kesalahan atau kejahatan. Mereka bisa memperbaikinya secara otomatis untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Atau, bahkan bisa saja manusia melakukan ketidakjujuran tetapi demi kemaslahatan orang banyak, menyelamatkan jiwa yang terancam, dan lain-lain. Ini semata karena perasaan yang menggerakkan.
Itulah yang membedakan manusia dengan alat canggih. Fleksibilitas yang dimiliki manusia tidak akan pernah mampu ditandingi oleh teknologi secanggih apa pun.
Wallahu a’alam bishawab.


