Wadidaw… Perempuan yang Psiko Ternyata Banyak Juga

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat istirahat, ada teman dekat mau curhat. “Mbak, saya punya perasaan aneh tentang Fulana.”

“Ada apa? Dia sepertinya perempuan baik-baik saja,” saya menanggapi.

“Sepertinya, dia menyembunyikan sesuatu. Saya sering lihat dia berbohong kepada bosnya. Saat saya tanya, dia langsung mengubah topik pembicaraan.”

“Kamu yakin itu tidak sekadar kesalahpahaman?”

“Mungkin. Tapi, tatapan matanya membuat tidak nyaman. Sepertinya dia psikopat.”

………..

Pembaca yang budiman, psikopat adalah orang yang mengalami gangguan mental. Tanda-tandanya antara lain kurangnya empati, penurunan rasa bersalah, dan berperilaku antisosial, tidak memiliki empati terhadap orang lain, sering tidak mempedulikan konsekuensi sosial atau hukum atas tindakan mereka, sering menunjukkan perilaku manipulatif, sering bohong, kurang tanggung jawab atas tindakannya. Dalam bahasa gaul, ini biasa disebut ‘psiko’ –meski istilah gaul ini tidak cukup akurat tapi lumayan populer.

Ada berbagai faktor yang bisa memicu kondisi psikopati. Faktor genetik dapat memainkan peran dalam kecenderungan perilaku psikopati. Kondisi lingkungan, misalnya kekerasan dalam keluarga, juga bisa memicu psikopati. Pengalaman traumatis, misalnya pelecehan fisik atau penganiayaan pada masa anak-anak, juga bisa mengganggu perkembangan empati dan interaksi sosial. Bahkan, ketidakseimbangan dalam sistem saraf dan neurotransmiter tertentu dalam otak juga dapat memainkan peran dalam pengembangan psikopati.

Otak seorang psikopat biasanya punya beberapa perbedaan dalam struktur dan aktivitas jika dibandingkan orang normal. Misalnya, penurunan volume atau aktivitas dalam area korteks prefrontal ventromedial dan amigdala yang terkait dengan pengolahan emosi.

Kabar paling baru, dan cukup mengejutkan saya, adalah prevalensi perempuan untuk jadi psikopat ternyata cukup tinggi.

Biasanya, orang beranggapan kaum laki-laki lebih cenderung gampang terkena psikopati. Bahkan, ada pakar yang menyebut perbandingan antara laki-laki psikopat dan perempuan psikopat sekitar 6;1. Namun, Profesor Clive Boddy dari Universitas Anglia Ruskin di Inggris mengklaim rasio itu sekitar 1,2;1. Profesor yang berspesialisasi dalam bisa psikopati perusahaan itu menyatakan, angka kecenderungan perempuan psikopat itu sekitar lima kali lebih tinggi daripada yang ditera sebelumnya.

Mengapa bisa demikian? Psikopat perempuan tidak terlalu terdeteksi karena adanya bias gender. “Orang-orang umumnya menghubungkan karakteristik psikopat dengan laki-laki dibandingkan dengan perempuan,” kata Prof Boddy, yang sejak 2005 telah meneliti efek kondisi psikopati di tempat kerja.

“Meski perempuan menunjukkan beberapa ciri utama psikopati, ia tidak terlalu dianggap sebagai psikopat. Hal-hal semacam tidak tulus, berbohong, tidak empati, dan kurang memiliki kedalaman emosi dan sejenisnya, lebih dipandang sebagai karakteristik laki-laki. Padahal, perempuan juga banyak yang begitu,” lanjutnya.

Saya sendiri merasa, hubungan antara bias gender dan kecenderungan psikopati ini memang cukup rumit dan tergantung pada konteksnya. Memang sejumlah penelitian menunjukkan psikopati lebih umum pada laki-laki daripada perempuan sehingga mengarah pada stereotip bahwa psikopati lebih sering terjadi pada laki-laki. Namun, psikopati dapat diekspresikan dengan cara berbeda antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, psikopat perempuan lebih bisa menggunakan manipulasi interpersonal dan kecerdasan emosional untuk mencapai tujuan mereka. Sementara, psikopat laki-laki cenderung menunjukkan agresi fisik atau perilaku antisosial yang kasar. Ini yang membuat psikopati perempuan tidak terlalu tampak di permukaan.

Facebook Comments

Comments are closed.