Bandar Safety, Aplikasi Integrasi untuk Atasi Risiko K3

mepnews.id – Guna membantu menganalisis risiko kecelakaan kerja dalam perusahaan, Tim Matching Fund (MF) Kedaireka dari kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Pelindo Terminal Petikemas (TPK) menciptakan inovasi bernama Bandar Safety. Inovasi ini dirancang untuk mengedukasi dan mengintegrasikan berbagai alat bantu seputar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Ketua Tim MF Kedaireka ITS x Pelindo TPK, Dr Adithya Sudiarno IDipNEBOSH GradIOSH, menjelaskan inovasi diawali dari kerja sama ITS dengan Pelindo TPK dan Dewan K3 Provinsi Jawa Timur. “Kolaborasi ini menghasilkan aplikasi berbasis web sebagai layanan untuk meningkatkan budaya keselamatan para stakeholder dan industri lainnya,” tutur dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS tersebut.

Tim pembuat Bandar Safety.

Bandar Safety memiliki tiga fitur utama untuk mengendalikan potensi bahaya di lingkungan kerja. Salah satunya Safety Model Canvas (SMC).

Adith menerangkan, model pengukuran budaya keselamatan yang dikembangkan sejak 2018 tersebut dapat digunakan untuk memahami, menilai, mengevaluasi, dan memberikan saran perbaikan dari kondisi K3 pada perusahaan.

Dalam SMC terdapat delapan dimensi dengan lima indikator asesmen pada setiap dimensi untuk mengukur level keselamatan organisasi. Setelah dilakukan pengukuran, fitur ini memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan level keselamatan.

“Jadi, SMC ini instrumen untuk mengukur kematangan budaya K3 di suatu perusahaan yang dilengkapi database guna melakukan perbaikan,” jelasnya.

Adith menyampaikan, terdapat fitur ErgoKu sebagai alat bantu ukur potensi bahaya ergonomi yang diadaptasi dari Standar Nasional Indonesia (SNI) 9011 Tahun 2021. Fitur ini terbagi menjadi dua jenis survei, yakni Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja (Gotrak) dan Ergonomic Risk Factor (ERF).

Pada survei Gotrak, asesor berfokus pada potensi gangguan otot yang dapat terjadi pada pekerja saat di lapangan. Survei ERF berfokus pada analisis risiko ergonomi yang terjadi di lingkungan kerja. Setelah menemukan potensi bahaya, asesor akan menilai tingkat keparahan potensi bahaya guna mengatasi dan menghindari bahaya benar terjadi.

Fitur terakhir Bandar Safety ialah House of Risk for Safety, Health, Environment, etc (HORshe). Fitur ini menjadi metode alternatif bagi organisasi mengelola manajemen risiko K3. Dengan berbasis spreadsheet, HORshe dirancang untuk memberikan mitigasi serta meminimalisir risiko dengan mengaplikasikan hazard control hierarchy dan model SHELL.

Selain telah terdigitalisasi, penggunaan HORshe memudahkan asesor dalam mengidentifikasi potensi bahaya. Hal ini karena proses identifikasi yang dilakukan berdasarkan proses bisnis.

“HORshe dapat menggabungkan atau mengaitkan beberapa solusi menjadi satu, sehingga satu solusi dapat menyelesaikan berbagai macam risiko,” ucapnya.

Web Developer dari Bandar Safety, Adi Wira Pratama, menyampaikan ketiga fitur tersebut dapat diakses gratis pada situs bandarsafety.com. Dalam situsnya, terdapat tutorial penggunaan fitur pada Bandar Safety dan e-learning seputar K3.

“Bandar Safety sendiri untuk seluruh organisasi atau perusahaan yang membutuhkan keselamatan kerja,” papar mahasiswa DTSI ITS angkatan 2021 tersebut.

Melalui kolaborasinya, Bandar Safety berhasil meraih berbagai penghargaan dari Kaohsiung International Invention and Design Expo (KIIDE) 2023 di Taiwan pada akhir November.

Dengan prestasi yang didapatkan, Adi mengungkapkan inovasi ini akan terus dikembangkan dalam hal teknis penggunaan maupun fitur di dalamnya. (M. Aulia Zikra)

 

Facebook Comments

Comments are closed.