Memahami dan Mengatasi Suicidal Behavior

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Saya awali tulisan ini dengan disclaimer. Tulisan ini bukan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri, tapi untuk memahami perilaku bunuh diri agar kita bisa segera mengenali kecenderungannya dan mencoba menanganinya dengan bijak.

Jujur, saya prihatin dengan sejumlah berita bunuh diri. Terkini, saya dengan kabar seseorang terjun dari lantai 12 gedung kampus di Malang. Sebelumnya, ada kabar seseorang gantung diri di kos-kosan mahasiswa di Sleman, ada mahasiswi yang menabrakkan diri di kereta api di Tulungagung, ada guru yang mengajak keluarganya bunuh diri di Malang, dan banyak lagi lainnya.

Bahkan, saya prihatin saat drg R Vensya Sitohang M Epid Direktur Kesehatan Jiwa di Kementerian Kesehatan RI mengungkap catatan kasus bunuh diri tahun 2022 menyentuh angka 826 orang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rekor terbanyak Singapura sepanjang 2023 yang sejauh ini tercatat 476 korban. “Untuk catatan 2023 di Indonesia, datanya masih kami validasi,” kata drg Vensya.

Suicidal behavior alias perilaku bunuh diri merupakan fenomena kompleks dan memiliki banyak aspek, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tidak ada penyebab tunggal dari pikiran atau tindakan bunuh diri secara umum, dan pengalaman setiap individu adalah unik.

Ada beberapa faktor risiko yang mungkin berpengaruh pada kecenderungan bunuh diri. Faktor-faktor ini dapat bervariasi dan saling terkait dengan cara kompleks. Antara lain;

Gangguan kesehatan mental. Banyak orang yang bunuh diri memiliki gangguan kesehatan seperti depresi, bipolar, skizofrenia, atau penyalahgunaan zat terlarang. Gangguan ini memengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku sehingga meningkatkan risiko bunuh diri.

Faktor psikologis tertentu dapat mendorong kecenderungan bunuh diri. Antara lain perasaan putus asa dan tidak berharga. Persepsi yang terdistorsi terhadap realitas atau ketidakmampuan mengatasi tantangan hidup juga bisa mendorong kecenderungan bunuh diri. Perasaan terkucil, kesepian, kurang mendapat dukungan sosial juga dapat berkontribusi.

Individu yang pernah mencoba bunuh diri di masa lalu mempunyai risiko lebih tinggi untuk melakukan upaya serupa di masa depan.

Faktor biologis tertentu, seperti riwayat bunuh diri dalam keluarga, genetika, dan perubahan fungsi neurotransmitter, dapat berkontribusi terhadap kerentanan individu. Masalah kesehatan kronis atau nyeri parah dapat memicu pikiran bunuh diri, terutama jika individu merasa tidak ada perbaikan pada kondisinya.

Akses terhadap sarana mematikan, termasuk senjata api atau obat-obatan, dapat meningkatkan risiko bunuh diri.

Di era digital global dengan banyak konten media sosial saat ini, ada tambahan faktor berupa peniruan terhadap perilaku idola atau public figure. Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘contagion effect‘. Orang awam mungkin mengidentifikasi diri dengan idolanya. Jika si idola bunuh diri, ada kemungkinan pengidola merasa terdorong untuk meniru perilaku tersebut.

Lalu, bagaimana mengurangi kecenderungan bunuh diri di era kini? Butuh upaya bersama dari berbagai sektor; individu, teman, keluarga, komunitas, lembaga kesehatan, dan pemerintah.

Secara umum, perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kesehatan mental, menghilangkan stigma, dan memberikan informasi akurat tentang tanda-tanda dan risiko bunuh diri. Bisa dilakukan sosialisasi di lembaga pendidikan atau yang sejenis tentang program-program kesehatan mental untuk mengelola tekanan emosional.

Kemudian, perlu penguatan dukungan sosial. Jangan sampai ada individu yang terisolasi, tingkatkan koneksi antarindividu melalui program-program komunitas, mendorong lingkungan yang inklusif. Jika akses dukungan sosial terbuka, individu tidak perlu menahan sendiri semua penderitaan.

Pendekatan harus holistik dan bersifat berkelanjutan. Kolaborasi dan koordinasi antara berbagai pihak dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung untuk individu yang mungkin mengalami tekanan mental.

Facebook Comments

Comments are closed.