Oleh: Dwi Lailatul Fitriyah
mepnews.id – Kercengan merupakan salah satu kesenian yang unik dan kompleks di Pulau Bawean. Di dalamnya terdapat unsur seni musik, unsur seni tari, dan unsur keagamaan. Gerakan tari atau ruddet biasanya berbeda dan disesuaikan jenis lagu yang dinyanyikan. Lagu-lagunya mengandung arti kecintaan terhadap Allah dan Rasullulah, yang tertuang pada setiap baitnya.
Alat musiknya terdiri dari sejumlah rebana/terbang khusus yang memiliki bidang badan lebar dan terbuat dari kayu. Ukuran kekencangannya berbeda, tergantung bentuk dan ukuran. Lagu-lagu yang dinyanyikan umumnya dari kitab Barzanji. Namun, pada perkembangan selanjutnya, juga ditemukan syair berbahasa Bawean maupun berbahasa Indonesia. Namun, isi dari syair lagunya tetap pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat Islam.
Kercengan biasanya dilengkapi 15 – 30 penari dan 10-15 penabuh. Para penari duduk bersama dalam satu atau dua baris syaf. Gerakannya terinspirasi dari huruf hijaiyah lafadz-lafadz suci agama Islam. Dulu, pemain yang laki-laki dan yang perempuan dipisah karena terkait agama. Seiring zaman, ada juga perkembangan. Dalam kercengan campuran, perempuan jadi penari dan laki-laki sebagai penabuh. Vokalisnya bisa laki laki dan/atau perempuan.
Seni kercengan masih sangat terjaga di tengah masyarakat Bawean karena sering diangkat dalam ajang festival, kondangan pengantin, atau acara lain. Setiap dusun memiliki tari Kercengan dengan corak tersendiri dengan nilai serta filosofi kreatifnya masing-masing. Ini kemudian dipertahankan dari generasi ke generasi.
Yuk, datang ke Bawean untuk menikmati keindahan seni ini.


