mepnews.id – Bersin-bersin, badan meriang, sendi-sendi terasa mau lepas semua, perut terasa begah, diare, dan banyak lagi. Kondisi demikian biasanya bermunculan saat musim hujan. Ini membuat sebagian orang mengidentikkan musim penghujan dengan musim penyakit.
Ya, itu ada benarnya. Musim hujan memicu timbulnya berbagai infeksi yang disebabkan bakteri, kuman, virus, maupun parasit. Kondisi cuaca maupun lingkungan saat musim hujan sangat mendukung percepatan pertumbuhan agen penyakit.

Vella Rohmayani, dosen Unmuh Surabaya
“Kondisi hujan membuat kelembaban udara jadi tinggi, sehingga lingkungan menjadi ideal untuk berkembangnya mikroorganisme. Bakteri, kumann, virus dan parasit dapat bertahan hidup lebih lama dan berkembang biak dengan baik saat kelembaban udara tinggi,” ujar Vella Rohmayani, dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM), Program Sarjana Terapan, Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.
Lewat situs resmi um-surabaya.ac.id edisi 6 Desember 2023, ia mengungkapkan musim hujan juga seringkali menciptakan genangan air dan penampungan air lainnya sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk penular penyakit DBD, malaria, chikungunya, kaki gajah serta penyakit lainnya.
“Hujan deras juga dapat mengakibatkan penurunan kualitas air minum karena pencemaran dan kontaminasi mikroorganisme yang bisa mengakibatkan berbagai infeksi saluran pencernaan,” kata Vella lagi.
Musim hujan sering dibarengi kondisi langit mendung yang menyebabkan minimnya sinar matahari. Hal ini membuat sumber vitamin D alami dari sinar matahari tidak bisa didapatkan maksimal. Sistem kekebalan tubuh manusia menurun dan membuat tubuh lebih rentan terinfeksi bibit penyakit.
“Oleh sebab itu, saat musim hujan tiba, pastikan selalu menjaga kebersihan tubuh, mengkonsumsi makanan sehat, konsumsi vitamin, sehingga daya tahan tubuh stabil dan dapat meminimalisir risiko infeksi mikroorganisme,” ia menasihatkan.


