Catatan tentang Cari Jodoh Lewat Kencan Online

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Duluuu, dan masih ada beberapa di masa kini, orang yang menikah dijodohkan oleh orang tua. Kini, pilihan lebih terbuka. Bukan cuma comblang offline, di era digital ini banyak situs-situs perjodohan online.

Nah, suatu hari, seorang kemenakan saya curhat soal jodoh online ini. Ia mengaku bertemu seseorang, terus chat lebih akrab, dan ngajak bertemu offline.

Saya pun menasihatkan, silakan saja bertemu via online atau offline. Kita nggak pernah tahu jodoh dikirim Tuhan lewat jalur mana. Tapi, antisipasi dan kewaspadaan tetap perlu untuk menjaga diri saat ini dan di masa datang.

Belakangan, semakin banyak orang menengok situs-situs kencan online untuk mendapatkan bantuan menemukan ‘orang yang tepat’. Konon, 1 dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat (dan 20 % berusia di bawah usia 30 tahun) bisa menjalin hubungan ikatan lebih serius setelah bertemu melalui situs online.

Tentang masa depan hubungan setelah pertemuan via online itu, Liesel Sharabi PhD associate professor di Hugh Downs School of Human Communication dan Director of the Relationships & Technology Lab di Arizona State University, melakukan survei bersama timnya.

Survei ini membandingkan pernikahan 923 orang yang bertemu pasangan lewat kencan online maupun offline. Yang bertemu online diperkenalkan melalui berbagai situs web dan aplikasi. Yang bertemu offline diperkenalkan melalui teman, kantor, dan sekolah, dan banyak lagi.

Selain pertanyaan tentang data dasar demografi, riwayat kencan, dan karakteristik pribadi, tim peneliti juga menanyakan tentang dua penanda kualitas perkawinan: kepuasan dan stabilitas.

Apa temuannya?

Data menunjukkan, ada bias seleksi pada tipe orang yang menemukan cinta secara online. Dibandingkan dengan yang offline, orang yang berkencan secara online berusia lebih muda, punya lebih banyak pengalaman kencan, baru menikah.

Bagaimana dengan kepuasan dan kualitas hubungan? Adakah perbedaan kualitas pernikahan pasangan yang bertemu melalui kencan online dan yang bertemu secara offline?

Sepuluh tahun lalu, Sharabi mencatat arah lebih positif saat orang-orang yang kencan online melaporkan pernikahan lebih memuaskan dan stabil. Saat ini, keadaannya terbalik. Orang yang kencan secara online melaporkan pernikahan yang kurang memuaskan dan kurang stabil dibandingkan dengan orang yang bertemu pasangannya secara offline.

Roda zaman terus bergerak, dan penggunaan situs kencan online juga berkembang. Dulu, situs online mungkin untuk orang yang betul-betul mencari jodoh. Sekarang, mungkin sekadar untuk orang iseng. Sampai-sampai muncul stigma negatif tentang kencan online.

Maka, jika awalnya bertemu seseorang secara online, ada baiknya untuk berkenalan lagi secara offline. Untuk mengurangi risiko, ada baiknya juga jika meminta pihak ketiga untuk turut serta bertemu offline.

Perkenalan secara offline ini bisa untuk verifikasi apakah orangnya benar-benar seperti yang tergambar saat online. Jangan sampai, yang terbayang hanya yang baik-baik saja, tapi saat pertemuan tampak banyak buruknya.

Facebook Comments

Comments are closed.