Sesekali Boleh Marah untuk Mencapai Sasaran

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya sering ngobrol dengan salah satu kemenakan yang sifatnya sangat sabar, nriman dan sumeleh. “Sesekali mbok ya kamu ini marah, anak koq sukanya diem terus?”

“Buat apa marah, Tante? Aku lebih suka anteng.”

“Ya, agar orang tahu sikapmu, agar tidak diremehkan orang, agar kau bisa mendapatkan yang kau inginkan.”

“Kalau memang takdir, nggak akan ke mana-mana, Te.”

……….

Pembaca yang budiman, jujur saja saya harus mengalah jika berdialog dengan kemenakan saya itu. Banyak argumennya yang menunjukkan kepasrahan dan hatinya tampak mantap karena tidak ada keraguan.

Tapi, sebenarnya saya juga punya argumen ilmiah untuk menyarankan sesekali marah. Meski sering dianggap sebagai emosi negatif, kemarahan juga bisa menjadi motivator kuat bagi orang-orang tertentu untuk mencapai tujuan yang menantang.

Orang-orang percaya bahwa bahagia adalah hal yang ideal. Banyak orang menganggap, mengejar kebahagiaan adalah tujuan hidup yang utama. Emosi positif itu ideal untuk kesehatan dan kesejahteraan mental. Namun, ada penelitian yang menunjukkan bahwa campuran emosi, termasuk emosi negatif kemarahan, ternyata bisa menghasilkan yang terbaik.

Heather Lench PhD, profesor departemen ilmu psikologi dan otak di Texas A&M University Amerika Serikat, menjelaskan bahwa teori emosi fungsionalis menyatakan emosi baik atau buruk adalah reaksi terhadap peristiwa dalam lingkungan seseorang dan berfungsi untuk memperingatkan dia terhadap situasi penting yang memerlukan tindakan. Setiap emosi bisa memerlukan respons berbeda. Misalnya, kesedihan menunjukkan seseorang perlu mencari bantuan atau dukungan emosional, kemarahan menunjukkan seseorang perlu mengambil tindakan untuk mengatasi hambatan.

Maka, untuk memahami peran kemarahan dalam mencapai tujuan, tim penelitinya melakukan serangkaian eksperimen yang melibatkan lebih dari 1.000 peserta dan menganalisis data survei lebih dari 1.400 responden. Dalam setiap percobaan, peneliti memperoleh respons emosional (berupa kemarahan, hiburan, keinginan atau kesedihan) atau keadaan emosi netral. Kemudian peneliti menyajikan tujuan yang menantang kepada peserta.

Dalam suatu percobaan, peserta penelitian diperlihatkan visual yang dirancang untuk memperoleh respons emosional atau netral tertentu dan kemudian diminta memecahkan serangkaian teka-teki. Hasilnya? Dalam seluruh eksperimen, ternyata kemarahan bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. Dalam beberapa kasus, hal ini dikaitkan dengan peningkatan skor atau waktu respons yang lebih singkat.

Para peneliti juga menganalisis data dari serangkaian survei yang dikumpulkan selama pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 dan 2020. Sebelum pemilu, masyarakat diminta menilai seberapa marahnya mereka jika kandidat favoritnya tidak menang. Setelah pemilu, mereka melaporkan apakah memilih dan siapa yang mereka pilih. Peserta survei, yang mengindikasikan mereka akan marah jika kandidat mereka tidak menang, ternyata lebih besar kemungkinannya untuk memilih dalam pemilu. Namun, kemarahan tidak berpengaruh pada kandidat mana yang mereka pilih.

Menurut Lench, temuan ini menunjukkan bahwa kemarahan bisa meningkatkan upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan sering kali menghasilkan kesuksesan lebih besar. Efek kemarahan dalam mendorong orang untuk meraih dan mencapai tujuan adalah spesifik pada situasi di mana tujuannya lebih menantang. Tapi, kemarahan tampaknya tidak ada hubungannya dengan pencapaian tujuan ketika tujuan tersebut lebih mudah. Misalnya; seperti dalam video game lompat ski.

Emosi yang sering dianggap negatif –antara lain; kemarahan, kebosanan atau kesedihan– ternyata bisa bermanfaat. “Orang sering kali lebih suka menggunakan emosi positif dibandingkan emosi negatif. Orang cenderung melihat emosi negatif sebagai hal yang tidak diinginkan dan maladaptif. Tapi, penelitian kami menambah bukti bahwa perpaduan emosi positif dan negatif meningkatkan kesejahteraan. Menggunakan emosi negatif sebagai alat bisa sangat efektif dalam beberapa situasi.”

Facebook Comments

Comments are closed.