mepnews.id – Universitas Andalas melakukan soft launching Program Studi (Prodi) Magister Manajemen Bencana di bawah Sekolah Pascasarjana.
Dikabarkan situs resmi unand.ac.id edisi 26 Oktober 2023, Direktur Sekolah Pascasarjana Prof Dr rer soz Nursyirwan Effendi mengungkapkan, “Universitas Andalas mengembangkan prodi baru bersifat multidisiplin yang memberikan nilai jual bagi pengembangan ilmu khususnya kebermanfaatan bagi masyarakat.”
Sejak 2021, sudah berkumpul tim lintas disiplin ilmu di Universitas Andalas. untuk membentuk Prodi Magister Manajemen Bencana.
“Indonesia berada dalam ring of fire, tetapi masih sangat minim upaya untuk menjadikannya sebagai pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Guru Besar Antropologi ini.
Universitas Andalas menjadi yang kedua di Sumatera setelah Universitas Syiah Kuala (USK) yang punya Prodi Bencana. Menurutnya, USK bagian dari Aceh dengan bencana tsunami 2004, mendorongnya cepat membentuk Prodi ini.
Prof Nursyirwan merasa, Universitas Andalas sudah selayaknya memiliki Prodi ini semenjak diterpa bencana gempa 2009. “Ini juga bagian dari kepedulian secara scientific bagaimana memiliki Prodi ini,” ungkapnya.
Ia bersyukur prodi ini sudah disetujui Senat Akademik Universitas (SAU). Nanti diproses lebih lanjut ke BANPT dan dikeluarkannya SK oleh rektor. “InsyaAllah, kalau tidak ada aral melintang, kami pada semester genap sudah membuka Prodi ini,” sambungnya.
Prodi ini berkaitan dengan berbagai aspek antara lain Teknik Sipil, Teknologi, Kesehatan, Sosial Budaya, Sejarah, Ekonomi, Kesehatan Masyarakat, termasuk Kedokteran. Alasannya, bencana bukan masalah simple, single tetapi multiple dan complex.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansyarullah, mengatakan pemerintah provinsi telah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) tentang bangunan yang ramah terhadap gempa.
Tidak hanya tingkat Provinsi, ia juga mendorong Kabupaten dan Kota untuk segera menerbirkan aturan yang sama guna memitigasi bencana.
Terkait dengan dibukanya Prodi Magister Manajemen Bencana, Gubernur menilai ini menjadi pintu pembuka dalam melahirkan sumberdaya manusia yang mempunyai kualifikasi ilmu terkait kebencanaan.


